
Rayi mengangguk mengerti, dia tidak lagi bertanya tanya apa apa lagi. Dan hanya diam saja saat keduanya melangkahkan kedua kaki meninggalkannya begitu saja. Keduanya masuk ke dalam lift dan menghilang, dan Rayi hanya bisa menatap pintu lift yang kini tertutup.
Rayi mengerdikkan bahu, hal itu tidak juga jadi masalah baginya, namun cukup aneh karena selama enam bulan ini Dean tidak pernah ikut acara acara kantor apalagi menghadiri undangan dari perusahaan lain.
Sementara Dean dan Alexa yang kini keluar dari kantor untuk menuju pusat pembelanjaan guna mencari pakaian yang cocok untuk datang ke acara nanti malam.
Selama perjalanan mereka terus berbincang bincang, mengobrolkan banyak hal dengan riang dan terlihat bahagia, Dean yang tengah menyetir pun berkali kali tergelak karena candaan dari wanita yang dia cintai itu.
Tatapan yang penuh cinta terlihat kembali dari pria yang terkenal plin plan itu.
"Sayang ... Aku senang bisa menghabiskan waktu denganmu, kau tidak akan bosan menunggu aku shoping kan?"
"Bukankah kau hanya akan mencari pakaian untuk nanti malam?"
"Sayang .... Kau tahu kan kalau wanita itu tidak mungkin bisa menyia nyiakan jika ada waktu seperti ini kan? Dan kau tahu aku sudah lama tidak pergi belanja. Aku tidak punya waktu untuk diri ku sendiri.
Dean mengulas senyuman, lalu mengangguk lirih, "Baiklah kalau kau mau. Terserah saja, belanja sepuasnya. Hm."
"Terima kasih sayang."
Dean kembali mengangguk dengan mengelus kepala Alexa dengan lembut. Tidak lama kemudian keduanya sampai di pusat belanjaan, keduanya turun dan langsung masuk. Terlihat wajah Dean yang sebenarnya kurang suka berada di mall apalagi harus menunggu wanita memilih, tapi baginya Alexa adalah segalanya, dia tidak akan berfikir dua kali untuk melakukannya sekalipun selama ini dia yang lebih sering mengalah.
"Aku mau ke sana!" tunjuk Alexa ke arah toko pakaian dengan merek terkenal.
Langkahnya bahkan dia percepat dengan menarik tangan Dean. "Ayo sayang, ku dengar mereka punya barang edisi terbatas." ujarnya lagi.
__ADS_1
"Dean hanya menghela nafas, dengan malas pun akhirnya hanya mengikuti langkah Kekasihnya itu.
Kedua mata Alexa terlihat berbinar binar melihat berbagai jenis pakaian dengan berbagai model, bahan yang terbuat dari kualitas terbaik juga pembuatan tangan ahli.
"Aku mau yang itu." tunjuknya pada gaun malam berwarna peach yang elegan, panjang dress memang mencapai mata kaki, namun belahannya hingga sampai paha, membuat kesan glamor dan juga seksi, terdapat manik manik terpasang di pinggangnya.
Jangan diragukan lagi kalau soal selera karena Alexa lah jagonya, dia memang seorang fashionable.
"Yang itu Nona?' tanya Seorang pegawai wanita menghampiri mereka yang ikut menunjuk gaun malam yang kini sedang di lepaskan dari manekin.
Alexa mengangguk, dengan senyum yang terukir indah di wajahnya.
"Tapi ... Maaf nona, dress limitied itu baru saja d pesan seseorang." ujarnya menangkup minta maaf. "Bagaimana kalau nona memilih gaun yang lain saja, kami memiliki koleksi yang tidak kalah bagus dengan dress yang itu." ujarnya lagi dengan menunjukan deretan gaun yang terpasang indah.
"Sayang... Kau bisa pilih yang lain, itu juga bagus." Ujar Dean yang menunjuk dress berwarna hitam yang tidak kalah indahnya.
"Aku tidak mau, aku ingin dress yang pertama kali aku lihat itu, mata ku tidak bisa melihat yang lain jika sudah suka Dean." sentaknya yang langsung melangkahkan kakinya ke arah meja kasir,
"Tunggu ,.. bolehkah aku melihatnya dulu?" katanya pada pegawai saat Dress berwarna peach itu tengah di masukkan ke dalam box.
"Maaf Nona ... Tapi dress ini sudah mi ..."
"Izinkan aku melihatnya sebentar, aku ingin melihatnya dari dekat.
Para pegawai yang berdiri di meja kasir tetap mengelengkan kepalanya pada Alexa dan tidak mengijinkan walau hanya melihat saja
__ADS_1
Dean menariknya dengan lembut,
"Sayang ... Ayo pilih yang lain. Kalau kau mau kau pilih semua yang kau suka, dress itu sudah ada yang membeli."
Alexa menghela nafas, menatap bok dress berwarna peach itu tertutup rapih. "Itu barang limited edision bukan? Dan di dunia ini hanya ada 2 buah saja, benarkan?" tanyanya pada kasir.
"Benar Nona, dan ini salah satunya."
"Kalau begitu berikan aku yang satunya lagi." Alexa bersikeras ingin dress yang lihat pertama kali dia lihat saat masuk toko, namun juga harus kecewa karena dua wanita yanag berada di depannya itu menggelengkan kepalanya.
"Maaf Nona ... Ini dress yang ke dua, yang pertama sudah dibeli orang lain dari luar negeri. Mungkin anda bisa mencari seri yang lainnya yang juga masih ada di toko kami?"
"Tidak mungkin!" cicitnya.
"Sudah sayang, kau tidak mendengar mereka, kau bisa memilih yang lain saja, yang lebih bagus juga ada." tukas Dean memberikan tawaran walaupun dia juga kesal karena Alexa yang terus bersikeras.
"Baiklah, aku akan memilih yang lain." Alexa menghentakkan kaki pada akhirnya, dan memilih melangkah ke arah lain untuk mencari dress.
"Harusnya kau lebih cepat tadi, aku jadi kehilanagn dress itu kan jadinya." Alexa kesal dan menyalahkan Dean
"Mana aku tahu jika kau memilih dress itu!"
"Siapapun yang memilikinya pasti akan sangat cantik, dan harusnya dress itu milikku." gumam Alexa dengan kedua mata yang memicing ke arah Dean.
"Bagiku kau lah yang paling cantik, tidak peduli siapa yang membelinya, aku yakin gaun itu tidak akan cocok jika dimiliki orang lain!"
__ADS_1