PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Kebahagiaan Ini Milik Kita


__ADS_3

Laras menatap lekat ke arah suaminya yang masih terlelap sambil memeluk putri kecilnya, Zia juga sepertinya sangat suka berada dipelukan daddy nya mereka terlihat sangat menggemaskan bagi Laras, Laras tak menyangka dia akan merasakan ini diusia yang masih terbilang muda dia sudah dikaruniai tiga anak dari pria yang sangat mencintainya.


Tama mulai membuka matanya, dilihatnya putri kecil nya yang masih terlelap dipelukanya berkali kali dia menciumi pipi gembil gadis cilik ini sesekali dia colek hidung kecil Zia.


"Dasar mami kecil." umpat Tama pada putri kecilnya


"Daddy kali." saut Laras, saat itu juga Tama menatap kearah istrinya dan memberikan senyum termanisnya.


"Morning mami." sapa Tama dan berjalan kearah istrinya.


"Morning juga suamiku." Tama pun memberikan kecupan sekilas dikening istrinya.


"Kapan dia datang dad?" tanya Laras.


"Semalam mi, dia cariin daddy nya yang ganteng ini." kebiasaan Tama narsisnya selalu di bawa ke mana mana.


"Heemmm daddy kumat." ucap Laras, Mereka kembali saling menatap kebahagiaan terpancar dimata keduanya.


"Aku mencintaimu istriku, anak kita tiga mami." ucap Tama, Tama memang pria yang manis tapi sayang susah mengekpresikan perasaan nya, marah ya cuma gitu seneng apa lagi.


"Mami juga daddy, mami juga ga nyangka kita akan bertahan sampai sini, padahal mami pikir daddy bakalan ninggalin mami sama Zia beneran." ucap Laras sambil memainkan kancing kemeja Tama.


" Ga akan pernah sayang, bahkan aku pernah gila karena kehilanganmu kalian adalah hidupku, mami mau maem apa biar daddy beliin, barang kali minum." tawar Tama.


"Minum aja dad, mami haus." jawab Laras, Tama pun memberikan istrinya minum, Laras menerima air yang suaminya berikan dengan senang hati.


"Makasih daddy." ucap Laras.


"Sama sama istriku." ucap Tama.


"Daddy kenapa diam?" tanya Laras.


"Daddy bahagia mi, daddy ga tau gimana caranya ngungkapin kebahagiaan ini." ucap Tama.


"Daddy ini lo ya kalau bahagia itu ya senyum daddy, emang mau ngapain, coba senyum." goda Laras, Laras memang sangat paham dengan pria es disebelahnya, anak udah tiga tingkah masih sama aja.


"Dad kok sampai sekarang daddy belum kasih tau nama baby kita ya?" tanya Laras penasaran, Selama ini Tama memang selalu menjawab rahasia rahasia jika Laras tanya.


"Kenzio putra Demitri dan Kenzoi putra Demitri mami suka ga, Zia Zio Zoi gimana mi?" ucap Tama meminta pendapat istri tercintanya, bagaimanapun Laras adalah ibu dari anak anak nya.


"Lucu nya dad, dapet ide dari mana itu?" tanya Laras.


"Mami ini, jangan meragukan kecerdasan daddy napa." ucap Tama.


"Tama putra Demitri si pria es yang galaknya minta ampun," goda Laras.


"Emmmm (Tama ngecup gemas bibir manis istrinya.) tapi kamu suka kan?" balas Tama.


"Suka, daddy menggemaskan kalau jinak gini." tambah Laras.


"Dasar masak daddy dikatain jinak emang daddy cowok apaan." balas Tama, dia pun kembali memangut bibir istrinya, Laras merapikan rambut suaminya meskipun anak mereka sudah tiga tapi itu sama sekali tidak menyurutkan cintanya untuk pria pertama yan mengisi hatinya.


"Dad, sehat terus ya." bisik Laras.


"Iya istriku aku juga ingin selalu menjaga kalian." jawab Tama.


"Mami punya tiga pria tampan sekarang." ucap Laras masih bermanja manja dengan suaminya, Tama hanya tersenyum.


