Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.84


__ADS_3

Alleyah terlihat menjadi tidak semangat setelah mengaku melihat seorang teman wanita yang diantarkan oleh Robin yang mengaku akan menikah dengan sang ibu. Walau dia tidak juga mengerti banyak istilah yang disebutkannya sendiri.


Padahal keduanya sudah berada di dalam play ground dengan berbagai mainan. Dean pun sudah membeli banyak sekali tiket permainan.


"Alle ...?"


"Aku merasa sedih Papa ...dan tidak bersemangat bermain play ground." cicitnya dengan menyandarkan kepalanya pada tembok sebuah pilar.


"Kenapa? Kau masih memikirkan teman wanita yang diantarkan uncle Robin?"


"Ya ... Aku sedih melihatnya, Mama ku pergi dan tidak ada yaang mengantarkannya, sementara Uncle mengantarkan temannya, dan tiba tiba aku ingin bertemu Mama dan memberi pelukan karena Mama sendiri terus!"


"Astaga ... kenapa kau memiliki perasaan sensitive seperti itu, apa karena kau juga seorang wanita?"


"Mungkin!" ujarnya dengan merengut. Wajahnya terlihat sendu dan tidak bersemangat seperti tadi, bahkan dia menyingkirkan semua bekal yang di siapkan ibunya.


"Oke baik ... Bagimana caranya agar hatimu membaik. Apa kita harus bertemu mama dan makan siang bersama? Atau kita suruh Mamamu kemari agar dia tidak merasa sendirian lagi. Aku sudah banyak membeli banyak tiket," ucapnya dengan menunjukan tiket tiket padanya.


"Memangnya Mama bisa datang? Mama pasti sedang sibuk bekerja."


"Tidak apa apa, biar aku yang bicara dengan bosnya."


"Bosnya kan uncle Robin Papaa."


Dean memejamkan mata, dia lupa hal yang satu itu, selama ini Leyka memang bekerja dengan Robin, tak bisa dia bayangkan bagaimana mereka bekerja dalam satu ruangan. Robin pasti melakukan banyak hal yang dia takutkan.


"Baiklah . Kita cari cara agar Ibumu datang kemari dengan segera." ujarnya dengan merogoh ponsel miliknya dari dalam saku celana. "Tapi sebelum itu kau harus makan dulu ok?"


Alleyah akhirnya mengangguk dengan wajah yang berbinar. Sementara Dean berusaha menghubungi Arlene.


Di tempat berbeda, Robin masuk ke dalam ruangannya, dengan siulan tanpa dosa saat melihat Arlene sudah berdiri di ruangannya dengan berkas ditangannya.


"Bagaimana bisa kau terlambat Robin, bukannya kita akan meeting hari ini, semua hadir dan harus menunggumu datang!"


"Maafkan aku sayang. Aku sedikit terlambat bangun karena kelelahan semalam."


Arlene hanya menatapnya datar, hatinya tidak bergetar karena ungkapan sayang yang terucap dari calon suaminya itu, kedua tangannya bahkan hanya diam saat Robin menggenggamnya lembut.

__ADS_1


"Kenapa wajahnmu itu?" ujarnya dengan menangkup wajah Arlene dan menengadahkannya hingga jarak di antara merek sangat dekat.


"Robin kita ada di kantor!" ujarnya dengan menepiskan tangan Robin.


"Tidak akan ada maasalah, lagi pula kau calon istriku dan ini kantor milikku sendiri!"


Arlene menyimpan berkas di atas meja dengan cepat, "Tetap saja itu tidak boleh dilakukan, kau ini contoh semua karyawanmu, kau ingin mereka meniru mu karena hal ini?"


"Ayolah Arlene ... Aku tidak akan menidurimu di sini juga!" kelakarnya. "Maaf aku tidak sengaja." ujarnya lagi setelah sadar dan melihat tatapan Arlene yang tajam terhadapnya.


"Sudahlah .. Aku akan keruanganku saja, dan tanda tangani berkas itu Robin, nanti akan ada yang mengambilnya." ujarnya dengan melangkah keluar.


"Kenapa bukan kau yang mengambilnya?"


"Aku harus bertemu dengan kepala cabang xx. Kami ada janji meeting di luar." Arlene segera menarik handle pintu.


Namun Robin lebih cepat mencekal tangannya yang akan menutup pintu ruangan, dan menariknya kembali masuk, pria itu menghimpitnya di belakang pintu dengan kedua tangan Robin yang menempel di pintu dan membuat ruang gerak Arlene semakin sulit.


"Tinggallah di sini sebentar, aku merindukanmu!" ujarnya dengan suara pelan.


