PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Alasan Yang Tidak Logis


__ADS_3

Semalaman utuh Laras tak bisa tidur hingga matanya bengkak dan hampir susah dibuka, dia memasukan sendok ke freezer kulkasnya agar segera dingin dan bisa dia gunakan untuk mengompres matanya.


Laras sudah bisa sedikit menata hatinya, Laras memutuskan untuk segera resagn dari pekerjaanya, dia akan menerima job online saja, mengingat semakin hari perutnya akan semakin kelihatan, dia tak mau lagi jadi bahan gunjingan, ditambah lagi dia tak ingin membuat suaminya malu.


Laras berdiri didepan pintu lift yang akan membawanya ke ruangan kerja sekaligus tempat rumpik bersama sahabat sahabatnya, Laras terkejut ketika dua sahabatnya mengagetinya.


"Hoeee, " Siska lebih duluan menepuk pundak Laras, Laras menoleh. mereka berdua terkejut melihat mata Laras yang bengkak.


"Aduh kaget aku. " ucap Laras.


"Kenape tu mata, berantem ama doi lagi? "tanya Sandra asal jeplak.


"Bukan gaes ini gara gara Mamas Eric jadi duren hiks hiks." Laras pura pura mengucek matanya.


"Astaga maraton novel lagi, jadi penasaran gue sama tu novel kemarin dia sekarang elo" ucap Sandra yang notabene tak suka kehidupan yang melo gara gara novel.


"Kamu wajib baca geng biar bisa ngadepin suami yang super batu, apa lagi disana tersaji banyak Vitamin, babang Willi yang gantengnya sempurna terparipurna, sikadal yang ketampanannya ga ketulungan, akang Dosen yang gantengnya teremmuah belum lagi Aak Marten yang punya tatapan terkece badai bisa bikin hati adek meleleh aaahhh" ucap Siska manja, semua mata tertuju pada Siska ketika dia mengucapkan ocehanya, Laras hanya tertawa kecil, Sandra menggeleng gelengkan kepalanya heran.


"Siape yang ngajarin lo semua istilah itu, diboongin ama novel aja pada demen."Sandra mulai emosi mendengar kekonyolan Siska.


"Si Author tergila sejagat raya lah, dia berani mengambil keputusan bikin Mamas Eric jadi duren, yang ahirnya dia banyak diprotes penggemarnya, tapi yang pada protes kagak tau kalau ahirnya mamas Eric dikasih jodoh yang lebih best," jawab Siska. Sandra malas mendengar ocehan Siska, tapi dia penasaran juga sih, sebagus apa sih tu novel sampai bisa bikin dua sahabatnya gila.


"Serius Sis? "tanya Laras penasaran.


" Serius, gue ngikutin sampai end geng, authornya luar biasah pokoknya, andai aku bisa ketemu akan ku tanyain sebenernya makanan dia apa sih, bisa bikin pembacanya sebentar nangis sebentar tertawa." Siska begitu antusias menceritakan curahan hatinya tentang novel yang dibacanya, Laras sedikit terhibur oleh kekonyolan dua sahabatnya, mereka tak menyadari sedari tadi ada sepasang telinga yang mendengarkan obrolan mereka.

__ADS_1


"Alasan yang tidak Logis" gerutu pemilik sepasang telinga yang mendengarkan obrolan mereka.


"Bos mengatakan sesuatu? "tanya asisten pribadinya, dia hanya menggeleng.


Lift yang akan membawa mereka bertiga pun datang, mereka pun masuk dan bersiap menghadapi tumpukan pekerjaan yang harus mereka selesaikan. Laras merasa sedikit lega karena bisa menutupi masalah yang dia hadapi dengan sempurna, setidaknya itu alasan terbaik yang bisa dia gunakan.


...


Diruangan CEO..


Tama tak bisa memungkiri bahwa dia sendiri gelisah memikirkan pengakuan Laras tadi malam, jika benar itu anaknya maka dia harus bertanggung jawab penuh atas kesalahanya.


