
Ryan membawa Laras masuk kedalam mobil yang membawa mereka tadi. Dimobil Ryan memberikan tisu untuk Laras, dia tau tisu itu hanya bisa menghapus air mata Laras tapi tidak dengan luka dihatinya.
"Ras kamu oke?" tanya Ryan.
Laras hanya mengangguk kemudian menangis lagi, tangis Laras benar penar pecah sekarang, bahkan dia berkali kali memukul dadanya untung ada Ryan yang lebih kuat menahanya untuk tidak melakukan itu.
"Ras jangan menyakiti diri lo sendiri ingat baby lo ikut merasakan ini, kasihan dia istigfar Ras." ucap Ryan mengingatkan sahabatnya.
"Pak tolong tepikan mobilnya dulu, biarkan adek saya tenang dulu." pinta Ryan pada supir pribadi temannya (Dion).
"Baik den." jawab pak supir.
"Nangis nangis aja Ras jangan pukul pukul dadamu kasihan baby mu, yang sabar kemarin kan gue udah bilang Tama itu baru bangun tidur nyawanya belum ngumpul, mungkin ada bagian memorinya yang belum dia ingat ngerti kan maksud gue." ucapan Ryan sedikit memberinya kekuatan.
"Gue bisa gila karena ini Yan, kenapa dia selalu begitu dia selalu ngrendahin gue Yan dia tak pernah ngehargain gue, Apa salah gue Yan?" baru kali ini Ryan mendengar Laras menumpahkan isi hatinya, mengingat Laras adalah pribadi yang tertutup.
"Yang sabar Ras ambil hikmahnya, lo mau nya apa sekarang?" tanya Ryan.
"Bawa gue balik ke Paris Yan gue ga mau disini." pinta Laras.
"Bukan gue ga mau bawa lo Ras, lo masih istrinya lo punya kewajiban bertahan disampingnya apapun yang terjadi, gue ga mau bikin lo durhaka ama laki lo selesaikan masalah kalian, jangan menghindar gue yakin lo pasti bisa ngadepin dia, Tuhan ga akan salah kasih lo jodoh lo harus yakin lo pasti bisa nglewati ini, biar pun nanti perpisahan atau tetap bertahan yang penting sudah ga ada lagi masalah yang mengganjal diantara kalian, kamu ngerti Ras." Laras paham dengan apa yang sahabatnya ucapkan.
"Gue harus gimana Yan, saat ini gue bener bener ga bisa mikir." jawab Laras.
"Lo pulang aja kerumah lo yang lama ikuti aja alurnya Ras, gue yakin nanti orang tua Tama bakalan bantu lo buat ngejelasin ini semua ke Tama, lo sabar aja dulu." ucap Ryan sambil memegang erat tangan sahabatnya.
"Maaf ya Yan gue udah masukin lo kedalam masalah gue, maaf banget." tangis Laras pecah lagi.
"Huusssttt, lo ga usah pikirin gue sekarang tenangin diri lo, lo ada mbak ga dirumah?" tanya Ryan.
"Ga ada Yan kalau yang tinggal, kalau yang dateng pulang ada seminggu 2x batuin gue bersih bersih." jawab Laras.
"Bukan itu maksud gue Ras, lo kan lagi isi udah tua pula takutnya pas lo mules ga ada yang tau, kalau laki lo paham sih ga papa kalau kagak kayak gini gimana gue tega ninggalin lo coba." Laras bahagia setidaknya ada seseorang yang mengerti akan keadaanya.
"Udahlah Yan gue ga papa lo bantu gue sampai sini aja gue udah makasih banyak." ucap Laras.
"Yuk pak kita jalan, anterin saya ke Tanggerang ya pak ini alamatnya." Laras memberikan ponselnya lagi pada pak supir.
__ADS_1
"Baik non." pak supir melajukan kendaraanya lagi.
"Pak ada sodara yang mau kerja ga pak, buat nemenin adek saya pak?" tanya Ryan pada pak supir.
"Adek saya mau den, kemarin dia minta dicariin kerja." jawab pak supir.
"Ha boleh tu pak, sekarang dia ada dimana?" tanya Ryan.
"Ada dikontrakan saya den kemarin baru dateng dari kampung." jawab pak supir.
"Ya udah nanti selesai antar kami bapak jemput dia ya buat nemenin adek saya pak."pinta Ryan.
"Baik den." jawab pak supir.
Laras memasuki rumah yang sudah ditinggalkanya empat bulam terahir ini, tangis Laras pecah lagi ketika memasuki kamarnya, kamar dimana dia pernah memadu kasih dengan suami tercintanya, bukan hanya kata kata Tama yang menyakitinya tapi juga penolakan Tama terhadap buah hati mereka.
