PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Awalnya Karena Cinta


__ADS_3

Laras sudah sadar dari pingsanya, Tama yang mendapat kabar itu langsung tancap gas menuju rumah sakit ditemani oleh Aldo dan Ryan.


Tama tak mengucapkan sepatah kata pun dia langsung mendekati ranjang pemilik hatinya.


"Hay, bagaimana perasaanmu?" tanya Tama selembut mungkin.


"Laras lebih baik mas, mas kok kusut mas dari mana Laras cari tadi?" tanya Laras.


"Mas ga kemana mana sayang, mas cuma keluar bentar ngopi ama mereka." jawab Tama berbohong, Laras tersenyum mendengar jawaban suaminya dia merasa baikan karena suaminya tak melakukan apapun, dia hanya ngopi batin Laras.


"Mas kok dedek ada disini, apakah orang jahat itu mau mengambil putri kita?" tanya Laras.


"Ga sayang oma nya yang mau jagain baby Zia, oia sementara kamu tinggal dirumah mami dulu mau kan?" Laras langsung menangkap keanehan disini pasti ada sesuatu yang tak beres, kalau enggak mana mungkin suaminya segitu posesifnya padanya.


"He em Laras nurut aja." jawab Laras.


"Makasih kamu udah mau nurut sama mas." bisik Tama sambil tersenyum nakal.


"Emang Laras penah nglawan ya?" tanya Laras, Tama tak menjawab dengan kata kata dia hanya mencolek hidung Laras dan meninggalkanya begitu saja, dasar manusia es sama sekali ga romantis batin Laras protes.


Tama kembali bergabung dengan Aldo dan Ryan dimeja makan ruang rawat Laras.


"Bro sori gue besok mesti balik, tapi lo tenang aja besok sepupu gue bakal bantuin lo, dia tim pengacara Dion juga, besok dia yang bakalan ngedampingin lo ketemu sama om Irvan kuasa hukum om Herman." ucap Ryan sepelan mungkin supaya Laras tak mendengar dan curiga pada mereka.


"Siap, thanks u bro lo udah bantu kita sampai sini, semoga perjalanan lo lancar." ucap Tama sambil memeluk sahabat barunya, mata Laras melotot ketika melihat kejadian langka itu, aku harus tanya kan ini, batin Laras.


Chintya dan Ryan pun berpamitan, soalnya pesawat yang akan membawa mereka kembali ke Prancis dijadwalkan pagi.


Aldo dan mami Arini pun ikutan pamitan karena pendarahan Laras sudah berhenti dan Laras juga merasa lebih baik.


Kini diruangan itu hanya ada Laras dan Tama baby Zia pun sudah terlelap dibox bayinya, bukan Tama namanya kalau bukan raja iseng, Berkali kali dia mencium pipi Laras tanpa ijin bahkan semua kecupan itu dilakukan dengan tipu muslihat nya.


"Seneng ya ditemenin mas ha." goda Tama tersenyum manja.


"Dih pe de." jawab Laras ketus dan cup..


kecupan Tama mendarat dipipi Laras, Mata Laras melotot ke arah Tama.


"Apaan sih mas." Laras bertambah marah, Tama langsung naik keranjang Laras dan masuk kedalam selimut istri cantiknya.


Tanpa disuruh Tama langsung memeluk Laras, dia juga menaik kan kakinya diatas kaki Laras.

__ADS_1


"Masss....berat ih." Laras memukul lengan Tama.


"Diamlah honey aku lelah banget hari ini." ucap Tama suaranya terdengar serak seolah tertahan sesuatu yang sulit diartikan.


"Mas kenapa kok suaranya gitu?" tanya Laras penasaran.


"Mas Lagi nahan pengen sayang." ucap Tama pelan.


"Hahaha." Laras tau apa yang suaminya mau, dia hanya melirik mesra kemuka suaminya, untung mata Tama terpejam.


"Siapa suruh deket deket udah tau istrinya habis melahirkan." ledek Laras.


"Diamlah sayang jangan gerak terus kamu membangunkan sesuatu." ucap Tama memelas.


