Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab. 30


__ADS_3

Hampir setengah jam posisi Dean tetap sama, tangannya tertindih oleh Arlene yang tidur sangat nyenyak, pria itu tidak memiliki pilihan lain selain menunggu Arlene yang bergerak sendiri, dia takut membangunkannya dan di curigai macam macam olehnya, tapi rasa pegal pun tidak bisa dia tahan lagi.


"Astaga ... kenapa justru dia terlihat semakin nyaman tidur dengan menindihku begini." gumam Dean tanpa suara.


Agar dia bisa duduk menunggu dengan nyaman pula, Dean justru memindahkan bantal bantal yang berjajar rapi disampingnya. Dan dia duduk dengan posisi sejajar dengan kepala Arlene, hingga lagi lagi dia bisa menatap wajahnya begitu jelas dan juga dengan jarak lebih dekat lagi.


Sampai tanpa sadar justru dia tertidur disampingnya dengan nyenyak, dan ketakutan Arlene kembali terjadi.


Arlene terbangun di pagi hari dalam dekapan hangat dan nyaman nya pelukan Dean, lengan yang jadi bantalan kepala serta tangannya sendiri yang melingkar pada pinggang Dean.


"Astaga...," degup jantung Arlene tiba tiba berdebar dengan kencang, saat kedua maniknya menatap wajah Dean yang terlelap tepat didepan wajahnya, hembusan hangat yang keluar dari nafasnya menerpa wajah Arlene, namun entah kenapa kali ini Arlene tidak melakukan apa apa selain menatapnya dengan puas. Gerak tubuhnya seolah berkhianat pada perintah otaknya yang menyuruhnya mendorong tubuh Dean hingga terjungkal ke bawah.


penghianatan yang dilakukan dirinya sendri itu bukan tanpa alasan. Saat ini dia begitu nyaman berada di pelukan pria yang tidak berani melawan perintah sang nenek, memiliki keteguhan kuat dalam pilihannya sendiri tapi tidak memiliki cukup keinginan melawan arus.


"Kau sudah terlalu lama melihatku tidur Arlene, apa kau puas sekarang?" tanya Dean tiba tiba dengan suara khas bangun tidur, serak dan berat.


Perlahan kedua manik redupnya kini terbuka, hingga keduanya saat ini saling beradu pandang, Arlene terkesiap dengan serangan tiba tiba dari Dean yang tiba tiba terbangun. Secepat kilat dia mendorong dada nya dengan kedua tangan, namun Dean justru menahan tubuhnya dengan mendekapnya kuat.


"Begini lebih baik Arlene, biarkan aku memelukmu sebentar saja, aku membutuhkannya, sebentar saja." gumamnya tepat pada telinga Arlene.


Perlawanan Arlene pun kembali melemah dengan sendirinya saat mendengar ucapan lembut Dean, dan kini pelukan di tubuhnya merengat dengan sendirinya. Beberapa saat berada dalam posisi berdekapan, seolah pelukan itu menjadi penawar kegelisahan termasuk di dalamnya keanehan keanehan setiap mereka terjebak dalam situasi yang membuat keduanya salah tingkah.


Dean menyentuh anak rambut Arlene yang terlihat berantakan di dahinya, sentuhan yang tidak seberapa namun mampu membuat Arlene tersengat listrik. Tidak sampai situ, Dean menyusuri wajah Arlene dengan jemarinya dengan lembut, menyentuh lekukan lekukan hidung dan turun ke bibirnya yang tipis.


Entah apa yang ada di fikirannya kali ini, yang pasti Keduanya hanyut dalam gelombang yang mereka sendiri tidak menyadarinya.


Perlahan namun pasti, Dean mencapit dagunya dengan ibu jari dan telunjuknya. Lalu mengecupnya lembut, saking lembutnya, Arlene sampai memejamkan kedua matanya. Menikmati ciumaan kedua yang terjadi dalam waktu tepat satu bulan dari sejak mereka bertemu.


Bertemunya kembali dua benda kenyal dalam satu tautan yang mampu menghilangkan sejenak keresahan yang terjadi, paguttan lembut yang membuat keduanya semakin tak berdaya dengan logika yang tidak bekerja.


Ciuuman kedua yang terjadi seolah menuntut mereka dalam kepastian seluruh rasa yang tiba tiba muncul tanpa di duga.

__ADS_1


Apa itu cinta? Yang datang tiba tiba tanpa mengenal logika, bahkan pada orang yang bertemu tanpa sengaja.


"Dean?" lirih Arlene disela paguttan yang terus bergerak lembut. Mencoba memastikan apa yang dilakukannya saat ini.


Deru nafas keduanya tidak lagi terbendung, ciuuman di pagi hari yang mengundang adrenalin itu semakin lama dan dalam, bahkan dekapan Dean semakin dalam.


Dengan dada yang masih turun naik, Dean menangkup wajah Arlene. "Aku tahu kau juga merasakannya Arlene, iyakan?"


