PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Keputusan Laras


__ADS_3

Robin meninggalkan Laras dikamar berdua dengan putri cantiknya, dia pun kelelahan dan ingin segera masuk kekamar untuk segera mengistirahatkan jiwa raganya.


Laras terus mengembangkan senyumnya meski senyum itu bercampur dengan tangisanya, Zia adalah segala obat bagi semua rasa sakitnya, lama kelamaan mata Laras kembali berat dan dia pun tak sanggup lagi menahan kantuknya, ahirnya dia pun ikut terlelab sambil mendekap tubuh gembil Zia.


Pagi itu Zia mengelus wajah Laras, Laras merasakam ada seseorang yang mengelus pipinya, Laras membuka matanya dan melihat senyum indah Zia.


"Pagi sayang nya mami." sapa Laras kemudian dia pun mencium gemas putrinya.


"Mami." ucap Zia, air mata Laras pun meluncur begitu saja, dipeluknya kuat kuat anak yang dirindukanya.


"Mami."


"Ya sayang."


"Cucu."


"Oke."


"Daddy." deg seketika jantung Laras berdetak lebih cepat, Zia masih ingat jika bangun tidur papi nya lah yang membuatkan nya susu karena sudah sebulan lebih ini entahengapa Asi Laras berhenti keluar.


"Eemm daddy kerja sayang." jawab Laras berbohong.


"Daday ja?" tanya Zia.


"He em sayang daddy kerja, sama mami aja ya."ucap Laras langsung menggendong bayinya keluar kamar.


Begitu keluar dari kamar seperti biasa Laras disambut oleh barisan pelayan yang siap melayaninya.


"Ya Tuhan menjengkelkan sekali sih kalian." gerutu Laras dalam hati.


"Ada yang bisa kami bantu nona?"tanya salah satu pelayan.


"Bantu aku membuat susu untuk putriku." jawab Laras.


"Baik non." jawab mereka, Laras pun kembali kekamar dan menudukan Zia diranjang, dia pun menyiapakan perlengkapan mandi untuk putri manisnya, salah satu maid membarikan susu itu pada Laras.


"Makasih." ucap Laras, maid itu hanya tersenyum, dan berpamitan undur diri.


"Eh tunggu apa papa sudah bangun?" tanya Laras.


Sebelum maid itu menjawab Robinnsudah ada dibelakangnya.


"Papa ada disini sayang kenapa cari papa kangen ya." goda Robin, Robin pun menyuruh maid itu keluar.


"Dih ga siapa yang kangen sama om, Laras marah sama om."


"Loh tadi udah panggil papa kok sekarang om lagi sih."


"Ga mau Laras panggil om papa, apaan Laras marah pokoknya." jawab Laras memanyun kan bibirnya lagi.


"Loh kok marah, ya udah Zia buat papa aja sini."


"Enggak ini anak Laras enak aja." jawab Laras ketus, Robin duduk disamping Laras.


"Bagaimana perasaanmu nak apa lebih baik sekarang?" tanya Robin, dia benar benar seperti seorang Ayah.


Laras kembali menjatuhkan air matanya, dan mengangguk pelan.

__ADS_1


"Sstt jangan menangis lagi nanti putrimu ikutan menagis." ucap Robin, Laras kembali mengangguk dan mengelap air matanya.


"Setelah ini bersihkan dirimu papa tunggu diruang kerja." ucap Robin.


"Berikan dulu dia pada pengasuhnya biar dia yang merawat putrimu, papa ingin membicarakan sesuatu denganmu." ucap Robin.


"Tapi om Laras takut..."


"Ga usah takut mereka yang ada disini adalah orang oran kepercayaan papa, kamu tidak perlu khawatir tak ada yang bisa menyentuh kalian selama kalian ada disini heemm." ucap Robin kembali mengelus rambut putrinya, Laras pun mengiyakan ucapan Robin.


Dua puluh menit kemudian Laras sudah siap menemui Robin di ruang kerjanya, asisten Robin membukaan pintu untuk Laras, dan Laras pun masuk.


"Ayo nak duduk."suruh Robin, Laras pun duduk disofa ruang kerja papanya kemudian Robin pun ikut duduk sofa sebelah Laras.


"Nak, Zia sudah ditemukan bahkan dia dalam keadaan baik baik saja apa ga sebaiknya kamu kasih tau daddynya, pasti dia senang jika tau ini." ucap Robin, Laras yang tadinya menunduk kini berani mengangkat wajahnya.


"Tidak om, justru Laras ga mau dia tau apapun tentang kami, mau kah om merahasikan ini untuk Laras." pinta Laras.


"Kenapa Ras, apakah kamu tak bisa memaafkan suamimu?" tanya om Robin.


"Tidak om bukan itu, dia sudah melepaskan Laras bukan jadi dia dan Laras tak ada hubungan apa apa lagi, menurut Laras dia sudah tak berhak tau apapun tentang Laras." jawab Laras.


