PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Bencana Rumah Tangga Laras dan Tama


__ADS_3

Tama sudah mempunyai bibit sifat labil dan Laras paham itu, Malam ini adalah malam yang sangat mengerikan bagi Laras bagaimana tidak kabar di culiknya Zia telah sampai ditelinganya, ditengah hujan yang sangat deras dia melajukan kendaraanya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai dirumah, Laras membanting pintu mobilnya dan segera masuk kedalam rumah, di dalam rumah dia disambut oleh wajah penuh kemarahan Tama.


"Dad." panggil Laras sambil memegang kedua lengan Tama, Mata Tama memerah rahangnya mengeras ingin sekali dia hajar wanita yang didepanya, emosi Tama menutupi rasa cinta yang dia miliki untuk Laras, dia lupa bahwa wanita yang ada didepanya adalah wanita yang sangat disayanginya.


"Dari mana kamu?" tanya Tama pelan, mami Arini mulai berkeringat dingin ketika Tama sudah membuka suaranya.


"Aku aku.." jawab Laras terbata bata, seketika dia ingat bahwa Tama sudah melarang nya pergi tapi dia tetap melanggar larangan itu.


"Sekali lagi aku tanya darimana kamu?" bentak Tama sambil mendorong Laras hingga jatuh bik Marni dan Mami Arini hendak menolong Laras tapi...


"Jangan ada yang berani menolong wanita ini jika kalian tak ingin nyawa kalian melayang bersamanya." ucap Tama dengan emosi yang tak bisa dibendung lagi.


"Tam dia udah ijin mami, makanya mami kesini."


"Oh jadi mami suami kamu bagus nurut saja kamu sama mami." hardik Tama masih dengan emosi tak terbendung, Tama sudah sangat marah dia ingin sekali menendang Laras yang masih duduk dilantai, tapi Tama lebih memilih meja kaca diruang tamu mereka dan pyaaar kaca meja itu pecah seketika. darah mengucur deras dari tangan Tama, seluruh orang yang ada diruangan itupun ketakutan tak terkecuali Laras.


" Tam bukan begitu." mami Arini masih mencoba membuat Tama tenang.


"Berdiri kamu." tunjuk Tama pada Laras, Laras pun menuruti ucapan Tama jujur dia sangat takut, dia tak menyangka kemarahan Tama sungguh dasyat baginya.


"Pergi kamu cari putriku sampai ketemu jika sampai kamu tak menemukanya jangan pernah kembali kehadapanku atau nyawamu yang jadi taruhanya." ucap Tama, Laras tak menjawab ucapan Tama karena sangat Shock, dengan apa yang terjadi saat ini ditambah kemarahan Tama seolah ini adalah salahnya, pesan telah terkirim keotaknya yang nge blank Laras segera menyambar tas nya dan keluar untuk mencari anaknya yang hilang, dia tak perduli meski hujan lebat membasahi tubuhnya ditambah lagi kilatan petir beserta gemuruhnya, itu semua tak ada artinya bagi Laras dibanding hilangnya putri tercintanya beserta kemarahan Tama yang barusan dia terima.


Sudah tiga jam Laras berjalan menelusuri jalanan ibu kota, tapi tak sedikitpun dia menemukan tanda tanda keberadaan putrinya, malam semakin larut tapi udara semakin terasa dingin meski hujan telah reda, Laras masih saja memanggil putrinya menangis disepanjang jalan, ketakutan akan ucapan Tama menambah beban mental tersendiri buatnya.


Laras tak putus asa, dia pun terus melangkah dan melangkah menjelang pagi dia duduk disalah satu halte bis didaerah yang dia lewati, hampir dua jam dia berada disana dia bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya dia sampai tak menyadari penampilanya, banyak yang mengatakan bahwa dia seperti orang gila.


.....

__ADS_1


Aldo si pengantin baru juga ikutan kalang kabut ketika mendengar berita hilangnya keponakan kesayanganya, dia dan pak Bram sudah mengerahkan semua anak buahnya untuk membatu mencari Zia.


Aldo juga sangat menyesali tindakan abangnya yang keterlaluan pada kakak iparnya, dengan pelan dia melanjukan mobilnya berharap dia menemukan keberadaan Kakak iparnya, Aldo memang sengaja mencari kakak iparnya dan usahanya membuahkan hasil dia melihat Laras sedang mondar mandir dihalte dan terus bertanya pada orang oramg yang ada disana.


"Kakak." panggil Aldo dia langsung memeluk kakak iparnya yang terlihat berantakan dan seperti orang gila ini, Aldo menangis dan mengelus rambut Laras.


