Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.64


__ADS_3

Novel ini novel yang menguras banyak emosi yang baca sebenarnya, bukan karena alur atau konflik yang timbul tapi ketidak jelasan othor yekan... Wkewkewkw ... Gak cuma Bab berantakan, tapi juga isi bab yang kacau, sering ke post berulang ulang dan bikin kesel yekan ... Hayooo jujur ...


Tapi untungnya, kalian sabarrr banget dan baik banget dan paling penting mau ngertiin othor, jarang di sapa pula ah ... Jahat banget deh gue!


Jujur ngerjain yak. Novel yang ini sulit, sempet ada yang beberapa komen kalau ini kayak film asal turki. Yes bener banget. Othor pernah lihat satu cuplikan yang bikin plot di awal novel ya gaes ya, tapi othor gak tahu lanjutannya itu apaan, othor juga gak ada niat buat nyari lanjutannya atau nyari judul film itu jadi othor lanjut dengan versi othor sendiri. Wkwkwk.


Dan novel ini udah sempat diihapus juga sebenarnya karena itu tadi. Tapi balik lagi setelah othor nguatin hati. Wkwkwkwk harusnya pake formalin biar awet ya. Dan othor bersyukur kalian gak bosen setelah beberapa kali kena prank, sebenarnya itu bukan karena sengaja ya gaes ya ... ciuss deh, ada beberapa kendala sampai akhirnya terselesaikan dibantu edi.


Semoga kedepannya gak kejadian lagi doble up yang sama sampai bab berantakan pula bikin emosi darah tinggi dan malesin. Wkwkw hayo jujur.


Othor banyak baceprot lagi kan. So Gak lupa othor bilang maaf dan makasih yang banyak banyak buat kalian semua ... Lope lopenya akoh, yang selalu jadi mood booster selama ini dan beberapa reader yang selalu ngikut sampe tetangga sebelah pun ikut. Aaah terhuraa, dan pengen nangis (cengeng ya gaes ya) makasih pokoknya pake pake banget. Poll pokoknya mah.


Cus ah ...baca we ya dari pada gak jelas banget curhatan othor ini.


.


.


Dean terperanjat setelah mendengar perkataan dari teman sekaligus wakilnya itu, dia langsung bangkit dari kursi kekuasaannya dan langsung meenyambar kunci dan ponsel yang tadi dia simpan begitu saja.


"Kau tahu sekarang dia kemana? Kau tahu bukan Rayi? Mana dia. Katakan padaku?"


"Kenapa kau ini?"


"Aku harus memastikan jika orang itu memang orang yang selama ini aku cari, aku mencarinya kemana mana dan tidak ada satu petunjuk pun yang bisa diperoleh, bahkan polisi pun tidak mampu menemukannya, dia pasti di bekingi orang yang kuat. Kau yakin melihatnya kan tadi?"


Ryi justri berjalan ke arah meja dan menyalakan laptop milik Dean.


"Wanita ini bukan? Wanita ini yang kau cari? Benar bukan?" tanyanya.


Dean terdiam, menatap jari telunjuk milik Rayi yang mengetuk getuk layar menyala yang hanya berukuran 14 inci itu.


"Siapa dia? Apa dia benar istrimu? Benar tidak?" Rayi terdengar lebih penasaran dengan hal itu, mengingat selama 3 bulan ini Dean tidak pernah menceritakan wanita yang ada di foto itu, dia hanya menceritakan akan segera menikahi seorang model internasional.

__ADS_1


Dean masih terdiam, dengan terus menatap layar yang masih menyala di atas meja kerja miliknya.


"Aku bertanya agar kau tidak salah langkah Dean, bukankah kau sudah akan menikahi model yang kau ceritakan itu?"


"Tidak penting kau tahu Rayi, itu bukan urusanmu!" sentak Dean yaang langsung mengambil alih laptopya dan mematikannya, membawanya serta lalu dia sendiri keluar dari ruangan itu.


"Bukan urusanku katanya, bukankah ini akan menjadi urusanku juga, ini di dalam kantor, kalau neneknya tahu bisa gawat, masalah perusahan saja belum selesai, bagaiman kalau neneknya tahu ada masalah seperti ini, bukan hanya dia yang akan lebih lama tinggal dan mengurus perusahaan ini, tapi aku juga. Aku ingin segera kembali ke pusat. Asal kau tahu itu" gerutu Rayi yang menatap pintu yang kini tertutup.


Dean berjalan masuk ke dalam ruangan CCTV, dia ingin memeriksa rekaman CCTV yng terajdi saat meeting tadi dan memastikan ucapan Rayi adalah benar.