Ryan membiarkan Laras menenangkan dirinya dikamar, dia menunggu asisten rumah tangga yang akan menemani Laras nantinya dan juga Ryan juga menyuruh orang untuk mengisi penuh kebutuhan Laras selama dia masih menenangkan diri, tak lama orang kepercayaan Ryan pun datang dia membawa beberapa kantong plastik belanjaan, begitu juga mbak yang akan menjaga Laras juga sudah datang, Ryan pun memberi perintah pada mereka berdua untuk menjaga mereka.
"Mang Tono sini, sama bik siapa?" ucap Ryan dengan kedua pegawai yang akan dia tugaskan untuk menjaga Laras.
"Mang sama bibik saya minta tolong sama kalian berdua buat jagain adek saya, kalian kan sudah tau kan kalau dia sedang hamil, bik Marni pokoknya tugas mu hanya jaga dia siapkan semua keperluanya jangan kasih dia lelah, untuk bersih bersih nanti ada yang bantu bibik, kalau butuh apa apa atau mau kemana mana nanti bibik bisa menghubungi mang Tono bik, mang Tono selalu siap kan dipanggil, untuk gaji bibik nanti mang Tono antar, jangan ambil dari adek saya ya bik karena saya yang memperkerjakan bibik jadi gaji bibik adalah tanggung jawab saya. mang Toni tolong selalu stanbay karena yang kita jaga ini sedang berbadan dua takut dia kontraksi sewaktu waktu, kalian mengeri?" ucap Ryan pada kedua pegawai barunya.
"Siap mengerti den." jawab mereka.
Ryan minta ditemani bik Marni untuk masuk kedalam kamar Laras.
"Bik tolong temani saya kekamar non mu." pinta Ryan, Ryan ga mau diahir nanti ada fitnah mengingat Tama sudah salah paham padanya.
"Baik den." jawab mbak Marni.
Ryan duduk disisi ranjang Laras, dia melihat sahabatnya meringkuk sedih seperti bayi. sungguh pemandangan yang menyedihkan bagi siapapun yang melihatnya.
"Ras, bangun yuk makan." bujuk Ryan.
Laras menangis dan menggeleng.
"Ras kasihan baby mu." bujuk Ryan lagi, Laras menghapus air matanya dan berusaha bangkit, bik Marni dengan cekatan membantu Laras duduk.
__ADS_1
"Siapa kamu?" tanya Laras, bik Marni menatap Ryan, Ryan pun mengaguk memberi kode pada bik Marni untuk menjawab pertanyaan Laras.
"Saya Bik Marni non yang mau bantuin non disini." jawab nik Marni.
"Oo. makasih ya bik." jawab Laras.
"Bik tolong siapin makanan yang tadi mang Tono beli ya bik, bawa aja kesini." pinta Ryan pada bik Marni.
Bik Marni pun pergi mengerjakan perintah Ryan.
"Yan gue ga pantes terima ini semua dari lo Yan." ucap Laras.
"Udah ga lo ga usah mikir pantes apa ga panter Ras, gue tau sekarang lo sedang berada dititik terendah lo, yang sabar ya Ras, yang iklas semua akan baik baik saja percayalah semua akan indah pada waktunya. sory banget gue ga bisa lama lama dimari, lo tau kan jadwal gue padat banget, oia soal gaji mbak ama supir lo biar gue aja yang kasih lo jangan pikirin, pokoknya lo jaga kesehatan lo, lo jangan nangis lagi gue tau lo sayang sama laki lo tapi lo juga harus inget ada yang lebih butuhin lo yaitu baby lo jadi lo harus bertahan harus kuat demi baby lo, ngerti kan lo." Ryan tak henti hentinya memberi nasehat dan dorongan moril buat sahabatnya.
"Iya Yan gue bakalan inget itu." jawab Laras sambil mengelap air matanya.
"Ya udah lo harus makan ya janji." Ryan memberikan kelingkingnya dan Laras menyambutnya mereka saling tersenyum.
"Semangat ya Ras, gue pamit ya ga enak ama Dion gue, kapan kapan gue kenalin dia ke elo oke." ucap Ryan setengah menggoda.
"He em makasih ya Yan, sampein sama temen lo makasih juga bantuanya." jawab Laras.
"Oke bu walikota siap laksanakan." jawab Ryan.
"Salam buat ayang beb mu ya Yan, makasih banyak."
"Oke, teruslah berkarya Ras ntar kalau lo lahiran gue bawa dia kesini pasti dia seneng banget."
"Insya Allah semoga gue masih ada ya Yan."
"Ngomong apaan sih lo." Ryan mendekap langsung sahabatnya, Laras menangis lagi Ryan yang awalnya kuat pun ikutan menangis.
"Gue ga kuat lagi Yan, gue pengen mati rasanya." Laras kembali histeris.
"Sekali lagi lo ngomong gitu gue marah bener ama elo Ras, lo jangan gila." Laras kembali menangis tiba tiba nafas Laras tersegal segal pelukan yang tadinya kuat menjadi lemah, Laras pingsan.
Bersambung...
__ADS_1