PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Dia Memang Susah Dimengerti


__ADS_3

Mami Arini mengusap air matanya dia melangkah mendekati putra tercintanya yang baru sadar dari komanya, bisa dibilang ini adalah kabar yang sangat membahagiakan buat keluarganya, apa lagi jika nanti sang istri tau kabar ini pasti Laras tak akan menunggu hari lagi pasti dia kan segera pulang.


"Hay nak." sapa Mami Arini sambil memegang pundak Tama.


Pandangan Tama kosong tapi tetap tersenyum.


"Ngapain sini?" tanya mami Arini.


"Tama cuma ngeteh mi." jawab Tama, Tama memang dari kecil sangat hemat bicara jika dengan orang tuanya.


"O, ada yang sakit ga sayang?" tanya mami Arini Khawatir.


"Ga ada mi, cuma pas mandi tadi agak berat kepala Tama, habis mandi udah ga lagi Tama tidur berapa lama mi?" tanya Tama


"Hampir 4 bulan sayang." jawab mami Arini, Tama masih bingung.


"Hah, lama amat mi kok mami ga bangunin?" tanya Tama penasaran.


"Ga papa kamu kan capek kerja." jawab Mami Arini, sepertinya Tama belum ingat kalau dia pernah mengalami kecelakaan sampai koma.


"Wanita itu kemana mi?" tanya Tama langsung.


"Istrimu maksudmu?" tanya Mami Arini.


"Iya." jawab Tama.


"Dia ke Paris." jawab Mami Arini agak sedikit takut, bingung mau jawab apa.


"Oo, dia nekat juga rupanya."ucap Tama datar seperti biasa.


"Kenapa abang bicara begitu?" tanya Mami Arini.


"Ga papa mi, Izal mana mi kok ga jemput aku?" tanya nya lagi.


"Kan abang baru bangun kan sayang." jawab Mami Arini.


"Oia lupa." jawab Tama, pandanganya kembali kosong seolah sedang mengingat kejadian apa yang dia lupakan selama ini.

__ADS_1


"Mi, Al mana sama papi?" tanya nya lagi, Mami Arini bersyukur dia masih ingat orang tua dan adeknya.


"Papi baru berangkat ke Jepang lima hari yang lalu, adekmu gantiin kamu di kantormu." jawab mami Arini.


"Ooo." jawab Tama, ada sedikit kekhawatiran dalam hati mami Arini, dia takut Tama salah paham soal kepergian Laras ke Paris.


"Bang, Laras pergi ke Paris karena.." ucap Mami Arini.


"Tama udah tau mi, dia udah ijjn hari itu." jawab Tama.


"Bang apa kamu marah pada Laras?" tanya mami Arini.


"Ga mi, Tama ga marah mami tenang aja." jawab Tama, Mami Arini sangat paham dengan sifat anaknya yang terbilang susah ditebak pasti saat ini Tama sedang memikirkan banyak hal meskipun mulutnya diam.


"Mi, Sore ini Tama mau pulang ya." pinta Tama.


"Tunggu abang pulih ya, tunggu abang paham situasi abang ya baru nanti mami anter abang pulang." ucap Mami Arini membuat Tama bingung, ada apa dengan maminya emang aku kenapa sih, tanya Tama dalam hatinya.


"Mami ini, masak ia Tama mau dianter kan ada Izal mi." jawab Tama.


"Iya mami lupa." jawab Mami Arini, Tama tersenyum didalam hati Tama terus berfikir kanapa aku bisa tertidur begitu lama, kenapa Laras setega itu ninggalin aku, mungkinkah dia sudah ada yang lain.


Mami Arini sudah berjanji pada Laras jika Tama bangun orang pertama yang akan dia kasih tau adalah Laras, Perbedaan waktu antara Jakarta dan Paris adalah 5 jam, Jakarta lebih cepat 5 jam dibanding Paris jika ini pukul 9 berarti disana masih jam 4 subuh, ah sebaiknya aku kirim gambar saja, nanti kalau dia bangun bisa baca.


Mami Arini juga mengabari papi Bram, untung nya papi Bram tak ada jadwal, begitu mendengar Tama sudah bangun dia langsung meminta asistenya memesan tiket untuknya.


