
Laras dan Tama semalam telah terbuka dengan perasaan masing masing, sekarang Tama sudah mantap dengan pilihan hatinya, dalam pikiran nya Tama sudah berjanji akan menjaga Laras dengan segenap jiwa dan raganya, membebaskan pikiran buruknya tentang istri tercintanya, Laras sudah menjadi candunya sekarang bahkan dia rela melakukan apapun untuk melindungi istri yang sangat dicintainya.
"Ras." Tama beranjak dari ranjang Laras dan memeluk istri Laras yang masih belum menggunakan baju bagian atas nya.
"Ya kenapa mas?" tanya Laras, Tama sangat nakal kali ini dia menciumi punggung telanjang Laras membuat geli.
Laras mengambil baju kemejanya dan memakainya, Tama pun membantu istrinya memakai itu.
"Masih sakit ga?" tanya Tama.
"Apanya?"
"Itunya?"
"Ya masih lah mas, jaitanya kan masih basah, belum lagi rasa mulesnya juga masih berasa. gitu aja situ tega ngajakin pisah pas banget lagi Laras lagi kontraksi sakitnya jadi berasa dobel mas." ucap Laras memelas.
"Maaf kan suamimu yang bodoh ini sayang, mas berjanji akan menjaga dan membahagiakanmu hingga nafas terahirku, aku akan memebus semua rasa sakitmu yang aku berikan dengan kebahagiaan semampuku." ucap Tama sambil menaruh dagunya di pundak Laras, Laras pun mengelus pipi suaminya.
"Mas kok udah harum?" tanya Laras.
"Pas mau shubuh tadi mas mandi kan." jawab Tama.
"Pantesan mamas harum." bisik Laras.
"Kamu suka ya sama mamas ha?" tanya Tama.
"Sedikit." jawab Laras sambil melepas pelukan Tama dan merapikan skincare nya yang barusan dia pakai.
"Sayang, kamu belum boleh pulang lo hari ini dokter belum ijinin soalnya kemarin kamu pendarahan dan pingsan kan." ucap Tama sambil memeriksa ponselnya.
"Terus kapan Laras boleh pulang mas?" tanya Laras sambil mendekati suaminya yang duduk disofa.
"Kalau kamu sudah ga sakit lagi sayang. apakah mereka kemarin memukulmu?" tanya Tama, Laras menggeleng.
"Pangku." pinta Laras, tumben manja batin Tama.
"Sini." Tama membetulkan posisi duduknya dan menerima tubuh istri mungilnya dipangkuanya.
"Sekarang Laras udah berat belum?"tanya Laras.
"Berat apaan, orang hamil cuma perutnya doang yang gede, sekarang udah Lahir ya udah balik lagi kurus kecil gini." jawab Tama sambil mencolek hidung istrinya, kalian Sweet sekali sih.
"Mas."
__ADS_1
"Hem."
"Mas hati hati ya lawan kita bukan orang biasa, mereka raja tega mas." ucap Laras sambil mentap sendu kearah suaminya.
"Dari mana kamu tau itu sayang?" tanya Tama, tentu saja dia terkejut.
"Laras tak sebodoh yang mamas kira, bahkan isi hati mas saat ini juga Laras tau." balas Laras.
"Emang apa isi hati mas sekarang?" tanya Tama.
"Mas sedang ingin kan, mau ngulang yang tadi malem hemm bener kan." Tama tersenyum dan menarik wajah Laras serta mengecup bibi pink Laras dengan gemas.
"Jangan godain mas sayang, ini masih pagi mas mesti kerja habis ini." Tama memelas.
"Oke oke, Laras akan serius (Laras beranjak dari pangkuan Tama san duduk disamping suaminya) Mas, Laras ingin menceritakan sesuatu yang Laras tau, semoga apa yang Laras ketahui ini bisa membantu niat mamas mencari keadilan buat ayah dan Laras, tapi sebelumnya kalau boleh jujur Laras takut mas kenapa napa, Laras takut....." Laras tak bisa melanjutkan kata katanya karena Tama sudah melahab habis bibirnya, ciuman itu membuat Laras gelagepan karena sejatinya dia belum siap, Tama melepaskan pangutanya dan mengelap bibir Laras yang menurutnya sangat manis itu.
"Jangan terlalu mengkhawatirkanku sayang, aku akan jaga diri baik baik oke justru sekarang yang harus kamu pikirkan adalah kesehatanmu dan putri kita." ucap Tama.
