
Untung Bik Marni sangat berpengalaman dalam menghadapi seorang yang hendak melahirkan karena dikampung dulu majikanya adalah seorang bidan, dia sering diminta membantu ketika ada pasien yang hendak melahirkan.
"Den, non jangan dikasih duduk kita baringkan saja biar ketubannya ga ngalir terus." Tama pun menurut, dia pun memberikan pahanya sebagai bantal untuk Laras.
"Non jangan terlentang miring aja biar pembukaanya cepet non." bik Marni masih memberi arahan Laras pun nurut.
"Sakit bik." ucap Laras sambil meringis menahan sakit.
" Ya non, bibik tau yang sabar ya, non kan kuat non pasti bisa ya." bik Marni terus memberikan dukungan pada Laras agar emosinya tetap stabil, Tama mengelus kepala dan wajah Laras hatinya ikutan merasa sakit seolah ada yang meremasnya, ini adalah pengalaman pertamanya melihat seseorang yang akan melahirkan terlebih dia adalah wanita yang tanpa Tama sadari sangat dicintainya.
"Sabar ya Ras tahan." bisik Tama sambil mengelus wajah Laras lagi, meski mulutnya diam tapi keringat yang terus keluar dari tubuh Laras tak bisa berbohong bahwa sakit ini nyata Laras rasakan, Tama semakin khawatir dia terlihat gugup.
"Mang tolong agak cepat istri ku kesakitan mang." ucap Tama terdengar gemetar.
"Maaf den di depan macet den," jawab mang Tono.
__ADS_1
"Putar balik mang, ntar aku tunjukan jalan nya, tujuan kita Bakti Mulia kan kita lewat jalan pintas aja mang." ucap Tama, mang Tono pun nurut.
"Itu mang ada gang ikuti aja nanti tembusnya di depan rumah sakitnya." Tama rupanya sangat hafal dengan rute didaerah ini, ya iyah lah dia bos properti sering tinjau lokasi.
Laras meremas baju kemeja Tama ketika kontraksi itu datang lagi, sekali lagi bik Marni pun tanggap.
"Yang sakit ini ya non?" tanya bik Marni sambil mengusap usap pinggang Laras, Laras mengangguk karena yang rasanya mau patah memang di area situ.
"Den usap perut non den biar dedeknya tau ayahnya ada disampingnya, sudah nunggu kelahiranya ya kan den." ucapan bik Marni malah membuat hati Laras bertambah sakit karena dia tau suaminya sama sekali tak menginginkan ini, Tama menuruti ucapan bik Marni, mata Laras menatap sayu ke arah Tama seolah berkata "Jangan dimasukan ke hati ucapan bik Marni mas, aku ga mau kamu bertambah dilema." , Tak sengaja Tama pun menatapnya dia malah tersenyum manis Laras tak mau ambil pusing mengartikan senyuman itu, kini hanya hati mereka yang bicara, Laras memejamkan matanya lagi, merasakan kembali nikmatnya kontaksi.
Laras dibawa menggunakan stretcher, pandangan itu sangat menyakitkan bagi Tama, entah apa alasanya Tama tak paham( oo dasar ora peka) yang jelas saat ini dia mampu merasakan apa yang Laras rasakan.
Laras dibawa keruangan isolasi khusus untuk calon ibu ya sedang menikmati masa kontraksinya, seorang suster memasang infus ditangan Laras dan menyuntikkan sesuatu disana, bu Dokter yang biasa memeriksa Laras tersenyum memberikan semangat, Laras pun menyambut senyuman itu.
"Ibu Laras hebat pasti bisa oke." ibu Dokter memberikan jempolnya pada Laras, Laras mengangguk pelan tanda menyetujui ucapan dokter, lama lama rasa mules itu semakin sering datang, Tama menyaksikan sendiri betapa Laras sangat menderita sekarang, tak terasa air mata Tama ikutan menetes, Tama menundukkan wajahnya dan mengecup lama kening istrinya, Tama menciumi wajah Laras, Laras mendorong pelan dada Tama seolah menolak perlakuan itu bahkan Laras membenamkan wajahnya dibantal, perlakuanmu tak membuatku lebih baik mas. malah lebih sakit, bukan kah barusan kamu ingin kita pisah lalu kenapa sekarang kamu bertingkah seolah kamu mencintaiku, perduli padaku, ingin rasanya Laras berteriak dan mengusir Tama dari sampingnya, tiba tiba rasa benci menjalar masuk didalam hati Laras, ya sekarang Laras dalam masa kecewa yang sangat berat pada Tama.
__ADS_1
Disamping ranjang Laras juga ada seorang pasien yang merasakan hal yang sama dengan Laras, tapi sayang disana situasinya terlihat berbeda, suaminya lebih perhatian lebih banyak memberikan perhatian dan kasih sayang serta dukungan untuk istri yang tengah berjuang untuk melahirkan buah hati mereka, yang membedakan adalah perlakuan sang suami di sebelah sana terlihat lebih tulus dan tanpa paksaan, mungkin Tama juga tulus hanya yang Laras rasakn berbeda mengingat apa yang barusan Tama inginbkan darinya, sekarang Tama sadar betapa bodohnya dia selama ini, pasti hari hari yang Laras jalani begitu berat, selamansembilan bulan dia mengandung tak sekalipun Tama mendampinginya, mengantarkan petiksa bahkan ketika dia terbaring koma pun Laras masih berjuang untuknya, Tama menyesali perbuatanya sekarang, Tama merutuki dirinya sendiri, akankah kamu memaafkan aku setelah ini Ras, jeritnya dalam hati.
Ahirnya waktu yang dinanti pun tiba, Laras di pindahkan diruang khusus bersalin, dokter mengijinkan Tama mendampingi istrinya berjuang melahirkan buah hatinya, entah kenapa Tama bangga pada dirinya sendiri karena bisa mendampingi Laras ketika melewati masa masa terberatnya.
Tak lama terdengar tangisan bayi, Laras menjatuhkan kepalanya lemas, dia juga tersenyum bahagia begitu pun Tama.
Tama mencium kening istrinya, Laras mendorong dadanya lagi tapi Tama tak perduli dengan penolakan Laras dia malah lebih nekat, meskipun air mata membasahi pipi Tama karena rasa khawatir dan takutnya tapi senyum tetap mengembang diwajahnya.
"Sana." Laras mendorong lagi dan menatap Tama dengan tatapan kebencian.
"Ga aku mau disini sama kamu." bisiknya.
Laras memalingkam mukanya tak perduli dengan keinginan pria aneh disampingnya, Tama paham Laras marah padanya tapi Tama tak perduli karena dia akan berusaha membujuk pujaan hatinya untuk memaafkan nya.
Bersambung....
__ADS_1