
Debora dan juga Sorra tentu saja kaget setelah mendengarnya dari Dean langsung dengan sangat jelas sekali,
"Kau bilang apa Dean? Perusahaan disana hampir setahun mangkrak, tidak ada prospek yang bagus di sana, kau jangan main main Dean! Semua usahamu tidak akan berarti apa apa. Semua akan percuma dan sia sia saja!" Tukas Sorra.
"Benar, jangan gegabah Dean, disana tempat berbahaya, warga lokal banyak yang tidak suka makanya sampai saat ini pihak perusahaan kita sulit membujuk mereka." tambah Debora.
Perusahaan yang terletak di utara sidney itu memang sulit berkembang, warga lokal yang masih memakai tradisi mereka dari turun temurun memang sulit ditembus, bahkan banyak sekali benturan benturan yang terjadi selama ini disana. Dan Miranda membuat keputusan itu untuknya sebagai syarat agar pertunangan dengan Selena dibatalkan.
Debora menghela nafas, "Kenapa kau tidak mau bertunangan dan menikahi Selena, dia gadis baik, cantik, juga model yang akan terkenal nantinya."
__ADS_1
"Dia memang cantik Bu, dan aku tidak tahu ... hanya saja aku tidak ada niat untuk mengenalnya lebih jauh tapi asal kalian tahu ... Selena tidak sebaik yang Ibu dan Sorra fikir." tukas Dean. "Sekarang aku mau istirahat, bisakah kalian keluar dan tidak menggangguku lagi?" tukasnya lagi.
Sorra mendengus, menghentakkan kakinya dan melangkah keluar dari kamar adik laki lakinya yang hanya terpaut 2 tahun dengannya itu.
Begitu juga dengan Debora yang menyusul putri sulungnya keluar dan membiarkan Dean.
Setelah kepergian kedua wanita yang selalu ingin tahu itu, Dean menatap langit langit kamarnya, beberapa jam yang lalu bahkan semalam, kamar ini terasa hangat karena adanya suara Arlene dan juga celotehan Alleyah.
Dan tiba tiba terbersit bayangan wajah Arlene yang tengah tersipu saat menikmati ciuman singkat darinya, bibirnya pun ikut melengkung tipis saat ingat hal itu. "Arlene yang manis, sebenarnya aku ingin meemuimu lagi tapi aku tidak mungkin melakukannya karena kau pasti berfikir yang tidak tidak padaku." gumamnya sendiri. "Aku harus mencari alasan agar aku bisa menemuimu tanpa kau merasa terganggu." cicitnya lagi.
__ADS_1
Brak!
Tiba tiba saja Dean terperanjat saat pintu terbuka sangat keras dan mendengus saat melihat adik bungsunya berdiri dengan wajah yang sulit diartikan.
"Kak Dean, kenapa kak Dean melakukan hal itu pada kaka ipar, maksudku pada kak Arlene. Apa kak dean sungguh sungguh melakukannya? Kenapa kak Dean jahat sekali." ujar zoya yang naik ke atas ranjang dan memukuli kakak laki lakinya itu, dia bahkan tidak menyangka apa yang dia dengar dan dia lihat tentang apa yang dilakukan kakaknya itu pada wanita yang dia sebut kakak ipar.
"Asal kak Dean tahu ya, aku sudah menyayangi kakak ipar dengan segenap jiwa ragaku, apalagi Alleyah, aku sudah menganggapnya seperti anakku sendiri," ucap Zoya dengan tataan mnanar, tapi kak Dean tega sekali melakukannya. Kak Dean tahu kan kakak ipar baik, cantik, lembut, terlebih kaka ipar tidak pernah muluk muluk orangnya, sederhana sekali. Dia bisa jadi teman aku, tidak seperti Selena atau bahkan Kak Sorra sekalipun. Tapi kak Dean justru menipuku." ujarnya lagi dengan kesal, dua tangannya terus memukul tubuh Dean yang hanya bisa meringis tanpa melawan sedikitpun.
Sampai rasanya Zoya lelah sendiri, dia menghempaskan tubuhnya disamping Dean dan terdiam dengan dada yang naik turun. Dean tersenyum melihatnya. Lalu mengusap pucuk rambutnya.
__ADS_1
"Kau ingin melihatnya bukan? Ayo ikut denganku."