
Laras berhasil mendapat ijin dari kedua orang tua Tama untuk berbakti pada suaminya, Tama sudah dibawa pulang kerumah, kamar tamu di rumah mama Arini sudah disulap menjada kamar VVIP ala rumah sakit untuk Tama tempati, dengan berat hati dan berlinangan air mata tentunya Laras menguatkan hatinya untuk meninggalkan pujaan hatinya, Laras bertekat membuat sembuh Tama dengan hasil keringatnya sendiri.
Laras menciumi seluruh wajah suaminya, bahkan leher tangan dan dada Tama pun tak luput dari sasaranya.
Laras menghapus air mata nya menyelimuti tubuh Tama kembali, membisikam kata cinta ditelinga suaminya.
"Suamiku cepatlah sadar, aku rindu padamu suamiku, aku mencintaimu sangat, aku berjanji akan berusaha semampuku untuk membuatmu sembuh, kamu dengar suamiku heem." Laras kembali mengelus rambut suaminya, mencium kening dan pipi Tama berkali kali, papi Bram yang biasa anti nangis juga ikutan meneteskan air matanya, Mami Arini si wanita lemah lembut itu jangan ditanya lagi, mereka berdua sampai tak bisa berkata apapun mereka hanyut dalam alur cinta antara Laras dan Tama.
Laras berkemas ditemani ibu mertuanya, Laras memasukan beberapa potong baju Tama untuk dia bawa, Mama Arini yang melihat itu pun bertanya.
"Ras, kok kamu masukin baju mas mu juga kenapa?" tanya Mami Arini.
"Laras ga bisa bobo kalau ga cium bau mamas mi." hah ada yang seperti itu dasar kalian, mami Arini jadi tersenyum, Laras sudah jadi bucin akut haha.
"Ooo(mami Arini tersenyum lagi, kamu ini Ras Ras ada ada aja) kamu hati hati ya sering sering kabari mami, jaga kesehatan ingat di perutmu ada jabang bayi, kamu mengerti Ras." ucap Mami Arini.
"Mengerti mi, mi tolong kabari Laras terus juga ya mi." pinta Laras.
"Tentu sayangku, pergilah mantapkan hatimu, niatmu mulia anaku mami yakin Tuhan akan bantu kamu melewati masa masa terberatmu." ucapan mami Arini membuat Laras semakin berat melepaskan tambatan hatinya.
Koper koper Laras sudah dimasukan kebagasi mobil yang akan mengantar nya ke bandara, Laras kembali masuk kekamar Tama kembali mencurahkan isi hatinya, kali ini Laras tak begitu menangis tidak seperti tadi, Laras hanya menciumi wajah Tama berkali kali selebihnya mulutnya diam, mami Arini dan papa Bram tau kenapa Laras memilih diam, jika dia mengeluarkan suaranya otomatis Laras tak akan sanggup membenung air matanya.
Dengan air mata yang tersisa ahirnya Laras pun memantapkan hatinya untuk meninggalkan kekasih hatinya, bukan meninggalkan karena tak sayang justru dia teramat sayang pada Tama, dia ingin Tama sembuh dengan cintanya.
Romantis sekali sih kalian batin Mami Arini, dengan berbekal niat tekat doa serta dorongan dari kedua orang tua suaminya ahirnya Laras berhasil memantapkan pilihanya, meskipun sangat berat.
Cinta yang dimiliki Laras bukan lah cinta sederhana, cinta ini begitu rumit dan berbelit berkali kali dia menerima penolakan dari Tama bahkan sampai saat ini Tama pun masih sangsi akan cintanya. Laras benar benar harus memakai habis amunisi kesabaranya.
__ADS_1
Berat memang, apalagi orang yang kita tinggal sedang berbaring lemah tak berdaya, apapun pilihan yang Laras ambil menurutnya ini adalah pilihan yang terbaik.
Pesawat yang membawa Laras kini sudah mendarat dengan selamat dibandara Charles de Gaulle waktu setempat , matanya terasa sangat berat bukan hanya karena kantuk tapi juga selama dipesawat mata itu tak henti hentinya Laras memaksanya untuk memproduksi butiran bening sebagai ungkapan betapa berat beban yang daia rasakan didadanya.
Sahabat Laras menyambutnya dengan senyum kebahagiaan, tapi Laras malah memeluknya dengan isak tangis yang mengharu biru, dia memukul dada sahabatnya hingga sang pemilik dada sedikit terkejut.
