PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Memantapkan Perasaan


__ADS_3

Sejak pertemuan terahir mereka di rumah Izal, Vano makin gencar membuktikan pada Via bahwa dia berhak mendapat kesempatan untuk menjaga pujaan hatinya.


Livia gadis yang hanya hidup dengan ibu nya karena ayahnya telah meninggal dunia ketika dia masih didalam kandungan, meski begitu dia sama sekali tak kekurangan kasih sayang, ibu nya sanggup berperan sebagai ayah dan juga ibu baginya.


Sebulan sudah Via dan Vano sepakat memulai untuk saling mengenal, Vano sangat serius dalam sebuah hubungan, sebisa mungkin dia membuat Via merasa nyaman bersamanya.


Seminggu sekali dia sempatkan untuk main ketempat dimana Via kerja (Toko parfum milik Niken), tak jarang juga Vano mengajak Via makan tapi sayang nya Via selalu membawa teman, Vano tak pernah keberatan dengan itu dia malah menjadikan teman Via sebagai rem untuk nya agar tak berbuat lebih pada Via.


Malam itu Vano membawa kabar yang mungkin sedikit membuat Via kecewa sekaligus senang sebab disisi lain ini sangat bagus buat karir Vano dilain sisi dia harus berpisah dengan kekasih hatinya.


"Vi bulan depan aku mesti ke Australi kamu ga papa kan kalau aku tinggal?" tanya Vano masih konsentrasi dengan mobilnya.


"Ngapain?" tanya Via sedikit posesif.


"Profesorku minta aku buat belajar lagi." jawab Vano.


"Ooo." Via memalingkan wajahnya membuang pandangan nya lurus kejendela dimana dia duduk, pantulan wajah nya terlihat jelas bahwa dia sangat sedih Vano tau itu.


"Ga papa kan Vi aku disana hanya sekitar enam bulan." ucap Vano lagi.


"Ga papa Dok." balas Via.


"Vi."


"Heemm."


"Aku sayang kamu." ucap Vano tapi dia masih belum berani meskipun hanya memegang tangan Via, Via sendiri belum berani membalas ucapan sayang dari pemilik hatinya saat ini.


"Vi."


"Heemm."


"Jangan kangen ya." goda Vano, Via hanya tersenyum kecut tapi bibir nya bergetar air mata matanya terlihat meluncur begitu saja, Via masih setia memalingkan wajahnya agar Vano tak melihat tangisan nya.


"Vi kamu nangis?" tanya Vano, Via menggeleng dan masih mengigit kuku kukunya.


Mobil yang membawa Via dan Vano berhenti sempurna dihalaman rumah Via, Vano mematikan mesin mobil nya dan berkata " Vi sebelum aku berangkat boleh ga aku datang ke orang tuamu?" sepertinya abang Vano tak mau kehilangan moment berharga seperti malam ini, Vano sudah merasa yakin bahwa Via juga ada hati untuknya.


"Dih kita kan ga ada hubungan apa apa pak dokter masak main minta aja." jawab Via, Vano tau jika Via masih berusaha keras membentengi perasaan nya.


"Justru karena kita ga ada hubungan Vi makanya aku pengen kita ada hubungan." jawab Vano, Via merasa terpojok dia bingung harus jawab apa.

__ADS_1


"Kamu mau ga Vi jadi bagian dari hidup aku?" tanya Vano, pertanyaan ini lebih mengarah ke lamaran.


"Pak dokter yakin sama Via?" tanya Via, karena jujur Via sendiri masih ragu pada dirinya sendiri.


"Insya Allah Vi, aku pengen kamu jadi istri aku dan ibu dari anak anak ku nanti." Via tersenyum mendengar apa yang barusan Vano ucapkan, suasana kembali hening Via masih belum berani menjawab apa yang Vano mau.


"Fisik ku ga cantik pak dokter aku punya bekas luka di punggung." jawab Via terus terang pada keadaan nya.


"Vi yang aku tidak perduli dengan fisikmu tapi aku mau hatimu." balas Vano yakin.


"Sebaiknya pak dokter fikirkan lagi, pak dokter bilang begitu karena belum tau aja seberapa parahnya luka itu." jawab Via.


"Boleh aku lihat Vi." pinta Vano, Via merasa Vano modus sekarang.


"Ga lah bukan muhrim." ucap Via, Vano tertawa.


"Vi kira kira aku banyak dosa ga ya kan aku sering Vi lihat perempuan telanjang." goda Vano.


