
Laras ingin tertawa sebenernya sekarang, melihat dua sahabatnya yang masih menjaga gengsinya masing masing tapi saling curi curi pandang, selesai makan Laras membuka suaranya.
"Yan, kemarin Niken kabarin gue doi mau nikah lo ga cemburu Yan." goda Laras padahal Laras boong.
"Dih mau nikah ya nikah aja, apa hubunganya ama gue sih lo ga usah ngarang deh bebek jelek." jawan Ryan ketus.
"Biasanya kalau mantan happy kita kan agak nyesek gimana gitu Yan." balas Laras.
" Apaan sih lo diem ga." hardik Ryan.
"Iye iye, miss kemarin cowok yang bawa bunga kemari siapa cakep amat miss." gantian ga mampu bakar yang atu yang atu pula jadi sasaran. Muka Ryan langsung memerah, Laras tau Ryan cemburu.
"Oh, itu temen kuliah bos bahan yang biasa kita order Ras." jawab Chintya apa adanya dan santai tapi tidak dengan si singa yang mendengarkanya.
"Kamu terima bunganya?" tanya Ryan langsung to the poin.
"Iya lah namanya dikasih." jawab Chintya. Ryan langsung diam, rahangnya mengeras Laras langsung mengerti dan berpamitan keluar. Chintya jadi ga mengerti.
"Apakah kamu menyukukai pria yang memberimu bunga?" tanya Ryan sambil berjalan mendekati Chintya.
"Kamu kenapa?" Chintya gugup karena Ryan makin mendekatkan tubuhnya.
"Aku tanya kamu suka sama pria yang memberimu bunga." ucap Ryan.
"Suka atau tidak apa hubunganya dengan anda mr Ryan." tantang Chintya.
"Jangan dekat dekat." Chintya mendorong dada Ryan agar tak menghimpitnya. Ryan menatap Chintya tajam, Chintya menangkap api cemburu disana.
"Mr Ryan plis kamu membuatku takut." Ryan menatap Chintya lagi tanpa kata Ryan langsung pergi meninggalkan Chintya dalam keadaan marah.
Chintya memegang dadanya gugup, ada apa denganya aneh.
Kisah cinta antara Chintya dan Ryanbsufah dimulai meski keduanya masih menutupnerat mulutnya.
......
Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan buat Laras, tanpa sengaja dia sekarang menjadi desainer yang terkenal di Prancis meskipun masih bernaung di perusahaan milik teman barunya yaitu Belle fashion, Laras sudah cukup puas karena hasilnya juga tak main main.
Suasana tempat pemotretan sedikit tegang karena model yang mereka dapuk tak dapat hadir karena jatuh dari tangga dan mengalami cedera kaki, alhasil mereka semua pun kalang kabut, disamping itu sang model pria pun tak bisa datang karena ada urusan keluarga, semua kru dibuat stres akan ini, mereka sudah susah payah mengatur jadwal agar tak bentrok dengan yang lain, tapi tidak drngan bumil satu ini dia memiliki ide yang brilian, dia akan membujuk dua sejoli yang yang sedang jatuh cinta tapi super jaim.com.
"Miss mau ga pakai baju rancangan saya?" tanya Laras memancing, padahal saai ini Chintya sedang stres memikirkan model nya yang ga bisa dateng asistenya sudah menghubungi beberapa model yang biasa mereka pakai tapi tak ada satupun yang bisa, jadwal mereka full.
"Ah aku ga biasa bergaya deoan kamera." jawab Chintya alasan.
"Ayolah miss, miss kan cantik pakek banget lagi ini kan demi perusahaan kita juga miss. pliss saya mohon, saya kalau ga hamil juga mau miss, kan ga lucu miss perempuan berperut buncit pakai gaun pengantin ya miss pliss." Laras berusaha membujuk bos nya, Chintya terlihat berfikir.
"Ayolah miss, saya janji nanti kalau miss nikah saya bakal buatin miss gaun yang super cantik mau ga, desainya gratis deh bahanya nanti biar paksu yang bayar." Laras masih melancarkan seranganya.
"Paksu apa itu." duh lali meneh nyong(aduh lupa lagi saya).
"Paksu itu pak suami miss, suami nya miss nanti yang bayar gimana oke ga." Laras makin menjadi.
__ADS_1
"Iya deh demi kamu dan perusahaan apa sih yang enggak." jawab Chintya langsung beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti Laras masuk keruang baju, Laras memintabpada para kru make up untuk membantu Bos mereka bersiap.
"Yes." ucap Laras giliran kira rayu model cowoknya geng, sebelumnya Laras memberi tahu kameramen untuk segera bersiap dia sudah berhasil mendapatkan model pengganti.
Selanjutnya Laras melancarkan aksi keduanya yaitu membujuk singa tampan sahabatnya.
"Hallo." jawab Ryan
"Yan, gue butuh bantuan elo ni, ke studio dong sekarang."
"Emang ada apaan." jawab Ryan.
"Kesinilah beb, singa tampan sahabatku aku butuh batuanmu my honey."
"Dih norak banget sih lo, iye tunggu gue naik." umpat Ryan kesal tapi tetap menuruti keinginan sahabatnya dia langsung memutuskan panggilan telponnya.
"Yes hahaha, otak gue encer juga, selamat kaget semua geng gue narik bos kalian jadi model." gumam Laras, dia udah ga sabar pengen lihat muka para kru ketika harus berhadapan dengan para bos mereka. hahaha lucu kali ya.
Laras tersenyum manja ketika melihat Ryan masuk keruangan studio foto.
