
Tama tersenyum bahagia sepanjang perjalanan menuju lobi rumah sakit dimana istrinya melakukan persalinan, tadinya dia merasa tak berhak memberi putrinya nama, begitu sampai di lobi rumah sakit dia melihat seorang pria menggendong bayi mungil dan mengajaknya bicara, seketika Tama langsung berfikir untuk memberi putrinya nama.
"Zal, gimana semua sudah siap?" tanya Tama pada asistenya.
"Sudah bos, semua sudah siap, ini surat tanda lahirnya dan ini tes DNA nya." jawab Izal.
Tama pun membaca dokumen itu, dia tersenyum lagi mengingat apa yang barusan dia lakukan pada istrinya, pasti dia sangat jengkel sekarang, batinya.
"Dasar orang lagi gila diturutin." gumam Tama.
"Apa bos, bos mengatakan sesuatu?" tanya Izal.
"Ga." jawabnya, heeemmm kembali lagi es nya.
Sebenernya dalam hati Tama dia tak pernah meragukan anak yang ada dikandungan Laras hanya saja kemarahanya menutupi itu, cintanya pada Laras begitu besar hingga akal sehatnya tak berfungsi seolah semua ditenggelamkan oleh amarah yang tidak masuk akal.
"Mana bik Marni Zal?" tanya Tama.
"Sudah diparkiran bos dia menuju kemari."
"Oke."
Tak lama bik Marni pun datang menghampiri mereka.
"Siang den." sapa bik Marni.
"Siang bik, aku titip istriku dulu ya bik sama tolong berikan ini padanya, Zal bolpoin." pinta Tama.
"Ini bos."
Tama menuliskan sebuah nama disecarik kertas sambil tersenyum.
"Bik ini adalah nama putriku tolong bibik sampaikan padanya." Tama menitipkan itu pada bik Marni.
"Baik den."
"Kami permisi dulu ya bi."
"Baik den"
Tama pun melangkah pergi untuk bertemu dengan patner kerjanya.
Bik Marni tak membuang waktunya lagi dia pun langsung berjalan menuju kamar dimana Laras dirawat, Laras tersenyum lebar ketika melihat bik Marni datang.
__ADS_1
"Siang non." sapa bi Marni.
"Siang bik, kangen bi." sambut Marni.
"Sama non, dirumah sepi kapan non sama dedek boleh pulang?" tanya bik Marni.
"Kata mas sih besok udah boleh pulang." jawab nya.
"Oia non, ini titipan dari aden sama ini katanya nama dedek bayi." Bik Marni menyerahkan map dan secarik kertas pada Laras.
Laras pun menerima map dan kertas itu, dia fikir itu adalah surat perpisahan mereka ternyata Laras salah, itu adalah surat tanda lahir putrinya.
"Bik kapan dia menguruskan, dari kemarin kan dia disini?" Laras terlihat bingung.
"Pak asisten kali non." jawab Bik Marni.
"Oia ya dia kan banyak pegawai oon banget sih aku ni, terus ngapain dia tadi kasih KTP nya ke aku( Laras kembali berfikir) haaaaa dasar omes, dia maaaaaa ih nyebelin." Laras sekarang menyadari jika Tama membodohinya.
"Ada apa non?" tanya bi Marni heran.
"Ga papa bik, oia ini apa bik?" tanya Laras sambil mengacungkan secarik ketas pada bik Marni.
"Kata aden itu nama untuk dedek bayi non." jawab bi Marni.
"Oo, Faheesa Nazia Demitri." Laras membaca tulisan itu dan tersenyum, inilah yang Laras inginkan, kenapa selama ini dia tak mempersiapkan nama untuk putrinya karena dia ingin ayahnya lah yang memberi putri mereka nama.
"Aden itu aneh ya non, pertama kali ketemu galak banget tapi pas kesini sini dia baik hehehe." bik Marni yang baru kemarin kenal Tama aja bilang begitu apa lagi dia yang udah jadi istri ah Tama manusia aneh yang susah ditebak, beruang kutup yang dingin, tau ah awas aja ntar kalau datang, menyebalkan kenapa sih aku selalu kalah darinya.
"Dasaaaaaarrr." Laras masih mengungkapkan kekesalan nya, tapi hanya sebatas itu anehnya.
Laras sedang asik dengan pikiran jengkelnya pada suaminya, menyusun strategi gimana caranya membalas kalakuan jahil Tama, tapi gimana dia manusia seribu akal.
