
Keluarga Laras sudah lengkap dengan kehadiran tiga buah hati nya bersama Tama, kesalahpahaman selalu bisa mereka selesaikan sekarang, Tama sudah tak sekolot dulu dia sudah pandai memaafkan dan mencerna keadaan agar tak selalu terjadi kesalah pahaman diantara hubungan mereka.
Siang itu Zia merengek ingin ikut daddy nya ke kantor, Zia makin pintar merayu daddy nya.
"Daddy kakak itut daddy ya." pinta Zia sambil bergelut manja dipangkuan Tama yang sedang asik membalas chat klien klien nya.
"Boleh asal kakak ga nakal tetep jadi anak manis." jawab Tama.
"Kakak promise daddy." ucap Zia sambil memberikan dua jarinya pada daddy nya, Laras yang melihat tingkah kedua orang yang dicintainya itu hanya tersenyum.
"Emang ga ada rapat dad?" tanya Laras.
"Gampang itu ada Aldo." jawab Tama, Tama tak pernah menolak keinginan buah hatinya, kecuali kalau ada klien yang penting atau ada pertemuan pertemuan yang membutuhkan konsentrasi tinggi, jika tidak dia akan membawa Zia kemanapun dia pergi, Laras kadang khawatir tapi dia percaya pada suaminya bahwa Tama bisa menjaga putri mereka dengan baik, bahkan sering nya Zia tertidur jika ikut dengan nya, dan dengan sabar Tama menjaga buah hati mereka.
"Dad, ga kebayang nanti kalau putrimu dewasa, kira kira bakal nempel daddy terus ga ya?" tanya Laras sambil ngebayangin jika Zia dewasa.
"Ga papa mami, daddy siap kok ditempelin ama mereka bertiga sampai dia merit juga boleh asal dia ga malu, Zia ini mi yang nantinya bakalan bawa daddy ke surga." ucap Tama, Tama memang bukan orang yang religius banget tapi dia mengerti dan paham bagaimana agamanya mengajarkanya untuk selalu istiqomah.
"Amin daddy, mami kok jadi iri sama Zia, kayak nya sekarang daddy lebih cinta sama Zia dibanding mami, kemana mana Zia ikut mami dirumah ama si ribet yang menggemaskan iki dublikat daddy heemm kalian menggemaskan seperti daddy ha. gemes mami tau lah." ucap Laras sambil menciumi Zio dan Zoi yang ada dipangkuan nya.
Tama hanya tersenyum melihat tingkah istrinya, Zia tak bergerak dia masih asik dipangkuan daddy nya sambil menikmati susu yang ada dibotolnya.
"Mi, ni si kakak bobo ya?" tanya Tama.
"He em dad, dia bobo." jawab Laras tertawa.
"Lah katanya mau ikut daddy." ucap Tama.
"Biar aja dad bentar lagi dia makan siang, daddy mau jalan sekarang apa makan dulu?" tanya Laras.
"Makan dulu deh mi, daddy cuma cek lokasi doang hari ini yang lain udah di handle sama Aldo sama Izal juga." jawab Tama.
"Baiklah ayo mami siapin." ucap Laras.
"Daddy bukan mau makan nasi mami." ucap Tama.
"Lalu?" tanya Laras bingung.
Tama menggendong Zia dan membawa nya kekamar milik Zia, kemudian dia kembali dengan wajah semringah nya. Tama meminta baby Zio yang ada di gendongan Laras.
"Mau ngapain daddy?" tanya Laras.
"Dia udah bobo mami masak ya digendong terus, diboboin lah." jawab Tama sambil membaringkan Zio sedangkan Zoi sudah terlelah dari tadi, Tama melepas kancing kemejanya dan mendekati Laras.
"Dad, daddy mau ngapain?" tanya Laras, Tama hanya tersenyum nakal dan meraih pinggang istrinya.
"Dad, mami tanya daddy mau ngapain?" tanya Laras, Tama tak menjawab pertanyaan Laras dengan suaranya dia lebih menjawab dengan perbuatan nakalnya.
"Dad ini siang dad, Ya Tuhan." bisik Laras sambil melawan agar dia tak ikutan terangsang oleh sentuhan sentuhan suaminya.
"Daddy ga mau tau, mau malam mau sing orang daddy ingin." jawab Tama melanjutkan lagi apa yang dia sudah mulai.
Laras tersenyum dengan apa yang suaminya ingin kan, dia sudah kembali kesifat semaunya sendiri, ah apa aja lah dad, marilah jika daddy mau mami bisa apa toh mami milik daddy seutuhnya batin Laras, bunga cinta kembali bermekaran diantara Laras dan Tama, Tama sudah memulai nya Laras tak ada pilihan lain selain menerimanya, dengan keiklasan hatinya Laras melayani apa yang suaminya ingin kan.
.....
Empat bulan sejak menikah dengan Niken, Izal semakin perhatian dengan istri cantiknya bahkan dia tak segan mengantar dan menjemput istri tercintanya, mereka benar benar pacaran secara halal.
__ADS_1
Malam itu entah kenapa Niken ingin sekali makan bakso yang biasa dia makan bersama sahabat sahabatnya, jarak antara kedai bakso dan apartemen mereka sangat jauh tapi demi kebahagiaan pemilik hatinya Izal rela berkendara dari Jakarta utara ke Jakarta selatan, itung itung ngedate batin Izal.
"Ak, aak capek ga sini Niken yang nyetir?" tanya Niken.
