Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.44


__ADS_3

"Sudah lah untuk apa kau meminta maaf Dean? Tapi aku rasa aku perlu meluruskan sesuatu,"


"Hm?" Dean menatapnya seolah bertanya apa yang perlu mereka luruskan.


Tanpa menghentikan tangannya yang terus bergerak memasukkan barang miliknya ke dalam tas.


"Apa itu Arlene?"


"Ini tentang perasaanmu Dean! Aku tahu aku tidak berkewajiban untuk menuntut, tapi aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi? Tentang perasaan kita ... saat kau menciummku, atau kau yang mengatakan kau memiliki perasaan padaku tapi kau juga ragu. Aku cukup tahu diri Dean ... Tapi aku ingin tahu, apa kau berbohong padaku?"


Dean menggelengkan kepalanya, "Aku tidak bohong Arlene ... Aku memang tertarik padamu. Tapi ..."


"Tapi apa?"


"Tapi aku mencintai seseorang. Dia lah yang jadi alasanku melakukan hal ini dan memilihmu tanpa sengaja." tukas Dean.


Arlene tertawa, "Wow ... Hebat sekali! Beruntungnya dia Dean."

__ADS_1


"Terima kasih!"


"Aku serius, dia wanita yang beruntung karena dicintai begitu besar olehmu sampai kau bisa melakukan rencana ini dan membuang uangmu dalam jumlah yang sangat banyak."


Sungguh, kali ini hati Arlene sakit mendengarnya, namun dia tidak menunjukannya sedikitpun. Toh Dean tidak memiliki perasaan apa apa padanya, selama ini mungkin hanya terbawa suasana saja.


"Uang bukan masalah besar buatku Arlene, kau tahu itu, sebanyak apapun yang aku keluarkan tidaklah penting."


"Ya menurutmu uang adalah hal tidak penting, berbeda untukku. Bagiku uang sangat penting, dimana uang bisa membeli rasa hormat, sampai uang bisa menutup mata hati. Kau tahu itu!" ucapnya dengan nada yang lebih tinggi.


"Aku tidak bilang begitu! Kenapa kau marah?"


"Sudahlah ... Tidak ada gunanya lagi kita berdebat Arlene."


Arlene kembali tersadar, "Oke oke baiklah. Aku akan segera mempercepat membereskan barangku kok, Tenang saja aku pasti akan pergi besok."


"Bukan begitu maksudnya Arlene."

__ADS_1


Arlene kini masuk ke dalam kamar mandi, mengambil peralatan mandi miliknya. "Ah sudahlah Dean. Aku faham apa yang kau maksud!"


Dean menghela nafas, begitu juga Arlene yang sedikit sentimentil dengan apa yang dikatakan Dean. Sampai semua barang selesai dia bereskan, Dean masih menatapnya.


Dean duduk terdiam menatap punggung Arlene yang membelakanginya, dia juga mengingat beberapa hal yang mereka lalui bersama Selama 2 bulan. Sampai di mana mereka sama-sama mengalami momen-momen yang indah, berpelukan dan saling berciumaan.


Rasanya tidak rela membiarkan Arlene pergi, namun Dean sudah memiliki rencana dan tujuan berbeda, tentang perasaannya pada Arlene, mungkin akan hilang seiring waktu. Terlebih kini Miranda mendukungnya.


Arlene beringsut ke arah sofa, dia tidak lagi mengatakan apa apa, dan langsung menggelar selimut yang dia pakai untuk menutupi tubuhnya.


"Selamat malam Dean!" cicitnya tanpa ingin melihat ke arah Dean.


Dean pun hanya mengangguk, dia segera mengayunkan kedua kakinya ke arah ranjang dan naik.


Hampir 1 jam Dean hanya menatap langit-langit sementara Arlene pun tidak bisa memejamkan matanya. Mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing, tanpa ada yang ingin bicara. Sesekali mereka hanya saling melirik saja.


Hatiku sudah milik orang lain Arlene, tapi tidak bisa aku pungkiri kalau aku juga menyukaimu, ini sangat aneh. Kenapa aku bisa mencintai dua wanita sekaligus, selama ini mataku hanya tertuju pada Alexa, tidak ada yang bisa sepertinya, tidak ada orang lain yang bisa aku lihat selain melihatnya seorang, maafkan aku Arlene. Benar kata Nenek, aku hanyalah pria pecundang yang tidak bisa mengakui perasaanku, aku juga pria yang tidak bisa mengambil keputusan, aku tidak mengenalmu jauh Arlene, tapi hadirmu mampu menggeserkan Alexa di hatiku. Tapi aku tidak mau terjebak, apa yang sudah aku rencanakan, dan apa yang menjadi tujuanku. Maka maafkan aku Arlene, karena tanpa sengaja sudah menyukaimu. Batin Dean.

__ADS_1


Dean terus menatap ke arah Arlene, namun langsung mengubah posisinya saat tubuh Arlene mulai menggeliat, padahal mereka berada di dalam zona yang sama, karena saat ini Arlene yang menatap Dean.


Dean, seandainya aku tahu lebih awal rencanamu ini hanya karena wanita yang kau cintai. Aku tidak akan pernah membiarkan hatiku kau sentuh, aku tidak akan terlena dengan apa yang kau katakan dan kau lakukan, tapi sekarang. Apa yang harus aku lakukan Dean, walau aku masih ragu akan perasaanku sendiri padamu, tapi aku merasa patah hati saat ini. Hatiku sakit saat kau mengatakan wanita lain yang kau cintai. Aku ingin menangis saat itu juga, tapi aku tahu. Aku tidak pantas menangis. Maafkan aku Dean, tanpa sengaja aku mencintaimu. Batin Arlene.


__ADS_2