
Laras sangat bersemangat menjalani harinya lagi, berkat dorongan dari sahabatnya dia bis mengambil hikmah dari kejadian yang dia alami, Ryan sudah kembali ke Paris seminggu yang lalu, hampir setiap hari sahabatnya mengirip pesan padanya, dia itu sudah persis kayak ayahku bukan lagi kakak bukan lagi sahabat, bawelnya melebihi emak emak komplek. pertanyaanya tiap hari itu lagi itu lagi kadang kadang Laras malas banget ngetik, kadang dia balas pakai voice chat kalau ga dia kirim gambarnya lagi ngapain, dasar kalian ini.
Belum lagi kekocakanya mengirim foto foto mesra nya bersama tambatan hatinya, dari segi manapun sahabatnya ini sungguh menjengkelkan, tapi Laras sangat senang jika berurusan dengan Ryan disamping sifat konyolnya, Ryan juga mempunyai sifat yang dewasa dan bisa mengerti dirinya.
Hari ini Laras juga sangat bahagia, semalam miss Chintya memberinya kabar bahwa salah satu karyanya menjadi pemenang salah satu ajang bergengsi disana, reward yang dia terima juga ga main main bisa dapet mobil Avansa satu geng belum lagi hadiah hadiah lain, bik Marni yang sedang memasak dibuat kaget oleh tingkah manja majikanya, Laras tiba tiba bergelut manja ditubuh asisten rumah tangga yang sudah dianggap ibunya ini.
"Bibik hari ini Laras happy banget." ucapnya sambil menaruh wajah nya dipundak bik Marni.
"Kenapa non?" tanya nya kepo.
"Pokoknya Laras seneng banget hehehe, bibik masak apa hari ini wangi banget." Laras melepas pelukkan dan melihat isi penggorengan yang ada diatas kompor.
"Ih enaknya bakwan tahu ya bik, nanti bikin sambal kecap ya bik." pintanya.
"Siap non." jawab bibik, bik Marni diam dia terlihat sedih.
"Bibik kenapa?" tanya Laras.
"Bibik lagi bingung non, anak bibik mau bayar skipsi, belum bayar uang semesteran juga." jawab bibik Mirna.
" Emang bibik butuh berapa?" tanya Laras.
"Tadi anaknya udah kirim rincianya non, nanti bibik kasih lihat."
"Ya udah bibik tenangin pikiran Insya Allah nanti Laras bantu, bibik kerja aja dibawa enjoy aja bik kayak Laras gini lo bik, kita makan yang banyak iklaskan apa yang terjadi, kita lepaskan beban bik biar happy hehehehe." Laras mencoba bercanda dengan nasibnya.
"Iya non benar, setiap manusia itu punya ujian sendiri sendiri, kayak bibik ini lo non suami bibik kepincut janda non tapi bibik sudah iklas penting dia seneng hehehe, aduh malu kalau diceritakan." bik Mirna juga mulai mau terbuka dengan Laras.
"Serius bik." Laras malah tertarik dengan kisah asisten rumah tangganya.
"Iya non, waktu itu bibik pikir bibik yang salah, kenapa ya suami bibik kok sampai selingkuh eee lama lama bibik sadar bahwa itu emang sifatnya doyan perempuan." bibik menceritakan kisahnya tanpa beban.
"Bibik ga marah, sakit hati gitu?" tanya Laras.
"Awalnya marah lah non, apa lagi putri bibik waktu itu masih kecil non dia masih 3 tahun, lama lama bibik biasa cuma baiknya dia ga pernah main tangan nafkah lahir dia juga masih kasih, kami pisahnya juga baik baik kok non, beberapa bulan yang lalu dia minta balikan bibik udah ga mau males ribet bibik non, udah tau rasanya pait masak suruh makan lagi." bik Marni benar benar tanpa beban ketika menceritakan kisahnya, Laras tersenyum mendengar cerita bik Marni, pelajaran yang bisa dia petik dari kisah bik Marni adalah keiklasan yang tinggi meskipun pada ahirnya dia harus melepaskan laki laki yang dia cintai.
Laras malah berfikir, haruskah aku melepaskan mas Tama agar tak ada lagi dilema dihatinya, agar tak ada lagi kesalah pahaman diantara aku dan dia, haruskah aku iklaskan dia Tuhan.
Laras sibuk berbicara sendiri dengan pikiranya sampai ibu mertuanya datang pun dia tak tau.
__ADS_1
"Non." bik Marni mengelus pundak Laras, Laras terkejut dan menatapnya bingung.
"Iya bik apa ." jawab Laras.
"Masak mami nya datang dicuekin." goda bik Marni.
"Mana bik."
"La itu." Laras menoleh Mami Arini sudah tersenyun manis disampingnya.
"Mami." Laras tersenyun dan memeluk ibu mertuanya.
"Nglamun mikir apa ayo." goda mami Arini.