"Sttt, gue mengerti bersabarlah semua akan baik baik saja, bukankah lo ninggalin juga demi dia heemm udah hapus air mata lo disini banyak yang memperhatikan kita dikiranya lo gue putusin hehehe." Ryan sahabat Laras berusaha membujuk Laras dengan candaanya.
"Mami ama papi lo mau lo tinggal sama gue aja soalnya sekarang lo kan lagi isi takut lo kenapa napa nanti." ucap Ryan.
"Nanti gue ngrepoti lo, lagian cewek cowok bukan mahrom tinggal satu atap mana boleh." jawab Laras.
"Dih ngarep tinggal satu atap, ya enggak lah kita satu apartemen non bukan serumah tapi tetep seatap juga ya hehehe tempat lo sebelahan ama rumah gue ntar kalau lo butuh apa apa gampang, jaga jaga kalau lo tiba tiba mules ." goda Ryan lagi.
"Tau ah bawel dasar singa." balas Laras.
"Biar singa kalau ganteng gini siapa yang mau nolak." jawab Ryan lagi.
"Ciieee gaya di datengin mantan jual mahal." Laras balik menggoda Ryan.
"Hust, nanti calon bini gue marah." Ryan merangul pundak Laras dan menuntunnya masuk ke mobil.
" Dih, emang lo udah laku pak?" tanya Laras.
" Baru pedekate sih, doain ya." jawab Ryan sambil menutup pintu mobilnya, masuk kedalam mobil dan duduk dikursi kemudi siap mengemudikan mobilnya.
"Serius pak udah move on dari mbak mantan." canda Laras.
__ADS_1
"Insya Allah, ga jodoh mau gimana habis aku nungguin kamu malah kamu pilih laki laki aneh itu." jawab Ryan sedikit jengkel.
"Hahaha, suamiku memang aneh tapi dia cute genteng menggemaskan." jawab Laras seketika air matanya lolos dari pelupuk mata indah itu, mengingat lagi betapa manisnya suaminya sebelum sakit, bilangnya benci tapi nyari, bilangnya ga suka tapi ngejar bilangnya ga mau tapi mendekat kan manusia aneh namanya, Laras tersenyum dalam tangisnya.
"Udah ga usah melo, semangat demi dia oke, oia besok lo langsung ke kantor ketemu bos gue ye doi udah ga sabar pengen ketemu elo." ucap Ryan.
"Oke, tapi gue kagak bisa bahasa sini gimane dong, doi bisakan bahasa jawa?" tanya Laras.
"Lo kate disini Jogja, bahasa jawa gue tempeleng juga ni." Laras tertawa terpingkal pingkal melihat reaksi Ryan yang berlebihan.
"Iye iye, gitu aja sih apa sih yang gue takutin selama ada elo singa tampanku huueeekkk." habis diangkat tinggi dilepar pula tu si singa tampan(Ryan).
"Terus aja Ras, puas puasin lo ngatain gue, gue doain anak lo laki biar lebih ngeselin dari gue." balas Ryan ga mau kalah.
"Sory ya geng anak gue cewek yang pastinya bakalan cantik kayak gue imut kayak bapak nye."Laras selalu mengaitkan tambatan hatinya selama percakapan dengan sahabat terbaiknya.
"Ras gue heran ama laki lo, kok bisa sebegok itu ya." tentu saja Laras ga terima jika ada yang menjelekan Tama.
"Itu karena doi cinta mati ama gue makanya jadi ***** hahaha." Laras berusaha menguatkan hatinya agar terlihat tegar, tapi Ryan ga sebodoh itu dia tau Laras terluka atas kegilaan suaminya yang terlalu posesif padanya.
"Sabar ya Ras, pasti semua akan indah pada waktunya, gue bakalan bantu lo semampu gue oke." Ryan mengelus pundak sahabat baiknya.
"Makasih ya Yan, lo sahabat terbaik gue selain mbak mantan, gue doain kalian bisa balikan." Laras melirik Ryan ingin tau reaksi Ryan akan doanya.
"Dih ogah balikan karo mantan kuwi podo karo mangan jangan wadang ngerti ora (Balikan sama mantan itu ibarat makan sayur kemarin ngerti ga)." jawab Ryan sedikit emosi.
" Alah gayamu, awas kalau naksir lagi tak ketawain kamu, mana Niken sekarang cantik tajir pula hahaha." ledek Laras.
__ADS_1
"Bodo amat." umpat Ryan, Ryan memang pernah disakiti sama Niken karena dia merasa dihianati, Niken telah ketahuan selingkuh dibelakangnya hingga Ryan memutuskanya dan memilih pindah ke Paris ikut bersama keluarganya.
Bersambung...