"Apa kamu berniat menjauhkan Zia dari daddy nya Ras?" tanya Robin lagi sebenernya dia paham dengan apa yang Laras rasakan selama ini.


"Dia sudah memilih om, Laras harap om mengerti."jawab Laras.


"Papa harap kamu tidak menyesali ini dikemudian hari Ras." Robin berusaha mengingatkan bahwa keputusan Laras dinilainya sangat egois.


"Selama ada om Laras tak akan kekurangan bukan." ucap Laras sambil tersenyum.


"Jangan menggoda papa kamu." ucap Robin sambil mengela nafas dalam dalam, Laras melempar senyum termanisnya pada papa nya.


"Heemm"


"Maukah om membantu Laras sekali lagi." pinta Laras.


"Ga mau."


"Om ayolah." ngengek Laras sambil menggoyang goyangkan tangan Robin.


"Ck, ga."


"Ayolah, om mau Laras bahagia ga?" tanya Laras sambil melirik genit kearah papanya.


"Apaan."


"Laras mau pisah sama mas dia secara hukum om." jawab Laras.


"Kamu jangan mengambil keputusan yang gegabah seperti itu." Robin masih berusaha mencegah niat Laras.


"Laras tak ingin hidup seperti itu om, dia selalu bermain dengan pikiranya sendiri tanpa melihat sebab akibatnya, dia selalu melempar semua masalah pada Laras seolah semua itu adalah salah Laras, Apa salah laras sehingga dia mengusir Laras, apa Laras juga tau kalau masalah ini bakalan terjadi. Laras selalu berusaha meluruskan duduk permasalahanya om tapi dia tak pernah mau mengerti, Laras lelah hidup dengan orang egois seperti itu, Laras ga sanggup om, Laras mohon ijinkan Laras pergi." Laras kembali menangis, dia jadi mengingat semua yang pernah Tama lakukan padanya.


"Baiklah sayang jika itu sudah jadi keputusanmu, papa tak bisa melarangmu karena kamu sendiri yang merasakanya, papa akan coba bantu." jawab Robin.


"Apakah om mai berjanji sekali lagi."


"Apa."

__ADS_1


"Tolong rahasiakan masalah Zia dari siapapun termasuk tante Rika, tante belum tau kan om kalau Laras putri om?"


"Dia itu bodoh sama sepertimu dia juga ga tau apa apa tentang papamu ini." jawab Robin kembali ke sifat jahilnya.


"Maksud om."


"Nanti lama lama kamu juga bakalan tau."


"Dih om punya selingkuhan ya?" tanya Laras tiba tiba dan cetek, sentilan sedikit keras dia tujukan pada kening Laras.


"Aduh sakit om."


"Makanya jadi perempuan jangan bodoh diboongin laki mau aja."


"Enggak sekarang Laras pinter." jawab Laras.


"Heh, baiklah putri pinternya papa setelah kamu pisah dari Tama apa rencanamu?" tanya Robin.


"Laras pengen pergi jauh dari sini om, Laras ingin pergi ketempat dimana keluarga Demitri tak bisa menemukan kami." jawab Laras.


"Tinggal disini saja kalau gitu." pinta Robin.


"Enggak disini terlalu dekat dengan Indo, Laras mau yang lebih jauh lagian nanti tante Rika pasti tau Laras disini kalau dia pulang." jawab Laras.


" Dia ga akan tau kan dia ga tau tentang rumah ini." jawab Robin.


"Kok bisa?" tanya Laras penasaran.


"Papa mau wanita yang cinta sama papa harus bisa menerima kesederhanan, papa tak pernah menunjukan apa yang papa miliki pada mama sambungmu." jawab Robin.


"Kok gitu."


"Ga papa, ga usah kamu pikirkan nanti lama lama juga papa akan kasih tau dia, sebenernya ibu sambungmu itu wanita yang sangat baik dia juga tulus melayani papa, tapi dia lugu sepertimu makanya papa suka menggodanya." Laras tau betapa bahagianya papanya bisa hidup bersama tante Rika dimasa tuanya.


"Dasar tua tua keladi." umpat Laras.


"Berani ya ngatain papa."


"Biarin."


"Papa tanya sekali lagi apa kamu fix dengan keputusanmu?"


"Iya om."


"Kamu serius ingin menjauh dari keluarga suamimu."


"Iya om."


"Di London papa ada rumah apakah kamu mau tinggal disana?"


"Beneran om, Laras mau" jawab Laras semangat.


"Jika itu sudah jadi keputusanmu papa akan urus semuanya termasuk keberangkatan kalian ke London."


"Makasih banyak om, maaf Laras tak bisa membalas budi baik om?"


"Ga usah kamu pikirkan itu yang penting kamu bahagia putriku." Laras tersenyum dan memeluk papanya, semoga ini keputusan terbaik untuk kita mas batin Laras.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2