
Rahang Baron mengeras, dengan kedua tangan yang mengepal keras saat melihat dua orang berciuman di hadapannya. Suara sorakan bertanda kebahagiaan putri kecilnya pun membuatnya semakin kesal.
Dean mengulas senyuman, saat menyusut ujung bibir Arlene yang merekah basah karena ulahnya, lagi lagi dia harus berterima kasih pada Baron yang membuat kesempatan itu datang lebih cepat dari pada yang dia duga, kesempatan yang datang membuat dirinya bahagia.
"Arlene?"
Arlene menatap Dean, degup jantung yang berirama kencang tidak bisa dia kendalikan.
"Kau percaya bukan, sudah aku bilang kalau dia mengikuti kita. Hm?" ujarnya lagi.
Mau tidak mau Arlene mengangguk, mengulas sedikit senyuman dan terus menatapnya nanar.
"Kau mau menyapanya lagi. Atau kita masuk saja?" tanyanya lagi.
"Aku tidak mau lagi berurusan dengannya!"
"Baiklah kalau gitu, kita masuk saja." ucap Dean yang langsung menekan tombol password pada pintu unitnya.
Sementara Baron akhirnya memilih untuk pergi dari sana.
"Apa Arlene sudah melupakanku. Apa dia benar benar melupakanku. Aku bisa lihat dia sepertinya masih kaku, tapi juga sangat menikmati ciuman itu." dengusnya kesal.
__ADS_1
Sementara itu Arlene mengikuti Dean masuk ke dalam unit apartemen mewah miliknya, wanita berambut coklat itu terperangah saat melihat ruangan dalam unit yang mewah.
"Dean ... Aku sepertinya hanya akan tinggal beberapa hari sampai aku menemukan tempat baru yang sesuai denganku. Ini terlalu besar dan---"
"Sutthh ...! Kau ingin Baron kembali menemukanmu? Tinggallah di sini sementara waktu, aku yakin Baron akan terus mengawasimu sampai dia benar benar yakin kalau kau sudah menjadi istri orang!"
"Tapi aku---"
"Kau tidak ingin menerima bantuanku lagi bukan. Kau tidak ingin berurusan denganku lagi bukan?" sela Dean dengan cepat.
Arlene terdiam, itu memang benar, dia tidak ingin berurusan kembali dengan Dean yang hanya akan membuat hatinya semakin rumit.
Arlene terdiam, lagi lagi semua yang di ucapkan Dean benar adanya. Baron mungkin akan kembali dan mengambil Alleyah.
"Kau hanya menggunakan hal itu untuk membuatku tidak pergi, kau sudah memutuskan kerja sama kita Dean. Apalagi ... Aku akan pergi ketempat yang jauh, sampai Baron tidak akan menemukanku!" tukas Arlene. "Kita sudah tidak lagi bekerja sama Dean, ingat itu!"
Dean tersenyak, seakan baru sadar jika ini memang bukan pilihannya, pilihannya tetap pada Alexa. Gadis cantik yang berprofesi sebagai model internasional.
"Dan kau tidak bisa melarangku lagi, kita bahkan tidak memiliki hubungan apa apa, dan ciuman sialan tadi hanya kesalahan kesekian kalinya!" ungkap Arlene yang kini mengambil Alleyah dari pangkuan Dean. "Pergilah, dan selesaikan urusan kita sampai di sini saja. Untuk kali ini aku menerima bantuanmu dan terima kasih, ini bantuan mu yang terakhir kalinya." sambungnya lagi.
Bak baru tersadar dimana bumi yang di pijak saat ini bukanlah khayalannya semata, Dean menghela nafas. Merasa bodoh karena ternyata hatinya sakit hanya karena ucapan Arlene, tapi itulah kenyataannya. Arlene bukanlah pilihannya.
__ADS_1
"Baiklah ... Aku pergi, kabari aku jika kau membutuhkan sesuatu!" ujarnya mengelus pipi Alleyah yang masih meronta ronta minta dia gendong.
"Papaaapa ... Paaaapa ...!"
Arlene membalikkan tubuhnya menjadi membelakanginya, dia tidak ingin melihat Dean karena hatinya juga sedang tidak baik baik saja. Dia sendiri tengah bingung pada situasi ini, situasi yang membuatnya semakin rumit setelah pertemuannya dengan Baron.
Dean pun akhirnya beranjak pergi, dengan rasa bersalah tentu saja. Dia masuk kedalam lift dengan terus menghela nafas.
Ting
Lift pun akhinya terbuka, baru saja hendak melangkahkan dua kakinya keluar, Dean harus kembali masuk setelah seseorang mendorongnya.
"Hei ...!"
"Sorry Bung!"
"Mau apa kau kemari?"
"Aku masih tidak percaya jika Arlene sudah menikah denganmu!" tukas Baron yang mendorong kedua bahu Dean dengan keras.
Bruk!
__ADS_1