PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Siapa Dia?


__ADS_3

Tama melepas pelukan Laras, dia sama sekali tak bergeming meskipun Laras sudah bertanya apa masalahnya, Tama berjalan menuju dapur nya dan mengambil minum, Laras masih setia mengikutinya.


"Be, bicaralah aku ada salah apa sampai kamu diemin aku, ngindari aku, aku nungguin kamu be, kenapa kamu ga dateng?" tanya Laras bertubi tubi.


Tama masih ga mau bicara, dia masih kaku, dingin dan menakutkan, tatapanya kosong penuh arti.


"Be, plis, kalau kamu kayak gini mana aku tau kesalahan aku. " ucap Laras sambil memeluk pinggang suaminya. Tama masih tak mendengarkanya.


"Be, aku mesti gimana ngadepin kamu kalau kamu diam gini, suamiku aku mohon bicaralah sayang, jangan membuatku bingung seperti ini." Laras mencoba berdamai dengan emosinya, dia berusaha keras agar tak meneteskan air matanya, Tama melepas lagi pelukan Laras dan melangkah pergi meninggalkan Laras sendiri didapur, tentu saja Laras tak putus asa, dia tetap mengikuti kemanapun suaminya melangkah.


Tama duduk disofa ruang tamunya, melipat kedua tanganya didada, Laras pun duduk disamping suaminya, memegang kedua pipi Tama memaksa agar dia mau menatapnya. Tama menepis lagi tangan Laras, menolak perlakuan mesra istrinya.


"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu, "ucap Tama pelan tapi sangat mengena dihati Laras.


"Tangan kotor, apa maksudmu be? "tentu saja Laras bingung dengan apa yang suaminya maksud.


"Siapa dia? "tanya Tama lagi.

__ADS_1


"Siapa be, aku sungguh ga tau apa maksudmu."jawab Laras.


"Heh, tak tau, sudah berapa pria yang menyentuhmu selama aku pergi?" Laras menggelengkan kepalanya, tak menyangka Tama akan berucap seperti itu, Laras menutup mulutnya dengan tanganya, matanya berkaca kaca.


"Be, aku tak serendah itu." jawab Laras terbata bata.


"Tak serendah itu kamu bilang, memasukan laki laki lain selain suami kerumah dan bermesraan kamu bilang tak serendah itu, lalu kata apa yang pantas untukmu." Tama mulai mengeluarkan emosinya, Tama masih melipat tanganya, dia berusaha agar tak menjatuhkan tangan itu pada istrinya.


"Be, aku tidak seperti itu, mana buktinya kalau aku seperti itu? " tanya Laras, Tama berdiri dan mengambil amplop coklat di laci lemari tempat dia menyimpan buku bukunya.


Tama melempar amplop itu tepat dipangkuan Laras. tentu saja Laras penasaran, dia pun langsung membuka amplop tersebut mengeluarkan isi nya dan melihatnya dengan seksama, Laras bukanya sedih dia malah tertawa dan melirik Tama.


"Dia ini temanku be, teman masa kecilku, dia baru dateng dari Paris, dia kemarin main kerumah, dan aku hanya mengantarnya kebandara be, ga lebih. "Laras berusaha menjelaskan keadaanya pada suaminya.


"Kamu bilang hanya teman, begitukah caramu berteman, berciuman berpulukan dan berpegangan tangan, hebat banget cara pertemananmu." Tama malah lebih emosi mendengar penjelasan Laras.


"Be, kamu berlebihan. "Laras masih merasa dirinya tak salah.

__ADS_1


"Aku memang seperti itu, mau apa kamu, bukan kah kita sudah sama sama berjanji akan menjaga jiwa dan raga kita hanya untuk kita saja, lalu kenapa dengan mudahnya kamu membiarkan pria lain menyentuhmu selain aku. " bagai disambar petir rasanya ketika Mendengar Tama berucap seperti itu, tentu saja Laras tak sanggup membendung air matanya lagi, ini lebih sakit dari saat Tama menolaknya.


"Be, kamu keterlaluan, aku selalu menjaganya untukmu be, hanya kamu be." Laras menangis lebih keras, tapi Tama sama sekali tak perduli, Tama tetap pada prinsipnya.


"Aku keterlaluan (Tama menunjukbpada dirinya sendiri) , lalu kamu apa hah, bukan hanya dirumah, kamu juga melakukan itu dibandara, bilang kalau kamu tidak menikmatinya, lihat senyumu begitu bahagia, masih mau mengelak kamu hah. " Tama sudah naik pitam.


"Be, dia hanya temanku." sekarang Laras menyadari kesalahanya, seharusnya dia tak mengizinkan temanya itu memeluk dan mencium pipinya karena sekarang dia sudah ada hati yang harus dia jaga, meskipun kejadian itu tak terjadi didepan mata suaminya, lalu bagaimana sekarang nasi sudah menjadi bubur, Tama sudah tak terima dengan apa yang dia lakukan, Tama merasa dihianati.


"Be, maafkan aku, maaf aku salah, seharusnya aku tak membiarkanya memelukku, aku minta maaf be." ucap Laras sambil memegang lengan suaminya, Tama menepis tangan itu lagi.


"Aku bukan orang yang mudah memberi maaf atas sebuah penghianatan, pergilah jangan dekati aku, aku muak dengan wanita sepertimu." Tama melangkah menuju kamarnya, membuka dan menutup pintu kamarnya dengan sangat keras, tentu saja Laras terkejut setengah mati.


Laras tak tau harus berbuat apa, dia bingung, Tama ternyata lebih posesif dari yang dia kira, sekarang dia ingat kata adeknya waktu itu, Tama bukan pria yang mudah disentuh wanita, lalu kenapa sekarang dia begitu bodoh, tentu saja Tama tidak akan terima jika wanitanya disentuh oleh pria manapun walau itu hanya pelukan dan ciuman pertemanan.


Laras keluar dari apartemen suaminya dengan langkah gontai, dia menagis disepanjang jalan dari apartemen sampai kerumah, didalam taksi yang dia tumpangi pun Laras belum bisa berfikir jernih, Laras benar benar menyesal sekarang.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" pertanyaan itu terus berputar putar dipikirannya.

__ADS_1


***Bersambung***


__ADS_2