PRIA LABILKU

PRIA LABILKU
Gadis Itu


__ADS_3

Vano benar benar serius dengan apa yang dia katakan, bahkan dia sendiri meminta orang orang nya untuk menyelidiki tentang Livia, hasil yang dia dapat sungguh mencengangkan, kenapa kasus Via di tutup ternyata yang melakukan tindak pidana terhadap Via saat itu adalah satu anak orang penting pada masa itu, ditambah orang yang melakukan itu pada Via sudah meninggal karena OD obat terlarang, apapun alasan nya tindakan keji pemuda itu telah meninggalkan trauma yang mendalam pada diri Via.


Malam itu seperti biasa Via meminta kakak nya dateng kerumah nya karena Via mau memberikan laporan bulanan pada kakak sepupunya yaitu Niken, Izal dengan setia mengantarkan istrinya ke kediaman om nya dimana Via tinggal.


Biasanya memang Niken yang selalu mendatangi Via karena sejak kejadian itu Via tak pernah berpergian jauh tanpa seseorang yang menemaninya.


Via termasuk gadis yang periang sebelum kejadian mengerikan itu menimpanya, kini dia menjadi gadis yang tertutup dan pendiam, sungguh sangat menyedihkan, terahir Niken mengajaknya liburan ke Paris itu pun juga dipaksa dan Niken dan Niken pun membawa beberapa teman nya agar Via merasa aman bersamanya.


"Kamu yakin ak kalau dokter Vano serius ama Via?" tanya Niken pada suaminya.


"Insya Allah yank, Vano orang nya baik kok hatinya juga luar biasa cuma badan nya aja besar tinggi tapi kalau udah kenal Insya Allah Via bakalan nyaman." ucap Izal menyakinkan istrinya.


"Via ga bisa dikasarin lo ak, dia bisa ngedown kalau denger orang teriak." ucap Niken lagi.


"Ya kita coba pertemukan mereka aja gimana, masalah mereka nyaman apa enggak ya kita serahin ama mereka aja gimana?" tanya Izal meminta pendapat Niken.


"Gimana enak nya suruh mereka ketemuan, aak tau sendiri Via ga pernah keluar rumah kalau ga kerja atau kita ajakin." ucap Niken.


"Gimana kalau kita ajakin dia liburan ke puncak, Aldo ada vila disana kita pinjem aja." ucap Izal memberi ide pada Niken.


"Ak kejadian yang menimpa Via di puncak mana mau dia pergi kesana, ih si Aak mau cariin jodoh apa mau buka luka lama." jawab Niken.


"Oalah lupa aak." tambah Izal.


"Ajak kerumah kita aja gimana?" tanya Izal.


"Boleh ak, kita ajak Via kerumah biar nanti dokter Vano nyamperin kerumah." ucap Niken.


"Coba ntar kamu ajakin aja sekalian yank, barang kali dia langsung mau." ucap Izal.


"Boleh tu ak, kita coba ya siapa tau dokter Vano bisa bawa Via keluar dari traumanya." ucap Niken.


Tak mudah membujuk seseorang yang memiliki rasa trauma dalam jiwanya, Niken dan Izal harus mengeluarkan beberapa bujukan maut mereka untuk mengajak Via menginap dirumah mereka demi mempertemukan nya dengan dokter Vano.

__ADS_1


....


Rumah Izal..


Izal sedang asik membantu Niken memasak didapur, sedangkan Via duduk manis dimeja makan mengupas bawang dan berbagai sayuran yang akan mereka masak, karena hari ini Izal mengundang Vano dan juga Aldo beserta istri untuk main kerumah nya, itung itung ngumpul untuk makan makan biar Via ga curiga.


Masakan yang mereka masak sudah siap tak lama Vano pun datang, mata nya tak lepas dari Via yang waktu itu memakai dres warna crem dan mengikat rambutnya separo, terlihat sangat manis dan cantik.


"Hay bro masuk." suruh Izal.


"Bro cantik pisan adek lo." bisik Vano.


"Mata dikondisikan jangan bikin doi takut." balas Izal sambil berbisik.


"Iye gue paham." tambah Vani sambil tersenyum malu malu.


"Mana si calon bapak?" tanya Vano.


"Tu suara mobilnya." ucap Izal.


"Bener itu dia." ucap Vano membenarkan apa yang dikatakan sahabatnya.


"Hay masuk bro, mana nyonya?" tanya Izal.


"Ada bentar." ucap Aldo sambil membukakan pintu untuk istrinya.


"Wah bentar lagi jadi papi ni." ledek Izal.


"Iya ni, kayak nya lo harus kejar setoran biar cepet dapet." canda Aldo.


"Kalian tega bener ama gue, udah balapan aja mau punya momongan sedangkan gue gandegan aja belum dapet." ucap Vano sambil mengelus dada nya.


"Ada buat elo udah gue siapin yang sabar ya." balas Izal.

__ADS_1


"Awas kalau gagal gue kepret lo." balas Vano. sambil mempraktekan gaya hendak menyikut Izal.


"Dek tutup telinga ya jangan dengerin para uncle gila mu ini hahaha." ucap Aldo sambil mengelus perut buncit istrinya, Sharon hanya tersenyum mendengar candaan suami dan kawan kawan nya.


"Udah masuk yuk kasihan bini elo tu." ajak Izal kemudian membawa para tamu nya masuk, didalam sudah ada Niken dan juga Livia yang menyambut mereka, saat bersalaman dengan Livia, Aldo sepertinya mengingat sesuatu.


"Bro itu siapa?" tanya Aldo.


"Ooo, itu sepupu bini gue."jawab Izal.


"Kok gue ga baru tau bini lo ada sepupu, lo ga pernah cerita." ucap Aldo.


"Iya pas aku resepsi dia ga mau dateng, soal nya dia takut keramaian."jawab Izal.


"Ooo, eh tunggu bro." ucap Aldo sambil menarik tangan Izal menjauh dari Vano dan ibu ibu disitu.


"Apaan?" tanya Vano.


"Kayaknya gue ga asing ama sepupu Niken deh, apa itu gadis yang kalian omongin waktu itu?" tanya Aldo, meyakinkan ingatan nya.


"Bener bro kenape lo bikin gue horny." canda Izal.


"Horny mata lo somplak, kayaknya itu gadis yang pernah gue tolongi enam tahun yang lalu bro," ucap Aldo sambil berbisik.


"Serius lo?" tentu saja Izal terkejut.


"Serius gue, mana gue lupa sih orang gue yang gendong dia, yang bawa dia kerumah sakit juga doi ada luka bakar dibelakang badan nya kan, waktu itu dia berlari ketakutan dan hampir ketabrak ama bang Tama, ntar kalau elo kagak percaya lo nanya deh ama bang Tama, kejadianya di Puncak bro deket persimpangan Vila gue." Aldo menceritakan detail kejadian saat dia menolong Livia.


"Gila ini bro kejadian nya emang dipuncak, Ya Tuhan tapi gue masih penasaran ama cerita elo, cuma kita coblangin dulu tu si perjaka tua yang siap ngobatin adek gue." ucap Izal.


"Oke siap." ucap Aldo sambil melangkah beriringan dengan Izal untuk bergabung dengan mereka diruang tamu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2