"Hehe mami, maaf mi Laras ga tau kalau mami dateng, udah lama mi?" tanya Laras bertubi tubi.
"Enggak Mami baru aja nyampek."
"Papi ga ikut mi?" tanya Laras.
"Papimu lagi ke Jogja, hotel kita mau dibeli lagi sama papimu." jawab Mami Arini.
"Tumben mami ga ikut." ledek Laras, bik ina datang membawaka minum dan cemilan buat mereka.
Laras tersenyum.
"Makasih ya bik." ucap Mami Arini ketika menerima makanan dan minuman dari bik Marni.
"Sama sama Nya, saya permisi dulu." mereka berdua pun tersenyum mengijinkan bik Marni undur diri.
"Mi, mas Tama gimana kabarnya?" tanya Laras.
"Kangen ya?"
"Banget mi, sayang yang dikangenin galak." Laras tertawa pelan, sekali lagi Laras mencoba bercanda dengan keadaanya.
"Sabar ya Ras, mas mu udah ngantor dari 3 minggu yang lalu, udah cuekin aja dia ntar juga sembuh sendiri kok ada orang kolotnya ga ketulungan gitu." Mami Arini yang nglahirin aja bisa bilang begitu apa lagi aku yang baru kenal dia, Ya Tuhan.
"Mi, mami sayang ga sama Laras.?"
__ADS_1
"Kamu tu ngomong apa, ya sayang lah Ras kalau ga sayang mana mau mami belanbelain seminggu sekali kesini." jawab mamai Arini.
"Mi jika seandainya mas Tama kekeh minta pisah dari Laras mami marah ga?" tanya Laras.
"Mau marah gimana Ras, mas mu itu kelewat kaku, mami udah coba kasih tau tapi dia malah ga mau pulang sekarang malah diapartemen nya, mami minta sih kamu tetep sabar nunggu dia bener bener sembuh." Mami Arini tetep berharap mereka masih bisa bareng.
"Mi, Laras udah pikirin baik baik, bukan Laras ga mau ngedampingin mamas mi, tapi kan mamas yang nolak Laras seandainya Laras nuruti mamas mami masih nganggep Laras anak ga mi?" pertanyaan Laras seketika membuat ibu mertuanya menangis, Mami Arini memeluk erat menantunya, berharap Laras paham bahwa kasih sayang nya tak akan berubah bagaimana pun nanti status hubungan mereka.
"Tama memang keterlaluan Ras, gemes mami sebenernya, papi mu malah santai aja dia merasa sifat anaknya sama denganya, sama sama menyebalkan." Mami Arini malah gemas sendiri dengan kedua pria paling menyebalkan dalam hidupnya.
"Mami pasti ngerti apa yang Laras rasakan mi, Laras hanya ga mau mamas terus dilema, Laras sudah mencoba mengiklaskan mamas mi, Laras berharap mamas bahagia tanpa Laras." Mami Arini menatap menantunya lagi air matanya terus meluncur deras.
"Haruskah seperti ini Ras, tak maukah kamu berjuang sekali lagi demi cintamu?" Mami Arini masih berusaha membujuk menantunya agar tak menyerah.
"Apa yang harus Laras perjuangkan mi, Mas Tama tak menginginkan kami mi." jawab Laras.
"Mami ga bisa paksa kamu Ras, jika memang itu keputusan terbaik mami iklas, tapi mami masih berharap kalian bisa bareng terlebih kalian udah mau ada anak." Mami Arini merasa sangat terpukul dengan keputusan Laras yang ingin menyerah.
"Insya Allah Laras akan jaga anak Laras dengan baik mi." kembali Mami Arini merasakan sesak didadanya, kini Laras pun ikutan meneteskan air matanya.
"Sampai kapanpun kamu tetap anak mami Ras, mau kamu istri Tama atau enggak nantinya." Mami Arini kembali memeluk anak mantunya, mereka berdua terhanyut dalam isak tangis yang Tama ciptakan. Awas aja ntar dia bakalan mami kasih pelajaran batin mami Arini.
"Kapan perkiraan si baby lahir Ras?" tanya Mami Arini.
"Dua minggu lagi mi, ini udah periksa seminggu sekali, Insya Allah besok periksa lagi." jawab Laras sambil mengelap air matanya.
"Oia Tama masih kirim nafkah kan buat kamu?" tanya Mami Arini.
"Masih mi." jawabnya.
"Uang kamu masih ada sisa Ras dimami."
"Udah mami pakek aja mi, Laras tadi malem habis dapet reward lagi dari Paris, karya Laras menang lomba mi kategori gaun terindah." jawab Laras.
"Oh ya, mantuku tajir ini ceritanya." goda mami Arini.
"Alhamdulilah mi rejeki anak Laras mi."
"Kamu bener Ras yang penting kamu iklas, rejeki bakal ngalir sendiri."
__ADS_1
"Insya Allah mi."
Bersambung...