Pria itu mendekatkan wajahnya semakin dekat. Dan hampir saja menyambar bibir Arlene . Namun Arlene langsung memalingkan wajahnya ke arah lain hingga pria itu menguluas senyuman.


"Robin .. Tolonglah. Aku hanya tidak terbiasa dengan hubungan kita di kantor. Itu membuatku risih!"


"Kalau begitu kau mau jika kita melakukannya di tempat lain. Hm?" Robin mengelus pipi mulusnya dengan lembut.


"Robin, aku harus kembali bekerja!"


"Oh ayolah, kita bersenang senang sedikit!" ujarnya dengan merengkuh pinggang rampingnya. "Kau sangat wangi Ley."


"Robin ... Please jangan begini! Bagaimana jika ada orang yang melihat kita?" Berkali kali Arlene berusaha menepis tangan Robin.


"Tidak masalah Ley ... Aku juga ingin memberi tahukan semua oang jika ku calon istriku, agar mereka bisa mengawasi m dan atau mencegah orang menganggu calon istirku ini." ujarnya dengan tangan yang kini mencapit dahunya dan menariknya sedikit.


Bibir tipis berwarna peach yang berkilau menguji imannya. Ingin sekali Robin melumattnya dengan lembut, dan rasanya sudah bisa di bayangkan akan manis. Karena selama ini Robin sangat menjaga jarak dengan nya, dia menunggu saat yang tepat dan inilah saatnya, terlebih kini Arlene sudah menjadi kekasihnya.


"Kapan kita mengurus pernikahan Ley ... Aku sudah tidak sabar untuk bisa setiap hari bertemu denganmu, bangun tidur melihat wajahmu yang cantik ini, begitu juga saat tidur aku bisa memelukmu sepuasnya." ujarnya dengan terus menatap lekat Arlene.

__ADS_1


"kita masih banyak pekerjaan Robin, terutama aku tengah menangani beberapa tender yang kau berikan, perusahaan yang akan kau akusisi bukankah perusahaan nenek Miranda yang saat ini ditangani Dean?"


Robin melepaskan dirinya setelah mendengar nama Dean yang di sebutkan Arlene. Itu membuatnya muak.


"Ah ..m Sayang, kenapa kau merusak mood ku hari ini. Aku benci kalau nama itu di sebutkan, terutama dari mulutmu. Bisakah kau tidak lagi menyebutkannya?"


"Robin ... Kau ini tidak profesional sekali!"


"Itu karena aku terlalu cemburu, cintaku padamu lebih besar Ley, dan semakin besar saat ini, aku bisa gila jika setiap hari mendengar kau menyebut nama pria pengecut itu." Ujar Robin yang terlihat merajuk.


"Aku sudah memilihmu Robin, kau fikir ku akan merubah hanya karena menyebutkan namanya saja?" jelas Arlene yang tidak ingin memiliki masalah dengan calon suamiinya itu gara gara Dean.


Robin terlihat tersenyum dengan kembali merengkuh bahunya dan memelukmya. "Aku percaya padamu sayang, tapi aku tidak percaya si brengsekk itu, dia bisa saja mendekatimu terus menerus dan membuatku gila."


"Tenang saja, aku tidak akan tergoda semudah itu Robin,"


"Aku percaya Ley ... Jangan membuatku kecewa ya!" ujarnya dengan mengelus punggung Arlene.


Drett


Drett


Dering ponsel milik menyelamatkan pemiliknya, hingga rengkuhan Robin kembali terlepas, suara panggilan telepon terdengar dari dalam saku, dan wanita berusia 24 tahun itu dengan cepat mengurai pelukan Robin dan merogoh ponselnya. Dia tersentak kaget saat melihat kontak Dean menghubunginya.


Dia pun segera keluar dari ruangan Robin agar tidak membuat masalah.


"Ada apa? Apa Alleyah baik baik saja?"


"Mama ... Ini aku,"


"Alleyah ... Kau kenapa, kau baik baik saja?"


"Cepat kemari Mama... Ini saat penting." ujar Alleyah dengan suara yang hilang timbul "Papa pingsan dan dia berat!!"


Arlene tersenta kaget, bagaimana Dean bisa pingsan. Seingatnya demamnya sudah turun sejak pagi. Hatinya was was mengingat Alleyah pasti terlupakan begitu saja saat semua orang fokus terhadap Dean.


Arlene berlari keruangannya guna mengambil tas dan juga mobil miliknya.

__ADS_1


"Alleyah kau dimana sekarang?"


"Aku tidak tahu, aku hanya tahu ini di play ground yang banyak orangnya, gedungnya tinggi dan ada loggonya hurup W besar."


__ADS_2