
Laras terdiam ketika ibu dari pria yang dia cintai sekaligus dia benci bertanya seperti itu.
"Bohong mi kalau Laras bilang tidak tapi Laras yakin mami mengerti posisi Laras." jawab Laras, mami Arini tersenyum mendengar jawaban Laras, dia merasa memiliki banyak harapan akan hubungan rumah tangga anaknya.
"Ras suamimu sakit parah sekarang dia sedang dirawat Ras." ucapan mami Arini membuat Laras diam terpaku.
"Coba kamu lihat ini Ras badan nya habis lihat kurus banget kan," Mami Arini menunjukan foto Tama terkapar tak berdaya lengkap dengan selang infus menancap di tangan nya. Seketika Laras menangis sambil menggigit bibir bawahnya.
"Mi mas sakit apa?" tanya Laras.
"Mas mu depresi Ras, dia menyesali perbuatanya sendiri telah menyakitimu disedang menghukum dirinya sendiri sampai seperti itu." jawab Mami Arini.
"Ya Tuhan mi bodoh sekali mamas ni." Mami Arini tersenyum dia tau Laras mencintai anaknya meski umpatan keluar dari bibir manis Laras.
"Ras apa kamu mau menemui dan memaafkan masmu serta memberitahu dia kalau putrinya masih ada, hanya kalian lah semangat hidupnya Ras mami mohon." Mami Arini melorotkan tubuhnya dan berjongkok memohon pada mantunya.
"Mi jangan seperti ini, tanpa mami memohon Laras pasti mau datang ke mamas mi, ayolah mami berdiri." ucap Laras sambil membantu ibu mertuanya berdiri.
"Ras mami ga tau mesti ngomong apa sama kamu, kamu terlalu baik untuk putraku yang egois itu Ras." tambah mami Arini.
"Sudah lah mi, mami tunggu sini ya Laras siap siap dulu." Laras beranjak dari duduk nya hendak melangkah menuju kamarnya.
"Ras terimakasih banyak." ucap mami Arini.
"Sama sama mi lagian ini kan sudah kewajiban Laras ada disamping mamas disaat sakit mi, Laras janji bakal rawat mamas sampai sembuh." jawab Laras.
"Apakah jika nanti dia sembuh kamu akan pergi lagi Ras?" tanya mami Arini.
"Laras masih belum tau mi, kita lihat nanti Laras ikut aja apa yang mamas mau."jawab Laras kembali tersenyum dan melangkah pergi meninggalkan ibu mertuanya untuk bersiap menemui Tama suaminya.
***
Rumah sakit Pondok Indah...
Laras meminta mami Arini membawa Zia pulang dan menjaganya, Laras ga mau Zia melihat keadaan daddy nya yang seperti itu, Zia tak suka suasana yang sedih sedih dan ada air mata, Laras sangat menjaga sekali emosi putrinya.
Dengan diantar papa nya ahirnya Laras sampai didepan kamar rawat inap Tama, om Robin menganggukan kepalanya tanda mengizinkan Laras masuk untuk menemui suaminya.
Didalam ruangan itu ada Aldo dan Sharon serta Izal asisten Tama, mereka tersenyum ketika menyambut kedatangan Laras.
"Kak." Sapa Aldo.
"Hay Al, Shar mas Duren." Laras membalas sapaan mereka dengan candaan khasnya.
__ADS_1
"Apa kabar kak?" tanya Aldo.
"Aku baik Al, kalian gimana?" Laras balik bertanya.
"Kami baik kak, abang baru aja minum obat sepertinya dia tertidur." ucap Aldo.
"He em baiklah, terimakasih kalian udah bantu kakak jaga abang kalian."jawab Laras.
"Sama sama kak, silahkan temui abang dulu kami ada diluar jika butuh sesuatu." ucap Aldo lagi.
Laras mengangguk, mereka bertiga pun keluar dari ruangan Tama, Laras berjalan mendekat keranjang Tama, Laras sangat sedih melihat keadaan suaminya dia kurus sekali seperti tak pernah makan, Laras menangis dalam diamnya, dielusnya rambut orang yang sangat dia cintai melihat keadaan Tama seperti ini dia pun lupa bahwa dia juga membenci pria arogan ini.