(Author: itu bukan kesalahan mas Tama Ya Allah, kamu tu manusia apa bukan sih, gemes aku, seandainya aku bisa masuk ke situ akan kupukul kepalamu, orang bikinnya pakek cinta kok bilangnya kesalahan, huff gregeten aku sama kamu mas).


Tama menggigit bolpoin yang dia pegang, memikirkan apa yang harus dia lakukan tanpa menjatuhkan harga dirinya didepan Laras.


"Kenapa sih dia selalu merepotkan." gerutu nya, dia pun langsung mengangkat telpon dan menyuruh Izal masuk keruanganya.


"Siang bos." sapa Izal.


"Hem, gimana yang kemarin? " tanya nya.


"Masih belum ketemu bos, sepertinya kita memang tertipu bos dan kerugian kita ga main main. " jawab Izal.


"Untuk gaji kariawan bulan depan masih cukup? " tanya Tama, dia memang pemimpin yang luar biasa, biarpun keadaan perusahaan yang baru dibeli dan dipimpinya ini sedang berada dalam goncangan dia tetap tenang.

__ADS_1


"Untuk bulan depan masih bos. "jawab Izal, Tama mengangguk angguk kan kepalanya, sedikit pun dia tak terlihat gusar padahal usahanya diambang kehancuran gara gara proyek yang dia gadang gadang bisa membawanya menanjak naik malah menjatuhkanya, tak sengaja dia tertipu oleh makelar tanah dan kontraktor yang akan menangani pembangunan pabrik barunya.


"Oia, katakan pada wanita itu sore pulang kerja aku akan menjemputnya, mami mau ketemu dia." perintah Tama.


"Baik bos." jawab Izal. Tama memberikan nomer ponsel Laras pada asistennya agar Izal yang bicara pada Laras, Izal menerima ponsel bosnya dan mulai mengetik nomer Laras diponselnya, didepan bosnya Izal mengirim pesan pada Laras melalui ponsel pribadinya.


"Sebenernya kalian kenapa sih bos, belum kelar masalahnya?" ingin rasanya Izal bertanya seperti itu pada manusia batu didepanya, tapi dia tau tak akan pernah mendapatkan jawabanya, maka lebih baik diam dan cari tau sendiri.


....


Tama membunyikan klakson ketika sampai didepan rumah yang Laras tempati, Laras sudah tau yang datang adalah suaminya, Laras pun segera keluar dan mengunci pagar.


tanpa menyapa Laras segera masuk ke mobil Tama, Laras memakai setbelt nya dan duduk dengan tenang.


Didalam mobil tak sedikit pun ada kata yang terucap dari kedua bibir mereka, hanya hati sibuk berbicara, ingin rasanya Tama bertanya tentang kehamilan istrinya, tapi semalam dua terlanjur tak mengakuinya, terlanjur menyakiti hati istrinya, mobil yang mereka tumpangi berhenti dilampu merah, pandangan Tama masih kedepan, Laras membuang pandanganya ke jendela, sesekali Tama melirik perut Laras yang masih rata.


"Apakah yang didalam situ anaku? " kata itu yang kini berputar putar di otak Tama.


"Aku akan mengetahuinya ketika lahir." batin Tama lagi.


Lampu merah sudah berganti hijau Tama pun menginjak gas nya lagi, berarti tak berapa lama lagi mereka akan sampai dirumah orang Tama.


"Aku harap kamu ga bicara apapun tentang kehamilanmu sebelum aku yakin itu anaku." ucap Tama, mau berapa kali lagi kamu akan menaburkan abu panas dihatiku suamiku, apakah kamu bahagia dengan semua perlakuanmu padaku, apa kamu tenang jika melihatku terluka heemm. Laras mengelap keringat dingin keluar dikeningnya, berharap Tama tak mengetahui rasa sesak yang dia rasakan akibat kata kata nya barusan.


"He em." jawab Laras singkat.

__ADS_1


Laras kembali membuang padanganya keluar jendela, Tama tak perduli yang jelas saat ini pikiran kalut, marah, kecewa masih menyelimuti hatinya.


Bersambung...


__ADS_2