
Niken tertegun menyesal, dia menyesal kenapa Izal dan Laras tadi menyelamatkan nya kenapa tak membiarkanya mati saja tadi, Laras mendekati sahabatnya yang masih saja menangis dalam diamnya.
"Ken yang sabar ya, jangan kayak gini lagi kasihan dia, dia sangat khawatir sama kamu bahkan dia terus menangis takut kamu kenapa napa." ucap Laras sambil mengelus tangan sahabatnya, Niken masih diam.
"Ken apa kamu benci padanya?" tanya Laras Niken mengaguk.
"Kamu kan tau jika dia juga dijebak sama kayak kamu kalian berdua korban Ken, Dia pria yang baik Ken karena aku juga mengenalnya, kalau boleh jujur aku sendiri tak percaya bahwa dia bisa melakukan hal sekeji ini ternyata benar ini bukan atas kemauannya." tambah Laras.
"Bagaimana jika ibu ku tau Ras, bisa mati aku." ucap Niken.
"Mas Tama dan Adek iparku sekarang sedang kerumah ibu mu Ken, semoga Ibumu mengerti jika ini adalah musibah, kamu jangan takut ya percayalah Izal akan mempertanggung jawabkan perbuatanya, saya pastikan Dia pria yang baik Ken semua pasti akan baik baik saja heeem." Laras mencoba menanamkan kepercayaan diri.
"Aku ga tau Ras aku aja ga kenal dia." ucap Niken.
"Namanya lengkapnya kalau ga salah Fariz Rizal Ken, usia nya seumuran adek iparku dia seorang duda anak istrinya meninggal dalam kecelakaan, dia asli jawa rumah orang tuanya di Kediri kayaknya dia juga udah yatim piatu terus apa lagi ya aku ga tau lagi Ken nanti kenalan sendiri ya, siapa tau dia jodoh kamu." ucap Laras kembali tersenyum manis.
"Ngaco kamu." Niken tersenyum malu malu.
"Ya kan siapa tau." ucap Laraas, tak lama Izal pun masuk.
"Maaf non saya lama." ucap Izal menyapa Laras.
"Iya ga papa sini Zal aku kenalin kamu sama sahabat aku." panggil Laras seolah mereka sedang tak berada di satu masalah, Izal pun mendekat.
"Zal kenalin ini sahabat aku namanya Niken Rahayu dia bos parfum bro, Niken ini asisten suamiku namanya Faris Rizal kamu bisa panggil dia Aak Izal dia duren teroke di Lucas Compeny." goda Laras, dia berusaha mencairkan suasana agar tak terasa kaku dan mencekam, lucu juga ya godain mereka batin Laras.
"Apaan sih lo Ras." balas Niken.
"Yang gue omongin kenyataan kali ya kan Zal kalau elo duren, duda keren tajir juragan cengkeh." tambah Laras sambil melirik Izal yang tersenyum sedikit.
"Zal lo jadi orang jangan diem diem bae, ngomong, kalemnya disimpen dulu ga dapet dapet bini ntar." Laras mulai mencari cara untuk mendekatkan Niken dan Izal lewat godaan godaannya.
"Saya sudah ada calon non." ucap Izal spontan.
"Serius lo siapa?" tanya Laras penasaran.
"Awas lo kalau ga tanggung jawab ama temen gue, gue becek becek lo sampai penyok ga berbentuk." Laras mulai kesel dengan muka Izal yang datar datar aja.
__ADS_1
"Kalau dia mau hari ini juga saya siap nikahin dia non." tambah Izal sambil menatap mata sayu wanita yang berbaring lemah diranjang pasien.
"Kita kan ga kenal bapak, dih aneh." balas Niken pelan.
"Kita bisa saling mengenal setelah menikah, kamu mau." Izal sepertinya tak ingin hal ini terjadi lagi, meski hanya untuk bertanggung jawab dia rela melakukan ini dia iklas karena ini memang terjadi karena keteledoranya.
