
Laras tak tau apakah ini kabar gembira atau babak masalah baru dikehidupanya, ditengah masalah yang belum terpecahkan dengan suaminya dia dinyatakan hamil oleh seorang dokter yang menanganinya, Niken tersenyum bahagia ketika mengetahui sahabatnya mendapat rezeki yang luar biasa tak tanggung tanggung kini dirahim Laras ada dua janin yang bersemanyam disana.
"Ras gue seneng banget ini karunia terindah dalam hidup lo, gue doain ini adalah jalan dari Tuhan buat nyelametin rumah tangga elo Ras." ucap Niken sambil mengelus tangan sahabatnya.
"Gue ga tau Ken, terahir waktu gue hamil Zia dia ga percaya kalau anak yang gue kandung itu darah daging dia bahkan dia minta tes DNA Ken." jawab Laras air matanya kembali mengalir ketika mengingat betapa teganya Tama dengan nya dulu.
"Ras lo jangan bodoh lah, kalau dia sifatnya emang kayak gitu harusnya lo paham, mana sifat aslinya dia sama usaha dia buat menutupi kejaimanya, harusnya sikap dia ke elo ga harus semuanya lo masukin kehati, lo kan tau dia iseng gitu," jawab Niken berusaha menjelaskan perbedaan sikap Tama yang dia tangkap dari cerita yang Laras bagi dengan nya barusan.
"Menurut lo apa dia percaya Ken kalau saat ini gue hamil anak dia lagi?" tanya Laras.
"Gue jamin dia bakalan percaya Ras, kan lo ada bokap lo yang bisa ngebuktiin bahwa lo selama ini ga berhubungan dengan pria manapun." jawab Niken.
"Gue coba pikir deh Ken, gue masih belum yakin ngasih tau dia tentang Zia dan adek adeknya ini, gue ga nyangka Ken gue bisa mengandung bayi kembar soalnya dikeluarga gue ga ada keturunan." jawab Laras dia sudah bisa bercanda lagi, Niken bahagia karena sahabatnya mengerti dengan apa yang dia ucapkan, tak lupa Niken juga berdoa suapaya rumah tangga Laras kembali utuh seperti semula.
"Ye,, kan lo kata kagak tau asal usul bokap lo, siapa tau salah satu keluarganya ada yang kembar atau keluarga dari laki lo mungkin."jawab Niken.
"Ken makasih banyak ya lo udah buka hati gue, sebenernya gue kangen Ken sama mas Tama, tapi rasa sakit dihati gue mengubah itu semua."
"He em gue ngerti lo yang sabar, semoga ada jalan buat lo ketemu dia lagi ya Ras, dan jelasin semua ganjalan yang ada dihati kalian." Niken pun memeluk sahabatnya.
"Gue doain semoga secepatnya lo ketemu jodoh sejati lo ya Ken." Laras balik mendoakan kebahagiaan sahabatnya.
"Amin Masya Allah, yang penting kita selalu pandai bersyukur Ras mudah memaafkan bukanya itu yang diajarkan ustad Ryan pada kita hahahah." Seketika Niken ingat mantanya.
"Ah elo Ken, dia udah nikah sekarang sama orang Prancis, udah lo move on move on oe." goda Laras.
"Serius lo dia udah nikah, syukurlah ahirnya doi bahagia juga nyesel juga gue pernah main api sama dia hahaha, tapi sudah lah mungkin ga jodoh." jawab Niken.
"Gue salut ama lo Ken, lo kayaknya ga ada beban." ucap Laras.
"Bukan gue ga ada beban Ras, beban ma adalah pastinya tapi gue selalu ngejalaninya dengan iklas pasrah aja semua pasti ada jalan nya." jawaban Niken membuat Laras kembali mencoba mengiklaskan apa yang terjadi padanya selama ini, dia juga berjanji dalam hatinya akan mempertemukan Zia dan daddynya masalah nanti Tama memaafkanya atau tidak dia akan iklas ngejalaninya seperti apa yang sahabatnya ucapkan.
****
Mami Arini sangat khawatir sudah dua hari ini Tama tak keluar kamar, dia pun menghubungi Aldo untuk membantunya membujuk abangnya paling tidak untuk turun makan, setelah menunggu hampir satu jam ahirnya Aldo pun datang.
"Ada apa mi, abang kenapa lagi?" tanya Aldo.
__ADS_1
"Abangmu udah dua hari ini ga keluar kamar dek, bahkan makan pun enggak mami takut." jawab Mami Arini.
"Papi kemana?" tanya Aldo.
"Papimu ke Jepang kemarin ada sedikit masalah disana."jawab Mami Arini.
Aldo pun menggedor kamar Tama, tak ada jawaban membuat mereka ketakutan terlebih mami Arini.
"Kunci cadangan mana mi?" pinta Aldo.
Mami Arini pun mencarikan kunci cadangan, ternyata ga bisa karena kunci didalamnya tidak dicabut, Aldo berusaha mendobrak sayangnya pintu itu terlalu kuat.
