
Dengan langkah tegak bak tengah berada di panggung cat walk, Alexa berjalan menuju kamar Robin. Dia tidak peduli dengan dua asisten rumah tangga yang terus berusaha mencegahnya masuk.
"Aku tahu dia ada di dalam."
Kini Alexa berdiri di depan kamar Robin, berteriak teriak seraya menggedor keras pintu kamar berwarna coklat itu.
"Robin. Keluarlah! Aku tahu kau ada di dalam."
Sejak kepulangannya dari mansion milik Dean, dia semakin risau dan frustasi saja. Bagaimana tidak, pandangan semua penghuni mansion telah berubah dalam sekejap mata karena ucapan Dean, pria itu telah mengakhiri hubungannya secara sepihak.
"Mau apa kau kemari Alexa?" Robin yang tidak tahan mendengar teriakan dan gedoran keras Alexa akhirnya keluar dari kamar.
"Kau harus bantu aku Robin, aku tidak ingin semua kacau. Bagaimana pun juga Dean harus jadi milikku seorang!" ucapnya tidak sabaran.
Robin berdecak kesal, menyugar rambutnya ke belakang, bagaimana dia bisa membantu Alexa sedangkan masalahnya saja begitu rumit. Dia saja tidak memiliki solusi untuk masalahnya sampai hari ini. Arlene jelas jelas memilih Dean dibandingkan dengannya, dan kebodohannya adalah membiarkan Alexa masuk dalam hidupnya.
"Ayolah Robin, kau bisa membantuku ... Kita harus bekerja sama ... Tujuan kita sama Robin, kau juga bisa memiliki wanita sialan itu kan!"
"Tutup mulutmu Alexa, jangan mengatai Arlene, Kau lah yang sialan, kau yang menghancurkan hubunganku dengan Arlene. Kau lah yang sialan tidak becus menjaga pacarmu sampai sampai dia merebut calon istriku!"
"Sadar Robin ... Mereka berdua yang melakukannya. Dan kita harus melakukan sesuatu untuk memisahkan mereka! Apa kau hanya akan diam dan meratapinya dengan semenyedihkan ini? Kau mengerti kan maksudku Robin?"
Robin terdiam, mencerna semua ucapan Alexa yang ada benarnya, Dean dan Arlene melakukannya berdua. Mereka yang bersalah.
"Ayo Robin ... Lakukanlah sesuatu. Aku tidak mau mereka berdua sampai menikah dan hidup bahagia, sedangkan kita?!"
Robin mengepalkan tangan, kemarahannya pada Dean kembali memuncak akibat provokasi model internasional itu. Pria itu yang terus berusaha membuat perasaan Arlene terombang ambing.
"Andai saja malam itu kita tidak mabuk dan melakukan hal itu!" Cicitnya dengan menghempaskan tubuhnya di atas sofa, mengambil botol wine dan dengan pemikirannya sendiri.
"Bukan waktunya memikirkan hal itu Robin. Bagiku malam itu tidak ada artinya sama sekali, kita sama sama mabuk dan tidak sadar apa yang di lakukan!" Alexa menyambar botol wine ditangan Robin, menenggaknya langsung hingga hampir setengahnya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan Alexa?!" Robin kembali mengambil botol miliknya,
"Biarkan aku meminumnya Robin, aku lelah dengan semua ini!" Alexa mengiba, kembali mengambil botol dari tangan Robin,
Kali ini Robin membiarkannya saja, dia hanya menatap wajah Alexa yang kini semakin merah karena efek alkohol.
Alexa mulai meracau kemana mana, meluapkan kemarahan dan kekesalannya dengan terus menenggak alkohol.
"Sudahlah Alexa, lebih baik kau pergi dari sini. Kau mabuk dan pasti akan semakin mengacaukan semuanya!" Robin beranjak dari duduknya.
Namun Alexa mencegahnya pergi dengan mencekal tangannya,
"Jangan tinggalkan aku. Aku mohon!" ucapnya dengan memelas.
Robin menatapnya dengan iba, terlebih saat kedua mata Alexa kini sedikit basah. Genggaman tangan Alexa kini mengerat, dan lambat laun jarak keduanya semakin dekat.
