
Dikamar tamu..
Izal masih memeluk Niken.
"Mbak bersihin diri mbak dulu ya, aku antar kekamar mandi." Izal berusaha menawarkan bantuan, Niken mengagukkan kepalanya.
Izal menaruh paperbag berisi pakaian untuk Niken dikamar mandi.
"Bajunya aku taruh disini ya mbak, mbak bisa kan mandi sendiri?" tanya Izal tanpa bermaksud modus tapi tanggapan Niken jadi lain.
"Jangan modus kamu." jawab Niken ketus.
"Enggak mbak maaf jika saya salah." balas Izal, dia pun kembali hendak menggendong Niken.
"Ga usah aku bisa sendiri." jawab Niken dia hanya menyambut uluran tangan Izal dan melangkah tetatih tatih menuju kamar mandi, dengan sigap Izal mengikuti langkah Niken menjaga nya agar tak jatuh.
"Kamu melakukanya berapa kali sampai sakit gini rasanya?" tanya Niken pelan, jujur pertanyaan Niken tiba tiba membuat Izal ikut merasakan apa yang Niken rasakan, entah perasaan apa ini kalau hanya perasaan bersalah ga mungkin sesesak ini. Izal masih mengkondisikan suasana hatinya.
"Maaf ya mbak, saya akan bertanggung jawab atas semuanya meskipun saya tak bisa mengembalikan apa yang sudah saya ambil." Niken menghentikan langkahnya, dia melirik kearah Izal lirikan itu susah untuk Izal artikan.
"Udah sana ngapain ngikuti saya." suruh Niken.
"Mbak masuk aja dulu aku jagain." jawab Izal.
"Udah sana dibilang jangan modus, kamu mau jagain aku dari siapa orang harimaunya kamu sendiri." jawab Niken ketus dia pun masuk kekamar mandi menutup pintu itu dan menguncinya, dia menangis menjadi jadi disana, dia menyalakan shower dan duduk bersimpuh dibawah guyuran air itu agar tak ada satu orang pun yang mendengar tangisanya.
Izal menunggu Niken dengan sabar didepan pintu, ini sudah setengah jam tapi Niken tak kunjung keluar, Izal pun mengetuk pintu itu.
"Mbak buka pintunya udah belum mandinya." ga ada jawaban, Izal mengetuk pintu itu lagi masih juga ga ada jawaban, bersamaan dengan itu Laras pun masuk.
"Ada apa Zal?" tanya Laras.
__ADS_1
"Tolong saya non dia tadi bilang mau mandi tapi ga keluar keluar." jawab Izal ketakutan.
"Dobrak Zal." suruh Laras, pikiran Laras tentu saja tak nyaman, Izal pun mendobrak pintu kamar mandi itu, betapa terkejutnya Laras dan Izal melihat Niken pingsan dengan darah mengalir deras dari pergelangan tanganya, Izal tak bisa berfikir lagi dia pun langsung menggendong tubuh lemah Niken dan membaringkanya di ranjang, Izal mengambil sapu tangan dikantongnya dan mengikat pergelangan tangan Niken, kemudian dia menarik Selimut dan membungkus tubuh telanjang Niken, mendengar suara ribut ribut dikamar mandi Tama dan Aldo pun segera berlari mencari arah suara, mereka pun kembali dikejutkan oleh aksi gila Niken.
Tanpa bicara Izal menggendong Niken lagi.
"Al kita bawa dia kerumah sakit." ucap Izal.
"Ayo bro." Aldo pun bertindak cepat, Laras tertegun tak percaya dengan apa yang baruasan ia lihat.
"Mi ayo susul mereka, bawakan baju ganti juga untuk temanmu." ucap Tama, Semua pergerakan mereka sangat cepat kecuali Laras dia harus menjaga kandunganya juga.
Aldo membawa kendaraanya dengan kecepatan tinggi seolah jalanan ini adalah miliknya sampai lampu merah pun tak ia hiraukan, masalah tilang nanti aja ah pikirnya yang penting nyawa wanita ini dulu.
Laras terlihat khawatir demgan sahabatnya, Tama tau itu.
"Mi coba kamu hubungi oma nya Zia dulu bilang kita keluar takutnya nanti mereka sampai rumah kita ga ada." bujuk Tama mencoba mengalihkan perhatian Laras agar tak terlalu shock, Laras pun menurut dia menghubungi ibu mertuanya untuk menjaga Zia sementara.
Izal sangat gugup terlihat jelas dia sangat ketakutan tentu saja dia bingung dengan apa yang akan terjadi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap Niken.
"Dia tadi terlihat tegar Al, lalu kenapa dia berfikir pendek gini." ucap Izal kembali merutuki kebodohanya sendiri.
"Sabar Al percayalah ga akan terjadi apa apa padanya." Aldo berusaha menghibur sahabatnya, tak lama Tama dam Laras datang.
"Gimana Al?" tanya Tama.
"Masih ditangani dokter bang." jawab Aldo, Izal tertunduk lesu ketika menunggu Niken ditangani dokter, dia malah terlihat seperti suami bagi Niken.
"Sabar ya Zal, semua akan baik baik saja." ucap Tama, Izal hanya diam dan mengangguk pelan.
Dokter yang menangani Niken keluar dari kamar rawat Niken.
__ADS_1
"Keluarga pasien?" tanya dokter.
"Kami dok." jawab Tama.
"Anda suaminya?" tanya dokter bertanya pada Tama.
"Bukan dok, saya suaminya, " jawab Izal maju kedepan mendekati dokter.
"Bisa kita bicara berdua di ruangan saya?" tanya Dokter, Izal pun mengiyakan ajakan dokter.
Laras Tama dan juga Aldo masuk keruang perawatan Niken, sedangkan Izal ikut dokter yang menangani Niken keruanganya.
"Silahkan duduk pak." ucap Dokter.
"Terimakasih dokter." jawab Izal.
"Apakah semalam anda melakukan kekerasan terhadap istri anda pak?" tanya dokter.
"Maksud dokter." jawab Izal.
"Sepertinya istri anda mengalami trauma yang cukup serius didaerah vitalnya pak." jawab Dokter menjelaskan keadaan Niken.
"Anda benar dok, semalam saya dijebak rekan bisnis saya dan mereka memasukan obat perangsang di minuman saya ahirnya saya melakukan sesuatu yang tidak baik terhadap istri saya dok." jawab Izal.
"Begini pak, sepertinya istri anda mengalami trauma yang cukup serius di jiwanya mungkin anda bisa mengkonsultasikan kondisi istri dengan psikiater." saran dokter.
"Apakah keadaanya separah itu dok?" tanya Izal.
"Jika seseorang sudah mengambil tindakan yang diluar akal sehatnya maka dia membutuhkan psikiater pak saya harap mengerti." ucap Dokter itu lagi.
Dengan berat hati Izal pun menuruti saran pak dokter, tapi sebelumnya dia akan mendiakusikan ini dengan semuanya termasuk Niken sendiri.
__ADS_1
Bersambung..