"Bapak ga perlu begitu toh kita berdua sama sama korban pak, saya ga papa bapak boleh pergi ninggalin saya bapak ga perlu merasa bersalah, ( Niken mengatur nafasnya sebentar) saya akan baik baik saja tidak ada yang perlu diperbaiki saya sudah hancur, sana jangan dekati saya." usir Niken pada Izal, Izal menatap melas kearah Niken, kemudian dia memilih pergi meninggalkan ruangan Niken dia tak ingin membuat jika Niken bertambah tertekan, bahkan ucapan dokter tadi masih mengganggu pikiran nya.
"Ken bukanya gue mau maksa elo buat terima dia, tapi kasihan dia juga kalau lo usir usir gitu, dia kan niatnya baik mau bertanggung jawab atas kekhilafan nya, cobalah mengerti dia sedikit."
"Gue ga bisa Ras nikah sama orang yang ga cinta sama gue."
"Mana Niken yang dewasa lo lupa Ken kemarin pas diSingapur siapa yang nasehatin gue hingga gue mampu memaafkan suami gue, cobalah Ken buat maafin dia kan ini juga bukan seratus persen kesalahan dia, gue dulu nikah ama pria arogan yang lo lihat tadi juga ga ada rasa cinta Ken buktinya kami malah dapet hadiah ni mau tiga" Laras kembali menggoda sahabatnya dengan mengelus perut buncitnya.
"Gue ga tau Ras, gue juga ga bisa kali ngrebut kebebsan dia." ucap Niken.
"Jalan bareng bukan berarti merebut kebebasan Ken, percayalah padaku dia pria yang baik dia pasti bisa jagain kamu." tambah Laras.
Niken diam, Laras tau jika perasaan sahabatnya ini sedang bimbang.
Izal duduk sendiri didepan ruang rawat Niken, tak lama Tama dan Aldo datang membawa seorang wanita paruh baya, Tama memperkenalkan wanita itu sebagai ibu dari Niken Izal mengambutnya kedatangan wanita itu dengan uluran tangan nya.
"Apa kamu pria itu?" tanya Ibu nya Niken.
"Benar nyonya." Izal tak mungkin berbohong lagi, nasi sudah menjadi bubur jujur adalah jalan terbaik untuk saat ini.
"Bisa kalian tinggalkan kami." pinta Ibu Niken pada Tama dan Aldo.
"Baik nyonya." jawab Tama dan Aldo.
Kemudian Izal pun mempersilahkan Ibu nya Niken untuk duduk.
"Silahkan duduk nyonya." ucap Izal.
"Heemmm." jawab nya.
"Siapa namamu?"
__ADS_1
"Saya Fariz Rizal nyonya."jawab Izal.
"Berapa umurmu?"
"29 tahun nyonya."
"Sudah pernah menikah?"
"Sudah nyonya."
"Heemm, jadi kamu berkeluarga."
"Anak dan istri saya sudah meninggal nyonya."
"Heemm, jadi kamu duda."
"Benar nyonya."
"Jangan panggil saya nyonya, saya bukan bos mu panggil saya tante saja."
"Baik tant."
"Dimana orang tuamu?"
"Bapak dan Ibu saya sudah meninggal tant."
"Kamu asli mana."
"Jawa Timur tant, Kediri."
"Ooo, baiklah ceritakan padaku kronologi yang terjadi, saya belum bisa menemui putriku sebelum saya tau apa yang sebenernya terjadi, kedua temanmu tadi sudah cerita kenapa saya tidak marah, tapi saya ingim mendengar sendiri dari mulutmu apa yang sebenernya terjadi," ucap Ibu Niken, dia tak ingin salah dalam menghadapi kasus putrinya karena ternyata dia adalah seorang pengacara pantas daja dia sangat tenang.
Izal pun menceritakan dari awal sampai ahir tentang apa yang menimpa nya dan Niken tampa menambah dan mengurangi sedikitpun.
"Baiklah saya paham, apakah kamu bersedia bertanggung jawab terhadap putriku?" tanya Ibu Niken.
"Saya bersedia bertanggung jawab atas kekhilafan saya tant, asal Mbak Niken juga mau menerima pertanggung jawaban saya." jawab Izal mantap.
__ADS_1
"Baiklah, persiapakan dirimu malam ini juga kalian menikah." ucap Ibunya Niken tanpa ragu, karena dalam hatinya dia juga sudah menilai bahwa Izal adalah pria yang baik.
Bersambung...