
"Sayang ... kau pasti lelah Nak! Maafkan Mama ya sayang!" gumamnya dengan mengelus pipi gembilnya.
Sebenarnya apa yang dilakukan Nenek tadi, tapi apapun itu, nenek membuat demamnya turun. Aku jadi merasa bersalah karena menuduhnya menyakiti Alleyah. Arlene membatin, tangannya terus terulur mengelus kepala Alleyah. Dan juga mengusap sisa air mata yang membasahi kedua pipinya.
Sedangkan Dean langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang, dia menatap Arlene dengan ujung matanya. Dan tiba tiba merasa kasihan saat melihatnya terus mengelus kepala putrinya.
Arlene merasa Dean melihatnya, dia pun meliriknya sekilas namun Dean berpura pura tidur dengan memejamkan matanya, hingga wanita berambut coklat itu masuk kedalam kamar mandi.
Arlene menatap pantulan dirinya dicermin wastafel setelah membasuh wajahnya dengan air dingin. Kejadian nenek Miranda yang membawa Alleyah dan entah melakukan apa di dalam kamar mandinya terus menerus berputar di kepalanya.
Arlene menggigit bibirnya menahan agar tidakĀ menangis lagi, perjanjian yang dia lakukan dengan Dean membuat putrinya harus ikut menanggungnya, entah besok atau kapan. Dia menjadi takut jika orang orang di mansion ini akan melalukan hal buruk pada Alleyah. Terlebih ucapan Debora dan juga Sorra yang membencinya juga membenci anaknya, walaupun mereka hanya tahu jika Alleyah putri Dean.
"Besok aku harus minta maaf pada Nenek! Tapi aku akan selalu waspada." desisnya dengan mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil, seraya menyusut air mata yang entah kapan meluncur bebas tidak terasa.
Tok
Tok
Dean mengetuk pintu kamar mandi dari luar, pria itu memegangi perutnya yang tiba tiba sakit.
"Arlene ... cepatlah!"
Beruntung, karena Arlene sudah selesai dengan bersih bersihnya. Dia membuka pintu kamar mandi dan tertegun melihat Dean yang juga melihat kearahnya.
Kedua mata Dean membola saat melihat mata Arlene yang masih sembab karena terus menangis, dengan menggigit bibir tipis merona tanpa lisptik. Membuat rasa bersalahnya kembali muncul.
Harusnya aku tidak melibatkannya dalam masalah ini, kasihan ... dia pasti tertekan tinggal di mansion ini. Dan mendapat perlakukan buruk dari keluarga ku. Batin Dean.
"Arlene?"
"Kau kenapa? Sakit ....?"
"Huum ... perutku tiba tiba sakit!" tukasnya dengan menyentuh perutnya sendiri. Tadi sakit sekali, tapi tiba tiba tidak lagi setelah melihat wajahnya.
__ADS_1
Arlene berjalan menyamping agar Dean bisa masuk dengan cepat, "Apa kau salah makan tadi?"
Dean menggelengkan kepalanya, rasanya aneh kenapa tiba tiba perutnya justru tidak lagi sakit. Namun dia tetap masuk kedalam kamar mandi karena tidak mungkin kembali dan membuat Arlene berfikir yang tidak tidak.
"Semakin di perhatikan kenapa Arlene semakin cantik." gumamnya dengan meraup wajah dan langsung membasuhnya dengan air.
Hari sudah semakin larut, rasa lelah ditubuhnya pun semakin terasa, Arlene yang sudah memastikan Alleyah tertidur pulas itu kini membaringkan tubuhnya di sofa, sementara Dean masih berada di dalam kamar mandi.
Tak berselang lama Dean keluar, dia tersentak saat melihat Arlene yang tertidur dengan baju berdasar kain sutra yang tersingkap, hingga paha putih miliknya terbuka begitu saja. Namun hati Dean merasa lebih iba saat melihat wajah lelahnya, kedua mata yang terpejam dan sembab yang masih terlihat jelas.
Pria itu mengambil selimut miliknya, lalu menutupi tubuh Arlene hingga semuanya tertutup kecuali wajah polos nan cantik miliknya.