"Kak pulang yuk." ajak Aldo sehalus mungkin agar Laras tak takut padanya.


"Enggak nanti kalau aku ga bawa Zia mas Tama pasti bunuh aku." jawab Laras seketika Aldo memeluk kakak iparnya lagi, sungguh sangat keterlaluan abangnya sampai membuat wanita tak bersalah ini terguncang jiwanya karena ketakutan akan ancamanya.


"Enggak kak, bang Tama ga akan ngapa ngapain kakak, kakak aman sama Aldo yuk, nanti Aldo bantu kakak cari Zia ya, kakak mau ikut Aldo?" tanya Aldo.


"Janji?" tanya Laras.


"Ya Al janji." jawab Aldo, Laras memberikan jari kelingkingnya pada Aldo, Aldo pun menyambut ulurun jari kelingking Laras dia sudah tampak seperti orang yang benar benar terguncang, sungguh sangat disayangkan.


"Enggak kak Aldo janji ga kan kasih tau abang oke, kakak ikut Al yuk." Aldo mengusap air matanya sendiri dan menuntun Laras masuk kedalam mobilnya.


Dimobil Laras tidak menangis lagi tapi lebih seperti orang yang depresi, dia hanya diam dan sesekali tersenyum ketika melihat foto Zia di ponselnya, Aldo malah takut dia pun membawa Laras kesalah satu apartemen milik temanya, dia meminta salah satu pacar sahabat nya untuk menjaga Laras, kenapa dia membawanya kesana ternyata pacar sahabat Al ini adalah seorang psikiater, siapa tau biasa menyembuhkan kejiwaan Laras yang terguncang.


"Al aku ga mau ketemu mas Tama." Laras hendak berlari tapi Aldo dengan sigap memeluk dan menenangkanya.


"Enggak kak, Al ga bawa kakak ke tempat bang Tama kan tadi Al sudah janji, coba lihat itu kan perempuan bukan bang Tama kan." ucap Aldo membujuk Laras agar Laras percaya dan menurut padanya, ahirnya Laras pun percaya padanya dan menuruti keinginan Aldo.


"Al dia kenapa?" tanya Rosi orang yang Aldo percaya bisa membatu Laras pulih dari traumanya.


"Ntar gue ceritain Ros, lo tolongin dia dulu sepertinya semalaman dia ga tidur dan lihat kakinya lecet semua." ucap Aldo.

__ADS_1


"Baiklah." Rosi pun membantu Laras membersihkan badanya mengganti pakaian Laras, mengobati luka luka dikaki Laras dan menyuapi Laras makan, Laras sering menggelengkan kepalanya menolak suspan dari Rosi, tapi Rosi punya berbagai cara untuk membujuknya.


"Al apa lo keberatan jika dia gue kasih kakak lo obat tidur kasihan dia kelelahan biar dia istirahat?" tanya Rosi.


"Ga papa Ros lakukan yang terbaik untuk kakak gue." jawab Aldo, Rosi pun memberikan sebutir obat untuk Laras.


"Apa ini?" tanya Laras.


"Ini Vitamin maminya Zia, biar mami kuat kan katanya mau cari Zia." bujuk Rosi tanpa bertanya lagi Laras pun meminum obat itu. tak lama berselang Laras pun tertidur.


"Ros, gue minta tolong sama elo tolong bantu gue sembuhin kakak gue ya Ros, dan satu lagi tolong lo rahasiain ini dari siapapun, gue mau kasih pelajaran buat abang gue yang b*g*knya ga ketulungan itu." pinta Aldo sama Rosi, jujur ingin sekali dia menghajar abangnya yang keterlaluan itu.


"Oke Al gue dipihak lo, semoga abang lo cepet sadar dan mengerti jika ini bukan sepenuhnya salah bininya, ini musibah tak terduga Al." jawab Rosi, Aldo mengangguk tanda setuju pada ucapan Rosi.


"Gue cabut dulu ya Ros, ntar malem gue kesini lagi, selama dia ada disini lo bisa kan ga kemana mana?" tanya Aldo.


"Iya Al gampang itu sekarang kan semua serba online nanti klinik biar asisten gue yang jaga." jawab Rosi.


"Makasih banyak Ros, gue janji bakalan ganti semua kerugian lo."


"Santai Al yang penting ntar pas gue nikah lo dateng aja semua aman."


"Siap bosku, gue pamit dulu ya titip kakak gue." ucap Aldo.


"Siap."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2