"Dad."


"Heem."


"Daddy ga minta nambah anak kan habis ini?" tanya Laras.


"Daddy masih tampan mami boleh lah tambah dua lagi." goda Tama.


"Dih daddy mau nya, terus mami di oprasi lagi gini." balas Laras.


"Ya ga papa mi kan mami dapet surga." Tama tak mau kalah rupanya.


"Biar rumah kita rame mami, kita pindah ya habis ini jangan dirumah oma opa lagi." pinta Tama.


"Mau pindah kemana dad, di Tanggerang lagi?" tanya Laras.


"Senanyan aja deket opa Robin," Tama memberikan usulnya.


"Emang udah selesai dad renov nya?" tanya Laras.


"Udah mi, udah lengkap juga isinya daddy bilang sama papa mau isi in sendiri eh sama mama Rika malah minta papa isi in sekalian." jawab Tama.

__ADS_1


"Dad, bingung ya mau manggil mama Rika hehehe." goda Laras.


"Iya mi hehehe, lucu ya hubungan kita harusnya daddy panggil mama Rika tante kan ya, berhubung papa Robin nikah sama beliau jadi manggilnya mama sekarang hehehe." ucap Tama.


"Opa Robin udah dikabarin belum dad Zio Zoi udah lahir?" tanya Laras.


"Udah mi semalam, tapi papa lagi diBelgia paling mama aja ntar yang dateng sama Samuel." jawab Tama.


"Dad Samuel itu iparmu apa sepupumu hayo?" goda Laras.


"Hahaha mami terus aja." Tama mulai malu malu.


"Daddy peluk." pinta Laras, Tama pun menuruti keinginan istrinya.


"Daddy mandi dulu ya sayang keburu pacar daddy bangun (Zia) belum lagi ntar saingan daddy kesini (Zio Zoi) daddy mau harum dan bersih kalau deket mereka." ucap Tama, Laras tersenyum dan melepaskan pelukan suaminya agar Tama bisa mandi.


****


Apartemen Sharon dan Aldo...


Aldo merasakan sakit kepala hebat sejak pulang mengantar Laras kerumah sakit, beberapa hari yang lalu dia juga merasakan hal seperti ini tapi tak se ektrim ini, bahkan saat pulang dari gedung pernikahan Izal dan Niken, Sharon lah yang membawa mobilnya, ditambah sekarang dia malah buang buang air disertai muntah hingga tubuhnya terasa sangat lemah.


"Kita kedokter ya sayang." ajak Sharon sambil memijat kening suaminya yang berbaring dipangkuan nya.


"Ga mau queen nanti aku disuntik." jawab Aldo.


"Enggak lo nanti kita minta diperiksa aja, atau ga minta obat aja biar kamu ga lemes gini." rayu Sharon lagi.


"Ga mau queen aku cium obat aja rasanya tambah mual." Aldo masih saja mau menghindar.


"Lalu gimana kamu lemes gini, Dokter Vano aja ya suruh kesini." pinta Sharon lagi.


"Boleh deh." ahirnya Aldo pun menurut, Sharon mengambil ponselnya dan segera menghubungi dokter keluarga Demitri.


Satu jam kemudian..


"Masuk Dok." sapa Sharon sambil membukakan pintu untuk dokter pribadi keluarga mereka.


"Makasih Shar, mana pria gila itu." tanya Dokter Vano, Vano memang teman dekat Aldo dan Izal mereka satu tim di club futsal sayang nya hanya dia yang masih bujang.


"Ada dikamar dokter masuk aja." suruh Sharon sambil tersenyum, Sharon memang sudah akrab dengan beberapa teman suaminya.


"Kenape lo bro?" sapa dokter Vano.


"Tau ni sakit bener kepala, bawaanya mau muntah terus gue." jawab Aldo.


"Kebanyakan nembak lo ya ampek lemes gini." goda Dokter Vano.


"Anj*r diem lo, temen sakit bukanya diobatin malah dibully." umpat Aldo.