"Mi panggil mang ujang sama siapa aja yang laki mi." pinta Aldo, mami Arini pun menuruti perintah Aldo dan tak lama bala bantuan pun datang, bertiga pun gantian mendobrak pintu Tama betapa terkejutnya mereka melihat Tama tertidur diranjang tanpa bergerak sama sekali, Aldo segera memeriksa keadaan abangnya, Mereka semua pun panik.
"Mang cepat siapakan mobil, bang bang abang bangun bang." Aldo mencoba menepuk nepuk pipi Tama, detak jantungnya melemah hampir tak bisa dideteksi dengan rabaan jari.
Dengan sigap Aldo menggendong abangnya, Tama yang biasanya berpenampilan tinggi tegap bisa dikatakan proposional kini menjadi kurus kering hanya tinggal tulang dan kulit, sehingga tak susah buat Aldo menggendongnya, ditemani mami Arini Aldo pun membawa abangnya ke rumah sakit.
Kekhawtiran tampak jelas di wajah keduanya.
"Mami mesti gimana, mama rasa dia menyesal dengan apa yang udah dia lakukan pada Laras Al, makanya dia menghukum dirinya sendiri, apakah kita harus kasih tau ini ke Laras mungkin setelah Laras memaafkanya abangmu akan jadi lebih baik," jawab mami Arini.
"Boleh juga tu mi, tapi kita ga tau dimana kak Laras sekarang berada." ucap Aldo.
"Kamu ketempat tante Arika aja Al, tanya sama om Robin dia pasti tau keberadaan putrinya." jawab Mami Arini.
"Hah, apa mi om Robin bokapnya kak Laras mi?" Aldo terkejut dengan fakta yang barusan dia dengar.
"He em, ceritanya panjang Al nanti kapan kapan mami cerita, pergilah tolong abangmu." ucap Mami Arini, tanpa berfikir lagi Aldo pun segera ketempat Om Robin dan menanyakan keberadaan Laras.
Om Robin belum memberi tahu keberadaan Laras pada Aldo, dia hendak melihat dulu keadaan Tama, dia tidak mau gegabah dalam mengambil sikap, dia juga tak ingin membuat putrinya susah.
Dirumah sakit Tama sudah sadarkan diri, tapi dia masih belum mau bicara tentang apa yang dia rasakan hanya matanya yang bergerak kekanan dan kekiri merespon ucapan lawan bicaranya, jika dia menolak berkomunikasi dia hanya akan memiringkan tubuhnya, hati ibu mana yang tak gila melihat darah dagingnya berubah menjadi seperti ini.
Kedatangan Robin disambut baik oleh mami Arini.
"Mbak dia kenapa?" tanya Robin setengah berbisik.
__ADS_1
"Aku tak tau Bin dia ga mau ngomong."jawab Mami Arini sambil menangis dihadapan adik iparnya.
"Boleh aku bicara berdua dengan putramu mbak."
"Silahkan Bin, tolong bantu dia keluar dari keterpurukanya." pinta mami Arini.
"Saya coba ya mbak."jawab Om Robin, Mami Arini dan Aldo pun keluar ruang rawat Tama.
Om Robin mengelus punggung mantunya, wajahnya sangat pucat pandanganya kosong.
"Tam, ini papa apa kamu dengar?" tanya Om Robin, Tama mengedipkan matanya.
"Apa kamu kangen sama Laras heemm?" tanya om Robin lagi, seketika air mata Tama keluar begitu mendengar nama istrinya disebut.
"Apa kamu pengen ketemu Laras?"
"He em." itu kata pertama yang terucap dari bibir pucat Tama.
"Apa kamu mencintai Laras?"
"He em."
"Apa kamu menyesal telah menyakitinya?"
"Iya pa." jawab Tama lagi.
"Papa akan bawa istrimu kesini, papa harap apapun nanti keputusan Laras papa harap kamu menerimanya dengan lapang dada, yang penting kalian sudah saling memaafkan ya Tam, biar ga ada lagi masalah yang membelenggu hati kalian, papa berharap juga kamu bisa mengambil hikmah dari semua masalah yang kalian hadapi, ga semua masalah harus dihadapi dengan emosi, apa Tama mengerti maksud papa." ucap Om Robin.
"Tama ngerti pa, Tama minta maaf." jawab Tama dengan suara lemahnya.
"Kamu istirahat ya papa akan coba bujuk Laras agar dia mau menemui dan memaafkanmu, habis ini makan ya biar kuat nanti nglawan Laras." Om Robin berusaha membangkitkan semangat Tama dengan alasan Laras.
"Iya pa."
"Bener loh kalau ga makan papa ga jadi bawa Laras kesini, sebagai sesama laki laki papa malu nanti kalau kamu sampai kalah lawan perempuan, mereka itu tempatnya diketek kita jangam bodoh macam papimu, mengerti." kekocakan om Robin mampu memberikan sedikit energi kebahagiaan dihati Tama, dia pun tersenyum bahagia.
Bersambung....
__ADS_1