"Mas aku mencintaimu bagaimana mungkin aku ga khawatir, sedangkan aku tau lawanmu bukan orang sebarangan, bibik Luna mempunyai sindikat yang sangat kejam pada lawan nya mas, bahkan mereka sudah memasang beberapa alat peyadap disekelilingmu." jawaban Laras membuat Tama sedikit tercengang, dia tak menyangka jika istrinya mengetahui banyak hal.
"Dari mana kamu tau itu semua sayang?" tanya Tama.
"Kalau soal sindikat Laras sudah sering lihat mereka keluar masuk rumah waktu itu, bahkan mereka selalu mengawasi Laras, sebelum mereka menikahkan Laras dengan mamas, kalau sekarang sekarang ini baru kemarin aja mereka dateng. bik Luna selalu menyuruh mereka membunuhku anehnya mereka tak pernah melakukanya, bahkan suatu hari ada salah satu preman yang disuruh bik Luna memperkosaku anehnya mereka bukan melakukanya tapi malah menyuruhku menggunting bajuku sendiri seolah mereka sudah mengerjakan perintah bibik mas." cerita Laras membuat Tama bingung.
"Mungkinkah mereka orang orang kepercayaan ayah yang masih setia pada ayah Ras?" tanya Tama.
"Apa itu?" tanya Tama penasaran.
"Bibik punya selingkuhan bernama Robin dia orang Singapura, orang itu yang membuat bibik kuat mas." ucap Laras.
"Benarkah, pantesan susah mas lacak, terimakasih honey atas infonya, hari ini mamas tinggal lagi ga papa kan, nanti ada mami sama bik Marni yang bakalan nemenin kalian." ucap Tama.
"Pangku lagi." pinta Laras, Tama hanya tersenyum.
Laras pun naik kepanguan suaminya, memeluk erat tambatan hatinya seolah berat melepaskan Tama ke medan perang.
****
Seseorang yang dimaksud Ryan sepupunya sudah menunggu Tama di lobi rumah sakit, Tama mengira dia adalah pria ternyata Tama salah dia adalah seorang gadis, penampilanya biasa tidak seperti seorang tim pengacara pada umumnya.
"Hay, apakah anda sepupunya Mr Ryan?" tanya Tama.
"Anda benar pak saya adalah sepupu beliau perkenalkan nama saya Sharon Belavia anda bisa memanggil saya Sharon saja." jawab Sharon.
__ADS_1
"Oke Sharon apakah anda sudah menunggu lama?" tanya Tama.
"Belum pak Tama mungkin baru sepuluh menitan." jawab Sharon.
"Kamu ga usah terlalu formal padaku, kamu boleh memanggilku abang." ucap Tama.
"Baiklah jika itu yang anda mau." jawab Sharon malu malu.
"Baik bang mari ke mobil saya." ucap Sharon.
"Pakai mobilku saja ya Shar, adeku bentar lagi sampai, nah itu dia." Mobil Honda Civic warna hitam metalik sudah berhenti sempurna tepat dihadapan mereka.
"Kamu didepan aja Shar, kasih tau dia jalan nya." ucap Tama.
"Baik bang." jawab Sharon.
Begitu masuk kedalam mobil Sharon sangat terkejut melihat siapa yang ada dibelakang kemudi.
"Elo." pekik Sharon.
"Heh, ngapain lo masuk mobil gue lampir." balas Aldo.
"Lampir lampir elo jin tomang." Sharon ga mau kalah, dia langsung memakai setbeltnya.
"Dih udah salah nyolot lagi, eh siapa suruh lo pakai setbelt keluar sana gue ga sudi ya jadi supir elo." ucap Aldo.
"Udah nasib elo jadi supir jin tomang." ucapan Sharon menyulut emosi Aldo.
Tama hanya santai melihat pertengkaran dua anak manusia ini.
"Al ributnya boleh ga entaran, sekarang jalan." perintah Tama.
"Tapi bang gue ga mau satu mobil dengan nenek lampir ini."
"Dia yang tau rumah om Irvan." jawab Tama.
"Jadi dia yang dimaksud sepupu Ryan?" tanya Aldo.
"Hem." jawab Tama.
"Apes banget sih Ryan punya sepupu model elo."
"Kalau disini ga ada bang Tama udah gue lempar lo dari jendela." gumam Sharon, Tama hanya tersenyum.
__ADS_1
Dengan perasaan terpaksa ahirnya Aldo pun melajukan kendaraanya.
Bersambung....