Dibawah pengaruh alkohol yang sangat kuat, Alexa menyambar lembut bibir Pria jangkung di depannya, meluapkan kerinduan juga rasa kecewanya terhadap Dean.
Grep!
Robin hilang kendali juga, mengangkat tubuh Alexa dengan satu tarikan saja dan membawanya ke dalam kamar tanpa melepaskan paguuttan di bibirnya. Sebagai seorang pria dewasa yang normal, Robin tidak mampu mengendalikan diri dan kembali melakukan adegan ranjangnya bersama Alexa.
Entah berapa kali Alexa melenguh dengan lirih, saat tingginya has rat mengalahkan logika, begitu juga Robin dengan hormon estetorin yang kian memuncak hingga geraman panjang lolos beberapa kali dari mulutnya.
Robin berguling ke samping tubuh polos milik Alexa yang kini mendengkur lembut, dan lagi lagi dia hanya menghela nafas atas kebodohannya yang tidak dapat dia hindari.
"Andai saja Arlene yang berada di sisiku saat ini!" gumamnya pelan. Menatap wajah cantik Alexa. "Aku pasti akan bahagia!"
"Omong kosong Robin! Semua ini karena mereka memiliki perasaan, bukan karena kita ... Jadi tugas kita sekarang hanyalah membuat mereka berpisah Robin. Kau mengerti! Hubunganku dengan Dean juga hancur! Jadi kita harus bekerja sama Robin!" gumam Alexa dengan dua manik yang masih terlihat meredup.
***
__ADS_1
Sementara itu, Dean melajukan kendaraan beroda empat ke sebuah tempat. Sayup sayur terdengar suara suara anak anak kecil yang tertawa, ada pula beberapa ank laki laki yang berlari kesana kemari menggiring bola, juga tawa riang beberapa wanita muda yang bisa di perkirakan adalah ibu mereka.
Tatapan Dean beredar degan seksama, dan berakhir pada sebuah ayunan mini yang bergerak dengan dua gadis kecil, seorang diantaranya dengan dua kuncir di rambut yang bergerak tersapu angin, gadis kecil itu tertawa di atas ayunan yang bergerak lambat. "Itu dia Alleyah." Bibir Dean tersungging tipis meihat kebahagiaan gadis kecil yang kini mulai bersekolah taman kanak kanak.
Tok
Tok
Kaca mobil di ketuk seseorang, membuat Dean menoleh kaget namun berahir dengan senyuman.
"Kau datang untuk mengamati taman kanak kanak tuan Dean?" serunya tatkala Dean menurunkan kaca mobil.
"Kau benar, sampai aku ingin sekali menculik salah satunya. Tapi ku keburu ketahuan oleh mama cantik satu ini." godanya dengan wajah berseri karena bertemu Arlene. "Jadi aku berubah fikiran. Aku jadi ingin menculik anak sekaligus ibunya." ucapnya seraya keluar dari mobil dan langsung memeluk tubuh Arlene.
"Hey ... Ada apa. kenapa memelukku?"
Dean tidak juga melepaskan pelukannya, walaupun Arlene berusaha melepaskannya karena risih, terlebih mereka tengah berada di kawasan sekolah, tidak etis jika sampai semua wali murid melihatnya.
"Tidak ada, aku hanya merindukanmu sayang." sahut Dean.
"Lepas Dean, jangan membuatku malu!"
"Kenapa kau malu? Kita ini sepasang kekasih dan calon sami istri jadi tidak ada salahnya bukan!"
Arlene mendorongnya lebih kuat hingga pelukan Dean kini terurai, wajahnya berseri dengan rona kemerahan di pipinya.
"Salah ... Sangat salah, kau hanya membuat mata anak anak tercemar!"
....
Halo ... Ada yang kangen othor? GAK ADA ... Ok ... Baiklah. Wkwkwk, othor masih pundung karena kesulitan aturan baru yang berlaku. Rasanya pengen minggat aja kek othor femes, tapi apalah daya, othor hanya remahan koaci senin, itupun sisa.
__ADS_1