
Zoya terus saja merasa curiga melihat Robin, sejak dulu dia memang tidak terlalu suka pada pria itu, terlebih Robin adalah pria pemberi harapan palsu terhadap kakaknya Sorra.
"Kak Zoya lihat apa sih?" cetus Alleyah yang menaiki kursi dan melihat ke arah tatapan Zoya, "Oh lihat orang orang." ucapnya lagi.
Zoya mengangguk, dia lantas kembali duduk dan menggendong gadis kecil yang sangat pintar itu.
"Alle lebih suka main sama uncle Robin apa sama Papa Dean?" tanya Zoyaa iseng.
"Hmmm... Uncle suka, Papa juga suka. Tapi uncle sibuk sekarang, aku ke play ground sama papa Dean saja."
"Kok pinter banget sih tahu uncle Robin sibuk."
"Iya ... Tahu, tapi aku juga tahu uncle sibuk karena suka antar teman temannya, waktu itu uncle juga anter temannya. Uncle dan Mama mau menikah."
"Astaga! Bayi ini sudah dewasa tahu menikah?" Zoya tertawa, namun semakin penasaran dengan teman yang dikatakan Alleyah yang diantar Robin, seperti hari ini, Robin terlihat kembali datang seorang diri setelah sebelumnya bersama wanita.
Tak berselang lama, Robin masuk. Kedua manik tajamnya langsung bergerak kesana kemari dan berakhir di satu kursi di mana wanita yang dia cintai duduk bersama pria lain.
Tangannya mengepal, berjalan dengan cepat ke arah mereka dengan tatapan tajam, pria itu langsung menarik kerah kemeja Dean dengan kasar. Membuat Dean kaget dan berdiri.
"Apa yang kau lakukan dengan calon istriku brengsekk?"
Bugh!
Robin melayangkan pukulan tepat pada wajah Dean, membuat Dean terhuyung ke belakang. "Berani sekali kau! Dasar pengecut!" ucapnya lagi dengan pnuh emosi.
Bugh!
__ADS_1
Dean yang tidak terima dirinya di pukul membalas pukulan Robin di tempat yang sama. Keduanya saling menyerang dan tidak peduli pada orang orang yang hadir di peresmian resort itu.
Arlene berteriak mencoba melerai mereka namun teriakannya tidak berguna sama sekali walaupun dia berusaha dengan berdiri di tengah tengh mereka.
"Minggir kau, dasar wanita tidak tahu di untung, wanita murahan! Aku sudah melakukan banyak hal untukmu, tapi kau tidak puas dan malah bermain gila dengan dia!" tuduh Robin.
Bugh!
Dean kembali melayangkan pukulannya. "Jangan sekali sekali menyebutnya wanita murahan!"
Beberapa orang terlihat melerai mereka berdua dan memisahkannya agar tidak saling menyerang kembali. Robin menarik tangan Arlene dan menyuruhnya ikut dengannya. Zoya dan juga Alleyah juga berlari ke arah Dean setelah melihat beberapa orang membawa Robin ke ruangan sebelah.
"Kak .. Kau tidak apa apa kan?" ujarnya yang melihat pelipis dan juga bibirnya berdarah.
"Aku harus membawa Arlene ... Aku tidak bisa membiarkan Arlene pergi dengannya."
"Tenangkn dirimu dulu, aku yakin kakak ipar nanti kemari. Bukankah kak Dean akan menunggu Kakak ipar bicara padanya." ujar Zoya menenangkan.
Alleyah terlihat ingin menangis, dia memeluk pria yang dia anggap ayahnya itu dan hal itu membuat Dean semakin tenang.
Sementara Arlene kini tengah menenangkan Robin yang terus murka dan marah kepadanya.
"Sedang apa kau di sini Arlene, kau bisa pergi denganku bukan dengan dia."
"Robin, tenangkan dirimu agar kita bisa bicara dengan baik!"
"Tenang, kau bilang apa? Kau tidak tahu semarah apa aku saat aku melihatmu dengannya, aku terbakar cemburu Arlene ... Kau tahu itu, aku calon suamimu dan kau calon istriku, apa pantas kau pergi bersamanya, kau juga mengajak Alleyah. Ayolah Arlene ... Kau ini bodoh sekali, jangan bertingkah seolah kalian keluarga kecil yang bahagia, dia telah mengecewakanmu berkali kali dan kau masih percaya itu?"
__ADS_1
"Robin .. Sudah cukup! Aku tahu kau menyayangiku dan juga putriku, tapi maaf, kau tidak berhak menghinaku seperti ini."
"Kau memang seperti itu! Mau apa ... Kau harusnya bersyukur saat ada aku yang menolongmu saat itu, apa kau tidak berfikir dan tidak ingat. Kalau bukan aku, kau sudah tidak mungkin ada di sini , kau ini hanya beruntung karena bertemu denganku!" ujar Robin kesal.
Arlene menggelengkan kepalanya, tidak percaya jika Robin yang selama ini selalu baik dan memperlakukannyaa dengan baik mampu bicara hal sekasar itu terhadapnya.
"Maaf jika aku mengecewakanmu kali ini, aku tidak bisa menikah denganmu,"
"Oh sekarang kau marah padaku karena aku mengatakan hal yang sebenarnya dengan jujur? Dan kau tidak terima hal itu?"
Arlene menggelengkan kepalanya, itu memang benar, Robin sangat kasar dan dia baaru tahu hal itu sekarang, tapi bukan itu yang jadi masalah.
"Aku mencintai Dean dan dia juga mencintaiku. Maafkan aku Robin!" Arlene bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.
Roin berlari dan mencekal lengannya. "Oh jadi sekarang kau bilang kau juga mencintainya Arlene?" Bodoh ... ini sangat gila, hanya karena cintanya. Kau bilang tidak bisa menikah denganku?" ujarnya dengan rahang yang mengeras seiring vcekalan lengannya yang ikut mengeras. "Dia bilang dia mencintaimu dan kau percaya begitu saja. Kita sudah berjanji berkomitmen Arlene ... Kenapa kau melakukan hal itu?"
"Maaf Robin!" Arlene menepis lengannya dengan lembut.
Melihat hal itu Robin terlihat semakin marah.
"Dasar wanita murahan!" sentaknya kemudian.
"Maaf ... aku tidak bisa bersamamu, maafkan aku." Arlene keluar dari ruangan itu dengan tatapan nanar, hampir menangis karena ucapan Robin yang sangat kasar terhadapnya.
Dan Alleyah yang melihatnya langsung berlari ke arahnya dengan memanggil namanya. Di ikuti oleh Dean di belakangnya.
Arlene berjongkok memeluk putrinya lalu menggendongnya.
__ADS_1
"Kau tidak apa apa kan? Apa Robin meyakitimu?" tanya Dean, namun Arlene tidak ingin menjawabnya, dia terus berjalan dengan Alleyah yang dia gendong.
"Aku ingin pulang! Tolong antar aku pulang."