"Dasaaaaarrr." kembali Laras mengumpat, bik Marni jadi ketawa, lucu juga non Laras kalau kesal, emang apa sih yang aden lakukan kok non jadi kayak gitu.
"Jangan ketawa bibik aku lagi kesel sama beruang kutup itu." ucap Laras.
"Emang non diapain kok sampai kesel gitu?" tanya bik Marni.
"Aku dijahilin bik, ditipu, diboongin, dinakalin nyebeliiinn dasaaaar ihhhh." Laras memukul mukul ranjangnya kesal, bik Marni seketika paham ini pasti urusanya antara hubungan suami istri tak lain, ya sudah lah tapi ekspresi Laras sungguh menggemaskan.
Ditengah tengah kesibukanya memikirkan cara membalas Tama terdengar seseorang mengetuk pintu, bik Marni pun membukanya.
"Siapa bik?" tanya Laras, sang Tamu pun masuk.
__ADS_1
"Kejutan." Laras langsung tersenyum lebar ketika sang tamu merentangkan tangan padanya.
"Miss." Laras tertawa pelan sambil menutup mulutnya, dia sungguh tak menyangka bahwa sahabatnya yang berada jauh disana kini ada didepan matanya, Miss Chintya langsung memeluk sahabatnya, Ryan pun ikutan tersenyum melihat tingkah mereka berdua.
"Kapan berangkat dari sana miss, perasaan baru tadi pagi aku email, jangan bilang kalian udah ada disini sebelum aku email?" tanya Laras curiga.
"Hehe sory ga ngabarin, kita emang sengaja mau kasih kejutan, eh ternyata kamu malah yang kasih kejutan ke kita." jawab Miss Chintya.
"Kalian kalau udah ketemu lupa dah sama gue yang ganteng ini." Canda Ryan, Chintya mengelus pipi kekasihnya.
"Sabar lah honey udah duduk manis aja dulu kita mau kangen kangenan oke." Chintya menggandeng Ryan dan menyuruhnya duduk disofa. Chintya kembali menghampiri Laras di ranjang, Chintya dan bik Marni membantu Laras beranjak dari ranjang dan ikutan duduk disofa dengan mereka.
"Ras mana si baby?" tanya Chintya.
"Dia diruang baby miss, bik tolong bilang sama sus dong baby Zia suruh bawa ke sini aunty nya mau kenalan ni." pinta Laras.
"Baik non." bik Marni pun mengikuti perintah Laras.
"Kalian belum cerita kapan kalaian sampai sini?" tanya Laras curiga, Ryan dan Chintya saling menatap dan melempar senyum.
"Isstt kenapa ga jawab, jangan bikin penasaram dong." Laras merajuk.
"Kita lagi ada kerjaan disini Ras, dia di ajak temennya join bisnis terus aku diajak sekalian pengen main, indonesia keren ya lama ga kesini semua berubah." jawab Chintya sambil memuji tanah kelahiran ibunya.
Bik Marni masuk diikuti seorang suster yang menggendong baby Zia, suster itu langsung memberikan sibaby pada Laras.
"Makasih sus." ucap Laras.
"Sama sama bu, saya permisi mari semua." ucap suster berpamintan.
"Oke sus." suster pun melangkah keluar.
"Kenalin aunty uncle nama aku Faheera Nazia Demitri aku cantik kan aunty, aku dipanggi sama mami daddy baby Zia." Laras mengenalkan putrinya, Chintya terlihat sangat antusias.
"Hay baby Zia, lucunya kamu buat aunty aja ya sayang."pinta Chintya sambil menerima baby Zia yang ulur kan oleh Laras.
"Jangan dong aunty mulesnya aja masih berasa ini hehehe, pak kode keras jangan lama lama." goda Laras pada Ryan.
"Iya bentar lagi sabar atuh, kalian ini." jawab Ryan malu malu, diluar terdengar Azan Ashar berkumandang Ryan pun pamit untuk pergi ke mushola dekat rumah sakit.
"Ras gue wajib pajak dulu ye, jangan pengaruhi bini gue awas lo." ini model pamitan macam apa pak bos, busyet deh.
"Iye pak bos asal situ selalu taat aja hehehe." jawab Laras tak kalah gokil.
__ADS_1
Laras lupa setiap kali Tama ketemu Ryan darahnya langsung mendidih, bagaimana ini kalau sampai mereka ketemu lagi, matilah sekarang!!!!!
Bersambung...