Dean membaringkan tubuhnya, bergerak ke kiri juga ke kanan, dia tidak bisa lagi memejamkan mata karena fikirannya tiba tiba tidak karuan, kejadian hari ini cukup membuat Dean merasa khawatir. Dia yang mengajak Arlene bekerja sama, tapi tidak bisa menjamin keselamatannya di mansion yang penuh orang orang yang membenci Arlene, begitu juga Alleyah. Anak balita yang bahkan sudah menganggapnya seorang Ayah, Dean menatap tempat tidur Alleyah, gadis kecil itu tampak tertidur pulas setelah menangis meraung raung. Kedua orang tak bersalah yang masuk secara kebetulan dalam masalah hidupnya.
"Maafkan aku Alleyah, maafkan aku Arlene!"
***
Arlene masih berusaha mengingat kapan dia naik ke atas ranjang, dia masih menggosok kedua matanya sampai terbuka lebar.
"Kenapa aku jadi tidur di atas ranjang? Apa Dean yang memindahkanku?"
Arlene mengerdik, dia turun dari ranjang dan melihat Alleyah, namun sontak kaget karena Alleyah tidak ada.
"Alleyah ...?"
Arlene masuk ke dalam kamar mandi, namun tidak menemukan siapa siapa di dalam sana. Pintu balkon juga tampak tertutup, dan tidak mungkin Alleyah bisa membukanya.
Dengan cepat Arlene membuka pintu selebar lebar nya, kalau perlu dia akan berteriak sekencang kencangnya untuk mencari Alleyah.
Namun langkahnya terhenti saat mendengar remyahnya tawa Alleyah yang semakin dekat, kedua lutut Arlene pun melunglai begitu saja. Merasa lega karena melihat putrinya baik baik saja namun juga merasa aneh karena sikap Dean berubah pagi ini.
"Arlene kau sudah bangun? Maaf ... Tadi Alleyah bangun dan menangis, aku mengajaknya jalan jalan di sekitar taman sampai menunggu kau bangun."
__ADS_1
Arlene mengambil Alleyah yang tampak tenang di dalam gendongan Dean, bahkan pakaian Alleyah yang dikenakannya pun sudah berganti.
"Dia juga sudah minum susu"ujarnya eteng,
Sementara Arlene masih terpaku ditemopatnya berdiri. Manik hitamnya mengikuti langkah Dean yang masuk ke dalam kamar dan meninggalkannya begitu saja.
"Papapap!" anggil Alleyah pada Dean yang menghilang di balik pintu kamar.
Arlene menyusulnya masuk, tapi dia masih tidak tahu apa yang harus dia ucapkn pada Dean.
"Bersiap siaplah untuk sarapan, sebentar lagi kita turun."
"Kita?"
"Ya ... Kita, kau dan aku masih terus bersandiwara Arlene, jangan lupa itu." tukasnny dengan masuk ke dalam kamar mandi.
Lagi lagi Arlene kecewa, sikap baik yang ditunjukan Dean pada Alleyah putrinya hanya topeng belaka, bukan seperti yang di harapkan.
"Astaga ... Apa yang kau fikirkan Arlene!" rutuknya pada dirinya sendiri.
Hampir lima belas menit Dean menunggu Arlene yang tengah bersiap siap, bahkan dia bermain main dengan Alleyah sampai anak kecil itu terus tertawa riang, demamnya pun sudah turun.
Arlene benar benar bingung dengan sikap yang ditunjukan oleh Dean, "Jangan sampai terlena Arlene ... Jangan sampai kau terbawa perasaan. Ini hanya bisnis, kau mendapatkan uang dalam hal ini. Setelah selesai, aku bisa pergi dengan tenang dan tidak perlu lagi berurusan lagi dengan orang orang yang tinggal di mansion." cicit Arlene yang bicara meyakinkan dirinya sendiri pada cermin di dpannya.
Tak berselang lama, mereka berdua turun untuk sarapan, berjalan dengan Dean yang menggendong Alleyah dan membuat fikiran Arlene penuh dengan segala macam pertanyaan.
Terlihat semua orang sudah duduk ditempatnya masing masing, terkecuali Miranda yang belum terlihat.
"itu dia si pembuat keributan!" tukas Sorra dengan mendengus kasar.
Dean menoleh ke arah Arlene yang berdiri disampingnya dengan tatapan datar pada Sorra, terlihat sekali dia tidak takut apalagi gentar pada saudara perempuannya.
"Kau bicara tentang aku Sorra?"
__ADS_1