Kenapa Arlene bisa berada di sini, apa yang terjadi dengannya selama enam bulan ini, siapa yang menyembunyikannya. Semua pertanyaan yang selama ini ada di fikirannya. Baron tidak mungkin karena dia masih dalam tahanan. Batin Dean.


"Periksa rekaman CCTV di ruang meeting hari ini!" serunya pada seorang pria yang terngh duduk di depan layar layar monitor.


"Maaf pak , kebetulan CCTV hari ini mengalami gangguan, dan bagian IT sedang memperbaikinya." ujar pria itu dengan ragu.


"Sial ... Kenapa bisa ada gangguan? Apa kalian setidak becus ini hanya soal CCTV?" bentaknya kesal.


Dean keluar membanting pintu, semua langkah yang diambilnya pun kembali menemui jalan buntu, segala informasi seolah tertutup kabut yaang sangat tebal.


Dean kembali ke ruangannya, dan menghempaskan tubuhnya pada sofa, dan memejamkan kedua matanya. sampai suara dering ponsel miliknya terdengar dan mengagetkannyaa.


Dean terperanjat, diaal langsung merogoh ponselnya dalam saku jas dan melihat layar pipih yang menyala itu.


"Alexa?" gumamnya dengan naya gerakan bibir saja.


Panggilan telepon dari gadis yag hendak dia nikahi pun dia abaikan begitu saja, hanya menatap sampai layar itu kembali gelap tanpa ingin bicara dengannya, suasana hatinya terganggu karena memikirkan Arlene yang menghilang tanpa jejak.


Brak!


Dan tiba tiba pintu ruangan terbuka, Dean terkesiap saat melihat siapa yang masuk begitu saja.


"Sayang ... Kenapa kau tidak angkat teleponmu? Apa kau tidak tahu aku menunggumu dari tadi, apa kau tidak ingin bertemu denganku, kau tidak merindukan ku, hm?"

__ADS_1


Deam mengerjapkan kedua matanya, "Alexa kau ada di sini? Bukankan kau sedang tour Eropa?"


"Kau tidak senang aku datang? Kau benar benar tidak merindukan aku Dean?"


"Bukan seperti itu sayang, aku hanya heran kau tiba tiba ada di sini."


Alexa mendengus kesal, menatapnya dengan tajam."Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku bukan?"


"Tidak ... Sesuatu apa yang aku sembunyikan darimu? Aku hanya tidak menyangka kau bisa kemari dan menemuiku."


Alexa melangkah menghampirinya. "Bodoh, tentu saja karena kau ini merindukanmu tapi responmu seperti ini padaku,"


Dean menghela nafas, dan menatap wanita yang dia cintai itu dengan dalam. Seolah meyakinkan dirinya akan cintanya sendiri.


"Kemarilah ... Aku merindukanmu juga!"


Alexa tersenyum sumringah dan berjalan lebih dekat ke arah pria yang kini baru tersenyum hangat. Tak berselang lama gadis itu tiba tiba saja menyambar bibir Dean dan melumaatnya tanpa malu. Membuat Dean sedikit tersentak karena sikapnya yaang terlalu terang terangan itu mengingat mereka berada di dalam kawasan kantor.


"Aku terlalu merindukanmu sayang, tapi sepertinya kau sangat kaget sampai kau tdak menyambutku dengan baik." gumam Alexa yang langsung menghentikan pagutannya karena Dean yan tidak meresponnya.


"Maaf .. Tapi aku memang kaget dan tidak menyangka bisa bertemu denganmu." ujar Dean yang semakin heran dengan sikap Alexa yang semakin berubah. Dulu dia paling suka Alexa karena gadis itu manis dan malu malu.


"Ya aku tahu ... Aku tidak bisa menahan diri sayang." ujarnya dengan melingkarkan kedua tangan pada pinggang Dean.


Jujur Dean sangat risih, terlebih ini berada di kantor dan dia paling tidak suka dengan gadis yang terlalu agresif. Selena saja dia tolak mentah mentah karena hal itu. Berbeda dengan Arlene.


Lagi lagi Arlene yang melintas di benaknya, pria itu bahkan memejamkan mata sata nama Arlene yang dia ingat dan mulai membanding bandingkan sikap nya dengan sikap Alexa.


Namun dia harus kembali pada kenyataan dimana pilihannya adalah Alexa, bukan Arlene yang kini menghilang tanpa jejak itu.


Dean merengkuh pundak kekasihnya itu dan mendekapnya dengan erat.


"Maafkan aku ... Aku juga sangat merindukanmu, jadi bisakah kita tidak lagi menunda pernikahan Alexa?"

__ADS_1


__ADS_2