"Mas." bisik Laras berusaha membangun kan suaminya, mengelus rambut Tama lagi dan mengecup kening pria menyebalkan yang berbaring lemah ini, Tama merasakan pipinya basah seperti ada yang meneteskan air padanya, pelan Tama membuka matanya dan..
"Apa." jawab Tama lemah.
"Mamas kenapa?" tanya Laras.
"Kamu siapa malaikat ya?" tanya Tama, sepertinya nyawa Tama belum ngumpul bahkan matanya juga belum terbuka dengan sempurna.
"Hist bukan, aku Laras mas." jawab Laras, Tama masih berusaha membuka matanya tapi rasanya masih sangat berat.
"Boong kamu." balas Tama.
Tama masih memejamkan matanya, Laras tau suaminya kena pengaruh obat tidur makanya susah bangun.
Laras tersenyum melihat suaminya tertelap lagi, dia tak ingin memaksa jika saat ini Tama belum bisa membuka matanya karena kantuk yang menderanya.
Laras meminta Aldo dan istrinya masuk sedangkan Izal sudah pamit pulang karena ada keperluan mendesak.
"Kenapa dia jadi kurus gitu Al?" tanya Laras.
"Pastinya dia menyesallah kak atas semuanya, caranya memperlakukan kakak dan kerinduanya pada putri kalian." jawab Aldo.
"Baiklah kakak mengerti, kakak lihat dia tidur gitu kok jadi ikutan ngantuk ya." ucap Laras.
"Ya udah kakak tidur gi sama kamu juga tidur queen biar aku yang jaga abang." ucap Aldo, Ahirnya Sharon dan Laras pun bersiap tidur.
.....
Keesokan harinya...
Tama membuka matanya ketika mendengar suara gemricik air seperti orang mandi, dia membangunkan Aldo yang tidur sambil duduk disebelahnya.
__ADS_1
"Al, Al." panggil Tama.
"Heemmmm."
"Al." Aldo pun bangun dan membuka matanya.
"Apa bang, abang mau apa?" tanya Aldo.
"Gue mau minum Al haus." jawab Tama Aldo pun beranjak mengambilkanya minum.
Tama meminta adeknya membantunya duduk.
"Al masak semalem gue mimpi didatengin malaikat Al." ucap Tama, tentu saja ucapan Tama membuat Aldo bingung.
"Ah abang ada ada aja."jawab Aldo.
"Serius Al, apa gue udah mau mati kali ya Al." Aldo malah semakin bingung.
"Abang jangan bikin takut ah. mana ada begitu." jawab Aldo yang menilai abangnya ngawur ini.
"Emang malaikatnya bilang apaan?" tanya Aldo penasaran juga.
"Dia bilang suruh gue buka mata Al, terus dia bilang namanya Laras gue bilang aja lo boong." mendengar penuturan abangnya seketika Aldo pun tertawa membuat Sharon terkejut dan bangun dari tidurnya.
"Ah lo ga asik Al, gue serius." jawab Tama, terdengar suara seseorang membuka pintu kamar mandi dan itu adalah Laras yang baru selesai mandi bahkan dia masih menggulung rambutnya yang basah dengan handuk pemandangan yang sangat Tama rindukan, Aldo memperhatikan Abangnya yqng teka berkedip menatap istrinya, Aldo tau bahwa cinta diantara mereka masih ada bahkan tersimpan rapi sampai saat ini.
"Itu bang malaikatnya?" goda Aldo.
"***** lo kenapa lo kagak bilang kalau ada dia, bikin malu gue aja lo" bisik Tama sambil menaikan selimutnya sampai menutupi separo wajahnya.
Laras melepas handuk dikepalanya dan mulai mengeringkanya, menyisirnya dan merapikanya serta melakukan rutinitasnya seperti biasa yang dia lakukan setelah mandi.
Tama terus memperhatikan apa yang Laras kerjakan.
"Cantik ya malaikat abang." goda Aldo lagi.
"Diem lo." umpat Tama, Aldo menertawakan Tama kembali.
"Ayo queen kita pulang sepertinya kita sudah tak dibutuhkan lagi disini." ajak Aldo sambil membantu istrinya merapaikan tempat tidur yang semalam dipakai oleh Sharon dan Laras.
Author "Bagaimana reaksi mereka selanjutnya apakah malu malu, atau...entahlah kita korek dibab selanjutnya oke jangan lupa like komen end vote ya love u buat kalian yang masih setia."
Bersambung....
__ADS_1