PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Mirip Sekali


__ADS_3

Robin sudah tak sabar ingin segera pergi kekediaman Demitri, dia sangat penasaran dengan wajah asli putri kandungnya yang sangat mirip dengan mendiang kekasih hatinya.


Dia sudah menyiapkan hadiah berupa berlian untuk istri mantan sahabatnya dan juga untuk putri kesayanganya serta cucu perempuanya yang baru lahir.


Sebelumnya Tama sudah membicarakan perihal kunjungan Robin kerumah pribadi papinya, dan untungnya pak Bram tak merasa keberatan dengan ide Tama.


Tama masuk kedalam kamarnya ingin sekali dia langsung menggendong putri kecilnya tapi itu tak mungkin sebelum dia bersih Laras tak akan mengizinkan siapapun menyentuh baby nya.


"Daddy no ya, mandi dulu." ucap Laras sambil mendorong pelan pundak suaminya.


"Kalau ga boleh cium baby nya mami nya deh." Tama selalu saja punya cara untuk membuat istrinya tersenyum, Laras langsung memeluk suaminya dari belakang dan mencium pipi Tama.


"Kok pipi, ini dong." Tama menunjuk bibirnya.


"Ga nyampek." jawab Laras, Tama tersenyum lalu berbalik.


"Makanya jangan pendek." jawab Tama langsung meraih bibir mungil Laras dan melahapnya, Tama sangat menyukai itu. Tama melepaskan pangutanya, Laras pun menyambut dengan memeluk tubuh kekar suaminya dengan cintanya.


"Kenapa ya mami tu kangen terus sama daddy?" tanya Laras.


"Gimana ga kangen daddy ganteng gini." jawab Tama sambil menggoda Laras dengan senyuman khasnya.


"Heeem daddy hehehe."


"Mi nanti aku mau kenalin mami sama temen bisnis papi ya, dia ga sempet jenguk kamu dan sibaby, mau ga nanti kamu temuin dia dibawah?" tanya Tama.


"Boleh kenapa enggak." jawab Laras.


"Tapi ini orang yang kamu takutin lo mi." Tama mengingatkan.


"Siapa?" tanya Laras penasaran.


"Robin." jawab Tama.


"Papi kenal sama beliau?" tanya Laras.


"Kenal, ternyata Robin itu sahabat papi dan juga ayah kita." jawab Tama.


"Tapi kok...???"


"Daddy tau apa yang mami pikirkan, tapi itu kan urusan pribadi beliau dan tante Luna, biarlah itu menjadi urusan beliau kita ga usah ikut campur, urusan perasaan kita ga bisa paksakan, sederhana kan mi?" Tama memang luar biasa.


"He em, tapi aku takut apakah beliau tau aku anak ayah?"


"Kayak nya enggak deh mi, mami kok tau Robin itu selingkuhan tante Luna emang mami pernah ketemu?" tanya Tama.


"Enggak kan mami sering denger bibi telponan kalau ga ya para preman dirumah ngomongin." jawab Laras.


"Oo, emang om Antok ga tau ya mi kalau istrinya selingkuh?" Tama kok jadi kepo.


"Tau lah, dia sendiri juga sama suka bawa perempuan pulang kerumah." jawab Laras.


"Hah..."


"He em, tapi anehnya bibik biasa aja, kalau Laras digituin ama suami pasti udah Laras becek becek tu suami." ancam Laras. Tama tertawa.

__ADS_1


"Heemm gaya nya kayak bisa marah aja." goda Tama.


"Bisa daddy." Laras merajuk sambil menggoyang goyangkan tubuhnya.


"Ga yakin daddy." jawab Tama.


"Daddy ahh..."Laras merajuk.


"Iya sayang iya kamu bisa marah, seneng."


"Banget, peluk." pinta Laras.


Tama kembali memeluk istrinya, mencium kening Laras dan kembali memangut bibir manis itu, Tama benar benar menepati janjinya bahwa dia akan memperlakukan Laras seperti seorang ratu.


Robin terlihat gagah dengan baju casualnya, dia memang telihat awet muda dengan usia yang hampir menginjak 48 tahun.


bener bener hot daddy kalau dilihat dengan mata telanjang, pantesan saja banyak wanita yang terpesona padanya, pesona nya memang tak pernah luntur dimata wanita yang melihatnya.


Pak Bram menyambut baik kedatangan Robin.


"Selamat malam teman." sapa Pak Bram.


"Malam juga Bram, ini ada sedikit oleh oleh buat istri dan menantumu serta cucu kita hehehe." bisik Robin, dia menyerahkan paperbag pada Pak Bram, pak Bram pun dengan senang hati menerimanya.


"Apa ini, harusnya kamu ga usah repot repot begini." jawab Pak Bram.


"Ah ini hanya sedikit." Robin merendah.


"Ayo masuk mereka sudah menunggumu." ucap pak Bram, saat itu juga jantung Robin berdetak sangat keras seperti seorang pria yang hendak melamar kekasihnya.


"Iya pi." jawab mami Arini.


