
Laras sudah memantapkan hatinya untuk ikut pergi bersama papanya, bertekat melupakan segalanya tentang Tama tentang cintanya tentang kenangan indahnya, bagi nya semua rasa sakit ini cukup sudah berkali kali Tama menolaknya bahkan mengusirnya dari kehidupan rumah tangga mereka lalu apa lagi yang mesti dipertahankan, biarlah semua berahir sampai disini batin Laras.
"Om."
"Ya."
"Kita mau naik ini?" tanya Laras ketika mobil yang membawanya berhenti tepat disebuah pesawat pribadi yang menurutnya sangat mewah, karena jujur saja ini adalah pengalaman pertamanya naik pesawat pribadi.
"He em."
"Om ini punya om apa om nyewa demi nganterin Laras?" tanya Laras, keluguan Laras kembali terlihat disini.
"Kamu ini tanya apa?" jawab om Robin.
"Om seriusan ini punya om." Laras masih ga percaya ketika menaiki tangga pesawat, bakan dia berkali kali memegang baju om Robin.
"Sudah ayo naik ga usah pikirkan ini punya papa apa bukan yang penting kita sampai dengan selamat oke." ucap Robin kembali mengandeng tangan putrinya, didalam pesawat Laras kembali terkagum kagum disana hanya ada beberapa kursi dan dibelakangnya ada ruangan yang mirip dengan kamar.
"Om nanya sekali lagi ya?" Laras masih saja penasaran rupanya.
"Apa?" Robin duduk dengan santai.
"Ini milik om apa nyewa hayo?" tanya alaras setengah memaksa, kali ini dia harus tau jawabanya.
"Kamu ini kayak ga pernah naik pesawat pribadi aja." jawab Robin santai kemudian menarik Laras untuk duduk dikursi sebelahnya.
"Om serius ayolah." desak Laras.
"Ini milik papa puas." jawab Robin malas meladeni rengekan Laras.
"Serius om, pantesan om banyak cewek la wong tajir melintir beneran e." gumam Laras, Ingin sekali Robin jitak kepala bodoh anaknya.
"Eh om tanya sekali lagi." Robin malah tertawa melihat kelucuan Laras, meski sudah besar bahkan sudah menjadi seorang ibu tapi Laras tetap seorang putri yang menggemaskan bagi Robin.
"Apa lagi?" jawab Robin sesantai mungkin.
"Kerjaan om apa kok bisa tajir gini?" tanya Laras lagi, seketika ide jahil Robin keluar.
__ADS_1
"Jual beli organ dalam manusia." jawab Robin asal asalan bahkan dia sama sekali tak tersenyum mukanya terlihat serius.
"Hah." tentu saja Laras terkejut dengan jawaban om Robin, bahkan dia menanggapinya dengan serius.
"Om serius, kalau gitu Laras turun ga mau Laras ikut om," Laras bergegas hendak berlari tapi dengan cepat Robin meminta ajudanya untuk menangkap Laras.
"Tangkap wanita itu, kita sudah terima uang nya bukan kalau dia kabur alamat rugi kita." Robin mulai suka mempermainkan Laras, dua ajudan itu pun langsung tanggap dan memegang kedua tangan Laras.
"Om mau apain Laras?" tanya Laras.
"Ambil ginjalmu lah apa lagi, siapa suruh bodoh." jawab Robin.
"Ih lepas, Laras ga mau om." jawab Laras ketakutan.
"Makanya kalau ga mau duduk sini dan panggil aku papa kalau ga tau sendiri akibatnya." jawab Robin, dengan hati kesal Laras pun kembali duduk dan menatap tajam kearah ajudan yang memegangnya tadi, Laras merasakan pesawat yang membawanya sudah berjalan mundur kemudian memutar dan maju, pesawat siap take off, kembali Laras bertanya pada Robin.
"Om ga serius kan dengan ucapan om tadi?" tanya Laras lagi, kali ini Robin merasa itu bukan pertanyaan melainkan rayuan.
"Serius kalau kamu ga ubah panggilanmu." jawab Robin.
"Om ayolah om kan baik." rayu Laras, Dua ajudan Robin yang ada didalam pesawat itupun tertawa.
Pesawat take off dengan mulus, Laras sudah tak merasakan ada goncangan dia pun kembali bertanya, kali ini bukan pada Robin terlebih pada kedua ajudan Robin.
"Hay kalian apakah yang diucapkan kakek tua ini benar?" bisik Laras pada mereka.
"Jangan bohong kalian katakan sejujurnya pada putriku siapa aku sebenarnya, jika kalian bohong kalian sudah tau akibatnya bukan." ucap Robin pada kedua ajudanya, seketika mereka pun paham bahwa bos mereka minta dukungan.