Aldo dan juga Izal kini sudah duduk diruang tamu rumah mami Arini mememani Tama ngobrol.


"Bang gimana kabar abang?" tanya Aldo.


"Baik." jawab Tama, dia sedikit berubah pada adiknya mungkin karena dia banyak kehilangan waktunya jadi sistem dalam tubuhnya masih menyingkronkan apa yang sedang terjadi dengan apa yang dialaminya sekarang.


"Kantor gimana Al?" tanya nya lagi.


"Semua aman bang, oia bang semua sudah aman terkendali, kita dapat investor yang oke bang." jawab Aldo.


"Siapa?" tanya Tama, Aldo ingin memberinya kejutan.

__ADS_1


"NantI Al kenalin kalaunorang nya disini." jawab Aldo.


"Oke." balas Tama, Lama mereka berbicang kesana kemari tapi pikiran Tama masih saja pada Laras, kenapa dia setega ini ninggalin aku, bukan kah dia bilang cinta sama aku, inikah wujud cintanya batin Tama semakin bergejolak tak mementu.


***


Paris...


Laras membuka matanya ketika suara alarm ponselnya membangunkanya, seperti biasa Laras langsung bangun membersihkan diri dan menunaikam kewajibanya sebagai muslim yang baik, setelah itu dia pergi kedapur untuk membuat sarapan.Sebentar lagi akan ada ART yang akan membantunya membersihkan rumahnya, Laras memakan roti panggangnya di sofa ruang tamunya Laras mengelus perutnya yang semakin membuncit, sesekali dia bicara dengan baby yang masih didalam kandunganya, anaknya seolah mengerti dengan apa yang dia bicarakan, sesekali si baby menendang perutnya.


"Au, mommy sakit adek, tapi kamu lucu pintar mommy sayang adek, kita doain daddy ya sayang biar daddy cepet sembuh oke."


Laras membuka aplikasi diponselnya, membaca beberapa pesan yang masuk, alangkah terkejutnya Laras melihat foto yang dikirim ibu mertuanya, Laras tak dapat mengekspresikan perasaanya, dia kelewat bahagia. Laras beranjak dari tempat duduknya dan langsing keluar menuju rumah sahabatnya untuk memberi tahu kabar gembira ini.


Ryan yang baru saja terlelap kaget mendengar bel rumahnya berbunyi pagi pagi gini.


"Siapa sih masih pagi udah ganggu orang aja." umpat Ryan sambil beranjak dari ranjangnya, sepertinya tamu nya tak sabar dia masih saja memencet bel.


"Iya iya sebentar." Ryan masih ngantuk saat membuka pintunya, Laras tak bicara apapun dia langsung memeluk sahabatnya.


"Woy woy woy ada apaan." Ryan merasa kewalahan dengan tingkah aneh Laras. Laras melepas pelukanya dan menunjukan foto foto yang ibu mertuanya kirim padanya, rasa kantuk yang Ryan rasakan seketika hilang berganti rasa bahagia yang tiada tara.


"Wow, ini kejaiban Tuhan yang luar biasa Laras, elo berhak dapetin ini gue ikut bahagia sahabatku." Ryan memeluk lagi sahabatnya.


"Sungguh ini kabar yang sangat luar biasa Ras, selamat pokoknya, dedek bayi kamu dengar daddy mu sudah sembuh sayang." Ryan menunduk mendekatkan wajahnya diperut sahabatnya, Laras tersenyum bercampur tangis haru.


"Yan, gue mau pulang sekarang." pinta Laras.


"Oke gue pesenin tiket sekarang, elo berkamaslah, mbak nya udah dateng belum?" tanya Ryan.


"Udah kayaknya Yan." jawab Laras.


"Ya udah kamu minta dia bantuin berkemas, aku cari tiket sekalian cariin kamu surat dokter biar nanti aman dibandaranya."ucap Ryan.


"Makasih banyak Yan, elo sahabat terbaik gue." ucap Laras.


" Sama sama." jawab Ryan sambil mengelus pundak sahabatnya, ini adalah kebahagiaan yang tak terkira buat Laras, semua berasa mimpi.

__ADS_1


Dengan dibantu oleh Asisten rumah tangganya ahirnya Laras berkemas dengan senyuman kebahagiaan.


Bersambung....


__ADS_2