"Mana Tama sama Laras?"


"Lagi dandanin Zia tadi, sebentar lagi pasti turun." jawab Mami Arini, benar saja setelah itu mereka mendengar suara Tama membuka pintu, dia membantu istrinya menuruni anak tangga. Mata Robin tak berkedip ketika melihat sesosok wanita yang mirip sekali dengan mendiang kekasih nya, pak Bram mengelus pundak Robin dan berkata.


"Apa dia mirip dengan Hana?" tanya Pak Bram sambil berbisik.


"Sangat Bram, putriku sangat cantik seperti mamanya." jawab Robin berbisik juga, tak sengaja mami Arini mendengarnya, dia menatap curiga ke arah suaminya, pak Bram pun paham dan mengedipkan matanya agar mami Arini jangan bertanya apapun.


"Malam om." sapa Tama pada Mr Robin.


"Malam." jawab Robin, mata nya masih curi curi pandang pada Laras dan anak yang ada digendongan Laras.


"Oia om, kenalin ini Laras istri saya dan ini Zia opa." ucap Tama memperkenalkan Laras, Laras pun mengulurkan tanganya pada Robin, tentu saja Robin gemetar, pak Bram sangat paham dia kembali merangkul pudak sahabatnya, ahirnya Robin pun menyambut uluran tangan Laras, mereka saling melempar senyum.


"Dia lucu sekali bolehkah saya menggendongnya?" tanya Robin spontan, jujur Laras tarkejut tapi tidak dengan Tama.


"Tentu saja." jawab Tama.


Robin pun menerima baby yang Laras gendong.


"Dia lucu sekali berapa usianya?" tanya Robin.


"Baru dua minggu om, bener kan mi?" jawab Tama, Laras tersenyum dan mengangguk pelan.

__ADS_1


"Oia Ras itu ada hadiah dari pak Robin." ucap Pak Bram.


"Makasih banyak om." ucap Laras.


"Sama sama ." balas Robin, dia masih asik menggoyang goyangkan tubuh kecil yang ada digendonganya.


"Sungguh beruntung lo Bram, jadi pengen gue." canda Robin.


"Anggap aja anak mantu sama cucu gue punya elo, makanya jadi orang jangan galak galak ga punya bini kan lo hahahaha." goda pak Bram, Robin hanya tersenyum, Laras menjadi heran ternyata karakter Robin tak seperti yang ia dengar sebelumnya ini sungguh berbeda.


"Kawin lagi sono." suruh pak Bram.


"Sudah tua gini siapa yang mau." jawab Robin dengan senyuman khas nya.


"Tua dari mana lo, masih ganteng gagah gini emang lo udah ga kuat?" goda pak Bram lagi.


"Ah sial lo, bikin malu gua aja." Robin bisa bercanda juga rupanya.


Laras dan Tama hanya menikmati obrolan mereka, Tama tetap memeluk posesif pinggang istrinya sesekali mata mereka saling melirik, dimana mana mereka selalu saja sweett.


Mama Arini sudah selesai menyiapkan hidangan makan malam untuk mereka, boleh dibilang ini adalah pengalaman pertama Robin makan malam bersama sebuah keluarga, sungguh membahagiakan batin nya.


Malam semakin larut, sebelumnya Laras meminta Susi untuk menemani putrinya dikamar dia masih menemani suaminya menjamu tamu mereka, tak lama Robin pun pamit undur diri.


Tama dan Laras kembali berbicang diruang tamu milik keluarga besarnya, mama Arini membuka hadiah dari Robin, matanya terbelalak melihat hadiah itu.


"Pi, temenmu itu ga salah kasih hadiah kita begini?" tanya mami Arini.


"Dia kan pengusaha emas dan berlian mi ya wajar lah, dia emang tajir dibanding kita." jawab Pak Bram sambil tersenyum heran.


"Dia itu siapa sih pi?" mami Arini jadi kepo.


"Sahabat papi lah sesama penyuka otomotif sama kayak ayahnya Laras ayahnya siapa kemarin temenmu itu tapi dia yang paling muda." jawab Pak Bram.


"Ryan pi." jawab Tama.


"Iya sahabat Laras kan?" tanya Pak Bram.


"Iya pi."jawab Tama.


"Oo, kira mami temen akrap papi itu cuma Herman doang." jawab mami Arini.


"Ya ga lah, dulu kami temenanya berempat mi."


"Dulu pacar papi juga banyak lo mi." goda Tama.


"Apa..." mami Arini naik pitam dan segera beranjak dari duduknya, dia langsung marah dan tak perduli dengan apapun, dia pun meningalkan mereka yang masih asik mengobrol di ruang Tamu.


"Enggak mi, Tama boong, kamu ini cari penyakit aja buat papi." ucap pak Bram sambil melangkah menyusul istrinya.


Tama malah tertawa melihat tingkah papi dan maminya.


"Huss, kamu ni nakal bener sih dad." tegur Laras.


"Biar aja mi, lucu kali ya lihat papi ngrayu mami yang lagi cemburu."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2