Dokter Vano langsung mengeluarkan peralatanya dari dalam tas nya, memeriksa tekanan darah sahabatnya juga, menurutnya sahabatnya ini aman aman aja, sehat sehat saja.


"Lo kagak kenape nape ah, boong lo ya." ucap Dokter Vano.


"Kalau gue baik baik aja ngapain gue manggil elo kampr*t ngabisin duit gue aja lo." umpat Aldo kesal.


"Seriusan gue, lo kagak kenape nape **** ah, ni lo denger sendiri (Vano memberikan stetoskopnya pada Aldo supaya mendengarkan sendiri kondisi tubuhnya) perut lo aman kan, itu suara laper doang." ucap Vano, Aldo pun mendengarkan dengan seksama.


"Lo bener banget, gue kagak kenapa napa yak, lalu kenape gue pusing bener yak mana mual gue lihat nasi." jawab Aldo, seketika dokter Vano tertawa.


"Nape lo ketawa kampret." umpat Aldo kesal.


"Kayaknya yang butuh gue periksa bulan elo ****, tapi bini elo." jawab dokter Vano.


"Bini gue, maksud lo apaan dia baik baik aja kagak kenape nape." Aldo semakin bingung dengan apa yang sahabatnya katakan.


"Makanya kalau mau jadi dokter jangan setengah setengah ngabisin duit bokap lo aja mubazir kan ilmu lo." umpat Vano.


"Habis mau gimana geli gue lihat mayat." balas Aldo, Vano kembali tertawa ketika mengingat masa masa kuliah mereka, Aldo memutuskan keluar dari fakultas kedokteranya karena dia tak sanggup melihat berbagai bentuk mayat yang akan mereka gunakan untuk praktikum saat itu.


"Dasar Dokter gagal." ledek Vano lagi.


"Diem lo kampret, kedengeran bini gue habis ntar gue, udah ah pulang sono gue ga papa kan ga perlu minum obat kan." ucap Aldo.


"Suntik aja ya." goda dokter Vano.


"Jangan macem macem lo." Aldo sudah mengambil ancang ancang untuk menghindar, Aldo sangat cocok diberi predikat dokter yang gagal, disamping dia takut mayat dia juga paling takut disuntik.


"Hahaha dasar pria aneh lo ****, gue kagak bakalan pergi kalau belum periksa bini elo." Dokter Vano masih kekeh ingin memeriksa Sharon.

__ADS_1


"Dibilang bini gue kagak ape ape." ucap Aldo sambil mendorong pelan Vano agar meninggalkan kamarnya, bersamaan dengan itu Sharon pun masuk, Mereka berdua pun seketika diam.


"Ada apaan, kenapa kalian saling dorong?" tanya Sharon penasaran.


"Kagak ada ape ape queen, aku cuma mau si kampret sialan ini cepet balik." jawab Aldo.


"Emang udah periksanya, dia kenapa dok?" tanya Sharon.


"Aku ga papa queen ini udah sembuh habis ketemu dia." jawab Aldo, sebenernya dia modus dia hanya ga mau Vano memberikan resep obat padanya.


"Apa itu bener dok dia ga papa?" tanya Sharon lagi meyakinkan apa yang suaminya katakan.


"Dia emang ga papa Shar, lo tenang aja tapi boleh ga gue periksa elo?" tanya dokter Vano meminta persetujuan Sharon, Sharon dan Aldo saling menatap bingung


"Tapi kan aku ga kenapa napa dok." ucap Sharon bertambah bingung.


"Gue tau Shar gue hanya penasaran aja." desak Dokter Vano.


"Jangan modusin bini gue lo ya, udah sono pulang." dorong Aldo lagi.


"Gimana gue mau modusin ada elo **** mana gue berani sih ah, ya Shar mau ya gue periksa lo ga mau kan gue mati pemasaran Shar." rayu Vano dia tampak lucu sekali dengan senyuman yang menjengkalkan buat Aldo.


"I..i.. iya deh." dengan berat hati ahirnya Sharon mau diperiksa oleh sahabat suaminya.


