
Semakin hari perlakuan Tama ke Laras semakin tidak perduli, bahkan ketika dia mendengar Laras dua hari tidak bekerja karena alasa sakit pun dia cuek, sebenernya hatimu terbuat dari apa sih Tama, gemes aku.
Tama hanya diam ketika asistenya memberi info bahwa istri nya tidak masuk kerja karena sakit.
"Bos, non Laras ga kerja lo, teman nya bilang dia sakit." Izal berharap hati Tama akan sedikit terbuka jika mendengar belahan jiwa nya sakit, tapi sayang Tama tak membalas ucapanya Tama hanya melihat Izal sekilas dan malah membahas pekerjaanya.
"Gimana lo udah dapet ijin belum buat pembangunan pabrik baru kita? "Dih ni orang. saya ajak bahas apa dia malah apa, hati lo kemana bos, geram Izal dalam hatinya, terpaksa Izal mengikuti alur yang bosnya inginkan.
"Belum bos, sepertinya kita salah beli bos, ternyata lahan yang kita beli ada sengketa. " jawab Izal.
"Apa waktu itu Aldo ga cari tau dulu infonya? " Tama sedikit terkejut tapi dia si pria hati batu tetap saja bersikap datar, Ya Tuhan kuatkan aku ngadepin manusia tanpa ekspresi, hufff, marah kek bos, apa gitu, Izal berharap Tama bisa berekspresi sesuai suasana, la ini terkejut ya biasa, yang harusnya dia marah ya
hanya datar datar aja, harusnya khawatir jadi cuek aja, kemana jiwa lo bos, kok aku jadi heran sendiri, Izal malah ga konsen dalam pekerjaaanya, pikiranya sibuk mikirin cara Tama menghadapi masalahnya.
"Sepertinya Aldo salah info, atau mungkin dia dibohongi sama makelarnya bos." jawab Izal.
"Cari makelarnya sampai ketemu. " perintah Tama sambil mengetuk ketukan bolpoin dimeja kerjanya.
__ADS_1
"Baik bos, saya permisi. "Izal menyanggupi dan pamit undur diri.
Tama melanjutkan lagi pekerjaanya, dia sudah bertekat untuk melupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan Laras, dia masih tak terima dengan apa yang Laras lakukan dibelakanganya, dia beranggapan bahwa apa yang Laras lakukan dibelakangnya tak pantas untuk dimaafkan, sekarang Tama lebih memilih menyibukan dirinya untuk bekerja, dia berfikir bahwa nasib ribuan kariawan nya bergantung pada keberhasilanya. untuk masalah pribadi Tama lebih memilih tidak mau memusingkanya, tidak penting batinnya.
Tama sudah kembali menjelma menjadi sosok yang misterius buat siapa saja yang mengenalnya, terlihat dari cara dia menghadapi masalah, ekspresinya sama, membuat orang orang yang berada disekitarnya bingung bagaimana caranya menilai isi hatinya.
....
Laras sendiri saja bingung, sudah sebulan ini Tama mendiamkanya, setiap kali bertemu Tama biasa saja, bersikap seolah tak mengenalnya, padahal Laras sangat merindukan tatapan mesra suaminya seperti malam malam sebelum kejadian itu.
Sudah dua hari ini Laras merasakan panas dingin ditubuhnya, dia merasakan berat dikepalanya, bahkan dia tak bisa mencium wewangian.
"Ada apa denganku, kenapa aku seperti ini, " gumam Laras, dia merasakan lagi mual diperutnya ketika memasuki kamar mandi, dengan kondisi lemas tak bertenaga yang enak menurutnya hanyalah berbaring dan mejamkan mata. Laras hanya menuruti apa yang menurutnya nyaman, malam sudah lewat rupanya. terlihat sinar matahari masuk dari celah celah jendela dikamarnya, tiba tiba Laras terbangun dari tidurnya dan merasakan lapar yang luar biasa, maklum dua hari ini dia hanya tidur tanpa keinginan untuk makan, bahkan dia juga tak mandi karena dia tidak suka bau kamar mandinya, yang menurutnya terlalu wangi.
Dengan langkah gontai Laras menuju dapurnya, siapa tau ada sesuatu yang bisa dia makan, dibukanya kulkas, Laras memilih milih isi kulkasnya, ternyata tak hanya ada beberapa sayuran yang sudah tidak segar lagi hanya ada satu buah jeruk yang menurutnya menarik, mata Laras langsung berbinar, diambilnya jeruk itu dicuci dengan bersih dan mengupasnya, dikupasan pertama Laras tersenyum bau jeruk ini sungguh enak, menenangkan.
Laras memutuskan berbaring di sofa sambil menikmati jeruknya dan menciumi aroma jeruk itu dari kulitnya.
__ADS_1
Laras memeriksa ponselnya yang sudah dua hari ini tak dijamahnya, ternyata banyak sekali pesan yang masuk untuknya.
Laras tersenyum, ketiga sahabatnya sangat mengkawatirkan keadaanya, itu cukup bisa membuatnya tersenyum, seandainya suaminya sehangat sahabat sahabatnya, pasti hidupnya akan lebih bahagia dan berwarna, ah sudahlah Ras, jalani apa yang ada didepan matamu, terima saja, anggap ini konsekuensi yang harus kamu bayar dari kesalahan yang kamu lakukan, toh kamu sudah berusaha minta maaf, sudah memohon meminta kesempatan, lalu apa lagi, mau sampai kapan kamu membiarkan orang orang disekelilingmu mengijak harga dirimu, memandangmu sebelah mata, menyalahkanmu atas kesalahan yang seharusnya masih bisa dimaafkan, Laras menertawakan keadaanya, sudah nasibnya seperti ini mau bagaimana lagi.
Laras beranjak dari tidurnya, tak terasa jeruk yang ada ditanganya habis, kenapa pengen nambah lagi, sebaiknya mandi dan pergi beli.
Laras benar benar tak suka bau kamar mandinya, seketika dia ada ide untuk memakai kamar mandi yang ada dikamar yang sebelumnya Tama tempati.
"Ah, ini baunya lebih enak." Laras tersenyum dan langsung membersihkan dirinya.
selesai memakai pakaianya Laras masuk kedalam ruangan baju milik Tama, disana hanya ada beberapa stel jas dan kemeja milik Tama, Laras mengambil satu jas itu, dia memeluk dan mencium aroma Tama yang masih tertinggal disana.
"Dia memang harum." gumannya, lalu mengembalikan jas itu ketempatnya semula, Laras melihat kaos dan jaket Tama yang dia pakai ketika menyusulnya ke Lombok waktu itu, Laras meraih jaket itu lalu memeluknya, tak terasa air matanya meluncur begitu saja, ternyata dia tak bisa memungkiri bahwa saat ini dia sangat merindukan kehangatan pemilik hatinya.
Laras memakai jaket itu dan merebahkan tubuhnya di ranjang kamar Tama, memeluk bantal yang sering suaminya gunakan, kenapa aku seperti ini, kenapa aku begitu merindukanya, air mata itu semakin deras mengalir hingga bantal Tama menjadi basah karenanya, keinginan untuk makan jeruk hilang entah kemana, nyatanya barang barang milik Tama jauh memberinya ketenangan dibanding aroma jeruk yang barusan dia sukai.
Bersambung...
__ADS_1