Wanita berusia 24 tahun menatapnya nanar, tidak bisa dia pungkiri jika hatinyapun merasakannya. Mereka bukan anak remaja yang mengungkapkan cinta begitu saja, cukup merasa jika degup jantung mereka kini berdetak seirama.


"Katakan Arlene, kau merasakan hal yang sama dengan ku bukan? Aku ... Aku selalu menjadi orang aneh saat aku bersamamu, seberapa kali aku mencobanya, tapi aku juga tidak mampu melawannya kali ini. Ini mungkin situasi yang membuatmu bingung, tapi yang aku rasakan itu benar adanya." Kata Dean yang mengungkapkan apa yang dia rasakan.


Arlene masih terdiam, menatap kedua mata Dean, tidak ada kebohongan di dalam sana, tatapan penuh cinta dan harapan.


"Aku tahu ini semakin membuat posisimu tidak mudah, aku tahu itu! Tapi apa boleh aku memintamu untuk tetap bertahan Arlene?" sambungnya lagi yamg membuat hati Arlene semakin tidak karuan, entah harus mengatakan apa, yang pasti dia tidak mampu berfikir jernih, cintakah, atau hanya suasana yang menggiringnya saja, atau satu metaforgana yang terlihat begitu indah namun kenyataannya hanyalah kosong tiada berisi.


Memang sulit, kehadiran Arlene yang tidak di inginkan, bukan hanya satu orang saja yang tidak menyukainya , tapi semua orang yang hidup di mansion ini yang tidak menerimanya. Lantas apa hatinya kuat menghadapinya tanpa bisa lagi berpura pura.


"Aku....!"


Brak!


"Astaga ... Kalian ini, apa kalian hanya akan seharian berpelukan seperti teletabis diatas ranjang saja. kak?" seru Zoya yang membuat keduanya terkaget dan langsung bangkit dengan melepaskan diri masing masing.


"Zoya!" seru Dean dengan jantung yang tidak karuan bak tertangkap tengah melakukan pencurian.


"Kalau tidak mau ketahuan minimal kalian mengunci pintu dengan benar!" Zoya terkekeh, melenggang masuk kedalam kamar dan duduk di sofa. "Ayo cepat bangun, Nenek memanggilmu kak." ujarnya lagi lebih mengagetkannya.


"Aku?" tanya Arlene yang sibuk membenahi rambutnya yang berantakan.


Zoya menggelengkan kepala, lalu tangannya menunjuk pada pria yang tengah meraup wajahnya kasar, "Bukan kakak ipar tapi dia!"

__ADS_1


Dean mendongkakkan kepala, masih diatas ranjang dan tidak sedikitpun bergerak.


"Ada apa nenek memanggilku pagi pagi begini. Kenapa bukan nanti saja, bukankah nanti juga bertemu denganku di meja makan saat sarapan."


Zoya mengerdik, "Mana aku tahu, sudah ayo siap siap, kau tidak mau kan Nenek marah marah lagi! Bisa bisa kau digantungnya di pohon." Zoya terkekeh,


Dia lantas kembali bangkit dari sofa dan menghampiri tempat tidur dimana Alleyah tertidur pulas, "Yah masih tidur, kalau sudah bangun aku ingin menculiknya dan membawanya ke kamar ku." celetuknya lagi dengan mengelup pipi Alleyah yang bulat.


Arlene masih banyak terdiam, terlebih kepalanya masih mencoba mencerna semua ucapan dari Dean, apa itu nyata atau hanya mimpi belaka, rasanya memang manis, tapi Arlene terlalu takut jika itu hanyalah pemanis buatan saja.


"Ayo kak, tunggu apa lagi, kakak ipar juga kenapa malah bengong aja dari tadi, tenang aja ... Nenek tidak akan menggantung suamimu di atas pohon kok,aku hanya bercanda." kelakarnya dengan terus terkekeh.


Bukan itu Zoya, aku masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh kakak mu tadi, apa itu artinya dia juga mencintaiku Zoya, ahhh aku ... Tidak percaya ini.. Batinnya bicara, menjawab celotehan adik dari suami pura puranya.


Arlene menoleh pada Dean, begitu juga pria berusia 27 tahun itu yang menatapnya nanar.


"Kau tenang saja, Nenek paling hanya akan memotong jatah uang bulananku saja," Dean terkekeh, lantas turun dari ranjang.


"Hah?"


Zoya ikut terkekeh, "Kak Dean bisa saja bercanda!"


Arlene menoleh pada Zoya, "Apa yang dia katakan tadi?"


"Jangan percaya ucapannya kak, kak Dean pintar membual!!"


.


.


Makasih buat yang selalu setia pantengin Dean Arlene. Jangan bosan, kalau bosan kasih tahu langsung othor, kalau rame kasih tahu semua kalau novel ini rame. Wkwkwk ... Parno sama yang kasih Rate buruk dan kecewa tapi tetep baca. Huft.

__ADS_1


__ADS_2