"Dimana?" tanya Sharon.


"Disofa aja." pinta Dokter Vano, Saron pun berbaring di sofa kamarnya, Vano mengambil kursi kecil disebelah ranjang Aldo dan membawanya mendekatini Sharon.


Vano kembali memakai stetoskopnya, memeriksa denyut nadi Sharon sambil menatap Aldo, dia pun tersenyum karena apa yang dia perkirakan bener.


"Shar lo keberatan ga kalau gue periksa perut elo?" tanya Vano, Sharon menatap kearah suaminya Aldo pun mengangguk tanda mengizinkan.


"I..iya deh." jawab Sharon kembali ragu.


Vano pun memeriksa perut Sharon, beberapa kali benda dingin itu dia tempelkan dipetut Sharon, dokter Vano kembali tersenyum.


"**** sini lo rasain sendiri." suruh Vano, Aldo pun menuruti perintah sahabatnya, dia pun merasakan ada sesuatu di daerah perut istrinya yang dia pegang, Aldo pun tersenyum.


"Hah lo tau kan **** maksud gue." ucap Vano.


"Seriusan ini bro?" tanya Aldo masih belum yakin, Sharon masih memperhatikan tingkah kedua pria aneh itu.


"Ya lo dengerin sendiri aja." Vano memberikan stetoskopnya agar Aldo yakin.


Aldo kembali tertawa saat mendengarkan sesuatu dari dalam perut istrinya.


"Bro sumpah ini gila." ucap Aldo dia terlihat sangat bahagian.


"Makanya punya ilmu dipakek." goda Vano lagi.


"Diem kagak lo, gue kutuk jadi kodok juga lo." umpat Aldo masih asik dengan stetoskop nya, Vano tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang asik mendengarkan detak jantung anak yang ada diperut istrinya.


"Udah, gue minta royalti ntar lo pakek lama lama senjata gue." ucap Vano, dia sangat tau jika Sharon malu padanya, Sharon pun kembali merapikan kaosnya meski dia masih bingung dengan apa yang terjadi padanya serta apa yang sedang dibicarakan dua pria aneh didepan nya.


"Kira kira usia dia berapa ya bro, jelas banget detak jantung nya?" tanya Aldo, Sharon semakin bingung tapi dia mulai memahami apa yang suami dan sahabat nya bicarakan.


"Ya elo tanya aja ama bini elo, kagak lupa kan cara ngitung?" Dokter Vano mulai berani terang terangan menghabisi Aldo.


"Anj*r brengsek lo sumpah, kampret terus aja lo buka rahasia gue depan bini gue." umpat Aldo lagi.


"Hahahaha." dokter Vano kembali menertawakan sahabatnya, Aldo mulai bisa menerima ejekan Vano karena kabar yang dibawa Vano sungguh membahagiakan buatnya.


"Salaman dulu dong." ucap Vano sambil mengulurkan tanganya dan memeluk sahabatnya.


"Selamat ya bro ahirnya berhasil juga." ucap Vano.


"Makasih bro sumpah gue seneng banget. gue juga doain elo semoga cepet dapet pasangan." balas Aldo.


"Amin makasih." ucap Vano sambil melepaskan pelukan Aldo dan mengulurkan tanganya pada Sharon, dengan ragu Sharin pun menyambut uluran tangan itu.


"Shar selamat ya lo mau jadi ibu." ucap Vano, seketika senyum mengembang di kedua bibir Sharon diiringi dengan mata berkaca kaca dan bibir yang bergetar.


"Serius dok?" tanya Sharon memastikan.


"Insya Allah, bahkan dokter gagal ini pun (Vano menunjuk ke arah Aldo,) sudah memastikan untuk lebih tepatnya sebaiknya lo periksa ke dokter kandungan ya." ucap Vano.


"Baik dokter makasih ya." meski bingung dengan apa yang Vano katakan tentang suaminya, Sharon belum bisa bertanya karena kabar yang dia terima saat ini sungguh sangat membuatnya bahagia, kabar yang dia nantikan sejak lama.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2