"Ya dosa lah." jawab Via langsung sepertinya dia lupa yang bertanya padanya adalah seorang dokter.


"Oo dosa ya Vi, sebaiknya jika mereka sakit aku diam aja kali ya Vi dari pada dosa." balas Vano, seketika Via sadar bahwa dia sedang bicara dengan dokter ahli bedah.


"Hehehehe lupa Via." jawab Via tersipu malu karena kebodohan nya.


"Kalau Via ngomong nya sama orang yang suka belek (membedah) tubuh manusia juga." ucap Via lugu.


"Bisa aja kamu Vi." balas Vano, Via membuka seetbelt nya bersiap untuk turun.


"Vi kamu belum jawab pertanyaan aku." ucap Vano.


"Pertanyaan yang mana lagi pak dokter?" tanya Via balik.


"Mau ga aku lamar kamu?" Via menghela nafas dalam dalam kemudian dia pun menjawab.


"Baiklah pak dokter jika anda bisa menerima keadaan saya silahkan anda dateng ke mami saya." jawab Via.


"Serius Vi boleh." jawab Vano tentu saja ini kebahagiaan yang luar biasa untuknya.


"He em tapi janji ga minta macem macem sebelum nikah, aku mau kita taaruf aja Via ga mau pacar pacaran." ucap Via memberi syarat pada Vano.


"Baik calon ratuku, laksanakan." ucap Vano, sebenernya dia ingin sekali memeluk kekasih hatinya tapi sayang dia sudah berjanji bahwa Via tak ingin dia sentuh sebelum ijab qobul dia ucapkan.

__ADS_1


"Baiklah pak dokter sebaiknya anda pulang, ini udah sangat malam hati hati ya." ucap Via.


"Vi boleh ga kasih aku waktu sepuluh menit aja buat ngliatin kamu." pinta Vano sambil menyenderkan tubuhnya di stir mobil agar leluasa menatap wajah ayu kekasih nya.


"Dih pak dokter ntar ga bisa bobo lo keingetan Via terus." goda Via, Vano merasa sangat senang karena Via sudah mulai bisa bercanda.


"Sejak ketemu kamu aku memang susah tidur Vi." ucap Vano.


"Loh kenapa?"


"Karena kamu udah gangguin aku." jawab Vano.


"Gombal."


"Enggak Vi serius."


"Udah ah tadi udah janji lo ya ntar kalau kelamaan kita berduaan bisa bahaya pak dokter sebaiknya anda pulang." pinta Via.


"Vi boleh ga aku cium tangan kamu." Vano sudah berani meminta lebih sekarang.


"Tadi pak dokter ga minta macem macem janjinya sampai hari itu dateng." ucap Via.


"Baiklah Vi kamu menang kamu menyiksaku kekasihku ahhhhh." Vano sudah berani bermanja manja dengan Via dengan eluhan yang manis, Via hanya tersenyum melihat tingkah konyol calon suaminya, Via tetap kekeh tak ingin memberikan apapun pada Vano, tapi Vano sangat bersyukur jika kekasihnya sangat mampu menjaga benteng pertahanan nya dengan baik.


******


Kebahagiaan tak hanya dirasakan oleh Vano dan Via yang sepakat menjalin sebuah hubungan melalui taaruf dulu, disini ada pasangan Shron dan juga Aldo yang telah berbahagia karena buah hati mereka telah lahir kedunia.


Deren Rudiansyah Demitri seorang bayi laki laki berbobot 3,5 kg telah lahir dengan selamat melalui persalinan normal, Aldo si pria kocak sekarang telah menjadi seorang ayah, diruang tunggu rumah sakit sudah ada Tama dan Mami Arini serta kakek mertua nya yang mendampingi Aldo menyambut kelahiran putra pertamanya.


Tangis kebahagiaan Aldo pecah ketika memeluk mami Arini, Aldo tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada nya saat ini jika tak ada uluran tangan wanita yang kini dipeluknya, yang dengan sabar dan keiklasanya merawatnya meski Aldo bukan darah daging nya.


"Sudah jangan menangis lagi kamu itu anak mami jangan mikir macem macem." ucap Mami Arini.


"Terimakasih banyak ya mi."


"Iya sayang sama sama."


"Bang makasih ya buat semuanya." ucap Aldo ketika memeluk Tama.


"Sama sama Al."

__ADS_1


Aldo pun memeluk kakek mertua nya dan tak lupa dia juga berterimakasih telah mempercayainya untuk menjaga Sharon cucu kesayangan sang kakek.


Bersambung...


__ADS_2