"Yang dikatakan bos besar benar non, pekerjaanya memang seperti itu." jawab salah satu dari mereka, jawaban itu seketika membuat Laras bergetar, Laras tak ingin bertanya lagi dia pun memilih diam membuat Robin semakin menikmati keluguan putrinya.
Perjalanan mereka tak membutuhkan waktu lama hanya kisaran satu jam tiga puluh lima menit pesawat yang membawa mereka pun mendarat dengan selamat..
"Hay kalian jangan sampai wanita ini kabur kurung dia ditempat terbaik, kasih makan yang banyak jangan sampai ginjalnya bermasalah kalian paham." perintah Robin pada para pengawal yang hendak mengawal Laras, nyali Laras untuk kabur seketika menciut melihat para pengawal yang membawanya, salah satu pengawal yang mengawal Laras ada yang sejenis denganya, perempuan itu sangat cantik tapi menakutkan, Laras hanya sesekali meliriknya dia belum berani bertanya, nanti aja lah tanya nya kalau kita cuma berdua batin Laras.
......
Julukan Robin si Raja Singa yang diberikan oleh para kolega koleganya ternyata bukan hanya isapan jempol, benteng pertahanan musuh yang melindung Luna runtuh oleh kekuatanya, King Cobra itu pun bertekuk lutut padanya bahkan mereka pun dengan suka rela menyerahkan Luna padanya.
__ADS_1
(Matilah sekarang kau Luna..gemes aku).
Prok prok prok
Tepuk tangan musuh Robin menggema disebuah rumah yang disinyalir merupakan markas musuhnya yang melindungi wanita rubah itu, sang bos besar menyambut kedatangan Robin dengan congkaknya.
"Wah lihat siapa yang berani datang menyerahkan nyawanya pada kita." tantang pimpinan King Cobra menyambut kedatangan Robin Si Raja Singa.
"Jangan banyak mulut kau Betran aku tidak ada masalah apapun denganmu ." jawab Robin.
"Haha kalau kita tidak ada masalah untuk apa kau datang kemarkasku kalau tidak menantangku, bahkan kau berani mempora porandakan dinding kesatuanku hah." kembali Betran menunjukan kekesalaan nya karena anak buah nya hampir habis dibantai oleh anak buah Si Raja Singa yang perkasa ini.
"Bukankah aku memintamu menyerahkan wanita rubah itu secara baik baik padaku lalu kenapa kau malah mengirim pasukanmu untuk mengancurkanku, bukan kau kau duluan yang memulai nya Betran." Balas Robin tak kalah sengit.
"Diam kau." bentak Betran dan dengan gagahnya dia mengacungkan senjata ke arah Robin, anak buah Robin dengan sigap berdiri didepan Robin.
"Hay kalian tidak perlu seperti itu, King Cobra kita sudah hilang kekuatanya kalian tak usah takut." ucap Robin memperingatkan anak buahnya, emosi Betran mulai memuncak.
"Kau pilih wanita rubah itu apa ini." Robin bersiul sekencang mungkin, pertqnda itu adalah perintah untuk para ajudanya, dia menyuruh anak buahnya untukmengeluarkan sandra mereka yaitu salah satu adek perempuan dari Betran.
"Berani sekali kau raja singa sialan."umpat Betran.
Seketika wajah Luna memerah seoalah dia sudah tau jawaban apa yang akan Betran berikan pada Robin.
"Berani sekali kalian menyentuh anggota keluargaku." bentak Betran.
"Hahahahahaha, bodoh sekali kau King Cobra demi wanita rubah ini otakmu menjadi tak berfungsi rupanya." jawab Robin dengan arogannya.
"Satu dua silahkan pilih dan tiii.." Robin sudah tak mau mengulur waktunya.
"Baiklah aku pilih adek ku." Betran kemudian mendorong Luna hingga jatuh tersungkur di hadapan Robin.
Ajudan Robin pun segera melepaskan tawananya dan membawa Luna pulang.
Pertempuran belum selesai sampai disini, King Cobra belum bisa menerima kenyataan ketika Sang Raja Singa berhasil mengobrak abrik pertahananya, dengan sekali tendang dia mampu menjatuhkan Robin kesempatan itu digunakan Luna untuk kabur, sayang nya orang orang Robin yang ada di depan rumah Betran tetap siaga mereka tak butuh waktu lama untuk meringkus Luna.
Dengan beberapa pukulan dan tendangan ahirnya King Cobra pun terkapar tak berdaya, Si raja singa pun menang dan berlenggang dengan tenang meninggalakn markas King Cobra.
__ADS_1
Bersambung...