"Enggak sayang, santai aja." jawab Izal.
"Ak, istrinya si Al udah isi jadi pengen." ucap Niken bersemangat.
"Iya, kita rajin bikin aja yank ama doa." jawab Izal.
"Dih si Aak mulai ngeres." ucap Niken sambil menyembunyikan senyum nya.
"Habis enak." ucap Izal terus terang.
"Enak ya ak?" tanya Niken, tak sia sia dia rajin minum jamu.
"Enak lah haha." Izal tertawa karena dia merasa lucu sendiri dengan percakapan fulgar mereka.
"Belok kiri ak." ucap Niken menunjukan arah dimana kedai bakso yang istrinya ingin kan.
"Oke." ucap Izal
"Ak, nanti ada Livia ya, Niken janjian ama dia dia mau kasih laporan toko kita." ucap Niken.
"Ga masalah istriku, kamu boleh ketemu siapa aja asal jangan mantan." jawab Izal.
"Mantan, mantan siapa." Niken memanyunkan bibirnya.
"Mau dong yang dimanyunin tu." goda Izal.
"Apaan?" Niken belum paham dengan apa yang suaminya maksud.
"Dih mulai si Aak." Niken memilih tak menghiraukan suami omesnya.
Sepuluh menit kemudian mereka pun sampai dikedai bakso yang Niken inginkan, pandangan Niken menangkap seseorang yang pernah dia lihat.
"Ak, itu temen kamu kan?" tanya Niken.
"Mana?"
"Itu yang lagi ngobrol sama di depan mobil putih itu." ucap Niken sambil menunjuk seseorang yang dia maksud.
"Oia dia kawan aak yank, aak samperin ya kamu ga papa kan masuk dulu lagian kasihan Via nungguin." ucap Izal.
"Oke jangan lama lama ya ak." ucap Niken.
"Oke sayangku." jawab Izal, setelah melihat istrinya masuk kedalam kedai Izal pun berjalan mendekati sahabatnya.
"Van." sapa Izal, Seseorang yang disapa Izal pun menoleh ke arah nya.
"Hay Brother." sapa dia balik.
"Ada perlu apaan lo dimari?" tanya Izal.
"Ada oprasi mendadak tadi, lo ngapain juga dimari?" tanya Vano.
"Nurutin bini mau makan bakso disitu, lo udah makan belum bareng yuk?" ajak Izal.
__ADS_1
"Boleh deh, laper juga gue." ucap Vano, ahirnya mereka pun berjalan dan masuk kedalam kedai yang dimaksud Izal.
"Hay yank, ini sahabat Aak." ucap Izal.
"Hay mbak." sapa Vano.
"Hay juga." balas Niken.
"Udah selesai laporanya yank mana Via?" tanya Izal.
"Udah ak, ini berkas nya Via lagi ketoilet." jawab Niken, tak lama gadis yang dimaksud Niken pun dateng.
"Maaf kak lama, ngatri ternyata hay bang apa kabar?" sapa Livia pada Izal sambil mengulurkan tangan nya pada Izal.
"Kita baik Vi, oia kenalin ini sahabat abang Vano, Van kenalin ini adek sepupu istri gue namanya Livia." ucap Izal sambil mengenalkan Livia pada Vano, mereka pun berkenalan.
"Via."
"Vano."
Vano sesekali melirik gadis manis yang mirip dengan istri sahabatnya, Izal bisa menangkap kegugupan diantara keduanya.
"Udah pesen makan tadi yank?" tanya Izal.
"Udah ak." jawab Niken, sambil makan mereka pun bercanda gurau bahkan Aldo tak luput dari pembicaraan mereka, tak terasa hari semakin malam mereka pun memutuskan untuk berpisah.
"Vi lo tadi bawa motor apa naik taksi?" tanya Izal.
"Tadi numpang temen bang." jawab Via.
"Oo, ya udah abang anter." ucap Izal.
"Ga usah bang Via naik angkot aja kan deket." tolak Via.
"Jangan ini udah malem kamu cewek." ucap Izal.
"Emang rumah dia dimana?" uhui mamas Vano yang udah ada rasa.
"Dia di Pondok Labu Van." jawab Izal.
"Ikut gue aja, gue kan juga di Pondok Labu." jawab Vano.
"Lah iya ya, lo udah pindah dimari lupa gue pantesan kita jarang ketemu." ucap Izal sambil memukul lengan sahabatnya.
"Ga usah bang." Via menolak dia merasa sedikit takut dengan Vano yang memiliki tubuh yang terbilang bongsor.
"Ga papa Vi, dia sahabat abang dia ga bakalan ngapa ngain kamu, badan jangan gede gede napa Van, adek gue takut tu." ucap Izal.
"Ah elo, emang badan begini gue minta aneh aneh aja lo ." ucap Vano geram, tapi dalam hatinya Vano berharap Via mau ikut dengan nya, tapi sayang Via kekeh ga mau ikut Vano dia memilih Izal dan Niken yang mengantarnya.
"Makasih ya bang, kak." ucap Via bersiap siap turun dari mobil Izal.
"Oke Vi, hati hati ya." jawab Niken.
"Siap kak," jawab Via kemudian dia pun masuk kedalam rumah nya, Niken dan Izal juga melanjutkan perjalanan nya.
Tinggalah sekarang Vano yang merasa jiwanya terusik oleh sosok yang mirip dengan istri sahabatnya siapa lagi kalau buka Livia sepupu Niken. semoga jodoh ya bang.
__ADS_1
Bersambung...