"Mas mau aku puaskan?" goda Laras.


" Caranya?" tanya Tama.


"Dengan ini ini dan ini." jawab Laras sambil menunjuk bibir dan kedua buah dadanya, seketika Tama menjadi semangat.


"Boleh, siapa takut." balas Tama.


"Eeiittt, tunggu dulu jawab pertanyaan Laras dengan jujur dulu."ucap Laras.


"Mas tipu Laras ya?" tanya Laras, Tama mengangkat kepalanya dan menatap Laras.


"Tipu apa?" tanya Tama balik.


"Soal KTP." jawab Laras, Tama Hanya tersenyum, kembali Tama menyembunyikan wajahnya dileher Laras.


"Jawab dih." desak Laras.


"He em." jawab Tama.


"Kenapa?"


"Habis lucu godain kamu."


"Mamas seneng?"


"Banget."

__ADS_1


"Nakal."


"Biarin, ayolah sayang kasih mas yang itu." rengek Tama.


"Belum selesai pertanyaanya." tambah Laras.


"Emang mau tanya apa lagi mami nya Zia heemm." Tama mengangkat kepalanya dan menopang dengan tangan nya.


"Mas udah baca tes DNAnya.?" tanya Laras.


tatapanya sungguh sendu dan menyayat hati seolah meminta Tama untuk percaya pada kesungguhan hatinya.


"Udah." jawab Tama.


"Hasilnya?"


"Dia putriku." jawab Tama.


"Itu sebabnya mamas mau kasih dia nama kan?" tanya Laras, tak terasa cairan bening mulai mengalir dari pelupuk matanya.


Tama membantu mengusapnya dengan pelan, Dia pun memberikan kecupan dikening istrinya, agar hati Laras kembali tenang.


"Bukan itu sayang sebabnya, oke mas akan jujur sama kamu, sebelum mas pulang ke tempat mu malem itu siang nya Al kasih tau mas semua tentang kamu Ras, mas merasa menjadi laki laki paling egois didunia ini, begitu banyak pengorbananmu untukku, dengan cintamu yang besar itu kamu berhasil menyembuhkan aku, sedangkan aku apa aku hanya bisa menyakitimu, itulah sebabnya aku ngajak kamu pisah, aku ingin kamu bahagia tanpaku, bukan karena aku tidak mencintaimu, aku sangat mencintaimu istriku, bahkan dari lubuk hatiku yang paling dalam aku tak pernah meragukan bahwa Zia adalah putriku, bukankah aku selalu mengingatkanmu untuk menjaga kandunganmu hemm, kalau aku tak khawatir mana mungkin aku perduli, maaf saat kamu memberitahu jika kamu hamil aku malah marah padamu, sebenernya aku hanya cemburu Ras, aku marah jika kamu dipegang dipeluk peluk sama orang lain, maaf jika aku terlalu posesif padamu, karena dari awal aku sudah jatuh cinta padamu, aku mau kamu hanya jadi miliku, jika tidak mana mungkin aku meminta hak ku malam itu Ras." ucapan Tama sedikit membuat hati Laras goyah.


"Apakah itu artinya mama ga akan nglepasin Laras?" tanya Laras.


"Kata nya mau jadi walikota tapi bodoh." Tama menyentil pelan kening Laras.


"Aduh mas sakit." ucap Laras mengaduh.


"Aku tidak akan pernah melepaskanmu ibu dari anak anaku, aku ingin menua bersamamu hingga maut yang akan memisahkan kita, kamu paham." jawab Tama.


"Mas Yakin?"


"Hemmm."


"Ga lagi nipu Laras kan demi itu kan."


"Ras, bodohnya dibuang napa."


"Ya kan Laras jaga jaga." jawab Laras.

__ADS_1


Tama tak menjawab ucapan istrinya, Tama adalah penipu ulung soal cinta, dia punya ribuan cara untuk membuat Laras takluk padanya, Laras pun memgeluarkan jurus yang dia pelajari untuk membuat Tama puas tanpa melanggar aturan yang dia yakini.


Bersambung....


__ADS_2