"Ada apaan?" tanya Ryan, dengan jurus rayuan mautnya Laras langsung bergelut manja dilengan sahabatnya, ini mesti ada yang ga beres kalau udah manja gini batin Ryan curiga.
"Yan, mau ga bantuin gue jadi model." Pinta Laras masih bergelut manja dilengan Ryan.
"Hah, gila lo mana gue bisa." jawab Ryan.
"Bisa ntar kan diarahin ama kameramenya, ya plis nanti pulang dari sini gue traktir deh makan apa aja ya lo mau plis." Laras masih bermanja manja.
"Ya udah kalau ga mau, gue kasih nomer ponsel lo ke Niken." ancam Laras.
"Jangan macem macem lo ya." Ryan membalas.
"Ayolah abang Ryan yang tampan baik hati pula, aku jamin kamu ga bakalan nyesel bantuin gue, gue yakin lagian yang bakalan lo pakek kan produc lo sendiri honey, ayolah Sweety." Laras mengeluarkan semua kata kata manisnya padahal dalam hatinya Laras ketawa.
"Baiklah awas lo ga trakrir gue makan, anak lo lahir gue ambil denger ga lo." Ryan melangkah masuk ke ruanh ganti pria.
"Ya jangan atuh uncle, nanti daddy marah." jawab Laras masih dalam mode manjanya.
" Udah sono ngapain lo ngikutin gue, katanya suruh ganti."
"Iye lupa, sory." Laras mengelus lengan sahabatnya, Ryan pun masuk keruangan ganti sambil mengerutu kesal.
"Hahahaha, kena kalian." sorak Laras gembira, Laras kembali ke ruang make up dimana Chintya didandani ala ratu semalam dengan mengenakan gaun rancanganya.
"Wow miss anda cantik sekali."puji Laras.
"Ah kamu bisa aja." jawab Chintya malu malu, Chintya pun berdiri para kru membantu Chintya membetulkan gaunya, dia memang sangat cantik.
Para kru benar benar tak menyangka jika yang jadi model hari ini adalah bos mereka, mereka malah yang terlihat gugup bukan sang model.
"Ayo kita mulai." Chintya memberi intruksi, Laras hanya tersenyum melihat reaksi mereka, tak sedikit dari mereka yamg berbisik pada Laras, mereka mengacungkan jempol pada Laras karena mampu menarik big bos mereka untuk berpartisipasi.
__ADS_1
Beberapa pose sudah Chintya jalankan sesuai arahan kameramen, kini saatnya sang model pria keluar untuk mendampingi model wanita, betapa terkejutnya mereka, Ryan tak habis pikir begitu pun Chintya.
"Ras, gila lo ya." umpat Ryan sambil berbisik.
"Ingat kesepakatan kita, jangan bikin mereka curiga kalau sebenernya kalian ada rasa." Laras berhasil meredam emosi si singa sahabatnya.
Nasi sudah menjadi bubur Ryan dan Chintya tak ada pilihan lain selain melanjutkan pemotretan ini, Ryan mendekati Chintya dengan perasaan sedikit gugup, banyak yang memuji kecantikan dan ketampanan dua model baru mereka, tak jarang juga yang mengatakan bahwa mereka serasi.
Ryan dan Cintya tetap mengikuti arahan Kameramen disana, Laras ingin tertawa melihatnya, tapi dia selalu mencoba santai.
Disela sela pemotretan tak jarang Ryan curi curi pandang pada wanita yang ingin selalu dia dekapnya, tapi kini tanpa sengaja dia bisa mendekapnya walau dalam ranah profesionalis kerja.
"Capek ga." bisik Ryan disela sela pemotretan.
"Sedikit." jawan Chintya.
"Aku minta mereka berhenti dulu ya." ucap Ryan.
"Jangan kasihan mereka aku bisa tahan kok." jawab Chintya.
"Oke, ntar kalau capek bilang ya."
"Iya." bisik Chintya, Kali ini Laras ga salah, mereka benar benar sudah ada cemistry mereka terlihat seperti sepasang pengantin yang lagi melakukan sesi foto prewed.
Terdengar tepukan riuh para kru pertanda pemotretan sudah selesai, Chintya duduk dikursi yang biasanya dipakai para model istirahat, dia ingin membuka sepatu high heels nya dan dengan cekatan Ryan membantu Chintya membukanya, untung tak ada yang memperhatikanya hanya mata Laras yang terlihat jeli, kena kalian batin Laras.
"Apa sakit?" tanya Ryan.
"Enggak." Ryan membuka jas nya memberikan pada Chintya untuk menutupi area dadanya.
"Pakai ini aku ga mau semua orang lihat langsung dadamu." Bung ini Paris bukan indo dih aneh.
"La kan tadi difoto foto." jawab Chintya.
"Ga papa kan cuma aku yang lihat dekat dekat, yang lain ga boleh." jawab Ryan duh posesifnya si akang.
"Kenapa?" tanya Chintya.
"Karena kamu miliku." jawab Ryan langsung.
"Sejak kapan, dih ngawur." jawab Chintya.
"Kalau kamu bilang iya malam ini juga aku akan minta kamu ke om Hans buat halalin kamu." jawab Ryan mantap, Chintya hanya tersenyum.
"Udah ah kamu makin ngawur." Chintya berdiri.
"Mau kemana?" tanya Ryan.
"Ganti baju lah, udah selesai kan ambil gambarnya." jawab Chintya.
" He em tunggu sini aku bantu." pinta Ryan, dia pun membantu membawa gaun pengantin super panjang itu dan mengantarkan Kekasih hatinya kedalam ruangan ganti wanita, selanjutnya dia kembali ke ruang ganti pria untuk menukar pakaianya.
__ADS_1
Bersambung...