
Ucapan Leyka alias Arlene benar benar menohok. Bagaimana tidak, ucapan mengenai dress kedua yang dia jual seharga lima kali lipat dari harga asli membuat Dean terbeliak, saat itu juga dia ingat jika Rayi juga mengatakan hal yang sama.
Dean ... Lebih baik kau cari dress lain, pemilik asli rela menjualnya jika kita berani membayar lima kali lipat, katanya dia juga susah payah mendapatkannya. ujar Rayi kala itu.
Namun Dean bersikeras, dia tidak mungkin membuat Alexa kecewa walau pun harus mengocek lebih banyak uang untuk mendapatkannya.
Rayi tetap mengusulkan mencari dress lain saja dari pada dress itu. Sampai akhirnya dia mendapat ide cemerlang agar pemilik Dress melepaskannya.
Alexa mengerjap ngerjapkan kedua matanya, menatap Leyka lalu Robin dan berakhir pada Dean.
"Apa maksudmu?"
"Sudahlah, tidak penting juga dibahas Alexa. Ayo Ley.. lebih baik kita pergi." ucap Robin yang menarik tangan Leyka dan membawanya pergi.
"Dean ... Apa maksud wanita tadi? Apa maksudnya dia juga memiliki dress yang sama denganku ini? Atau jangan jangan dia pemilik dress ini sebelumnya dan dia melepaskannya untukku?" tanya ALexa dengan beberapa pertanyaan yang membuat Dean semakin kesal.
Membayangkannya saja tidak mungkin, bagaimana bisa membayangkan wanita lain yang memiliki tubuh dan wajah yang lebih cantik dibandingkan dengannya sendiri, juga membayangkan Leyka yang memakai dress itu sebelumnya. "Iwww ... Benar benar tidak masuk akal. Memangnya siapa dia? Bisa memiliki dress mahal yang tiada duanya ini."
Dean hanya melihat Leyka dan Robin yang berjalan ke arah meja meja para tamu undangan dan bergabung dengan mereka, membuat amarahnya semakin berkecambuk saja.
"Dean ... Kau dengar aku tidak!" Sentak Alexa marah.
Dean mengerdik, lantas berlalu pergi. "Sudahlah! Aku tidak mau membahasnya lagi."
Sungguh kali ini bukan dress dan Alexa yang dia fikirkan, dia hanya memikirkan Leyka yang tetap dia fikir jika dia adalah Arlene, semua hal yang dia kenali dia juga dapat mengingat semuanya. Tingkahnya jika dia malunya, bahkan dirinya yang terlihat jelas jika sedang salah tingkah. Dean berjalan lebih dulu, di susul oleh Alexa dibelakangnya.
"Dean, ada apa denganmu? Kenapa kau pergi tiba tiba seperti ini, acara saja bahkan belum di mulai, kau tidak ingin melihat lebih lama lagi. Aku sudah berdandan habis habisan hanya untuk acara ini, kenapa kau ini!" ujar Alexa yang menghentakkan kakinya berharap Dean mengerti, namun tentu saja tidak, Dean tidak ingin berlama lama di tempat itu karena kini suasana hatinya benar benar kacau.
"Dean?" teriaknya lagi
Pria itu berjalan ke arah samping hotel, dimana ada sebuah taman yang di penuhi para tamu tamu undangan yang tengah menikmati pesta, pria itu melintas begitu saja tanpa ingin menyapa.
__ADS_1
"Tunggulah ... Aku akan kembali!" ujarnya pada saat Alexa berhenti mengikutinya.
Dan dia memilih berjalan ke area belakang hotel, tidak lagi peduli Alexa mengikutinya atau tidak. Alih alih pergi meninggalkan pesta, justru dia sengaja berada di tempat itu hanya agar bisa melihat Leyka, dia mengikuti kemana pun Leyka pergi.
Pria berusia 27 tahun itu menatapnya dari balik kaca jendela yang besar, melihat senyumnya, parasnya yang cantik dan dua manik coklat yang bersinar terang saat dia berbicara dengan tamu lain yang bergabung dengannya, terlebih pada Robin yang selalu bersamanya sejak tadi. Bahkan keduanya terlihat menikmati kebersamaannya itu.
Sementara Alexa mulai hilang kesabaran, dia melangkahkan kakinya menuju ke area minuman. Segala minuman ada di sana bahkan dengan harga fantastis yang disajikan bebas.
"Dean aneh banget, apa yang membuat fikirannya seperti itu, heran ... Bukannya menikmati pesta malah hilang. Sudahlah, aku tidak ingin peduli padanya. Aku lelah." ujarnya dengan menenggak wine yang dia ambil
Sementara Robin terus memperhatikan Leyka yang terlihat tertawa namun terlihat sangat gugup, seolah dia tahu jika Leyka tidak benar benar menikmati pesta itu.
"You oke?" tanya Robin.
"Ya tentu saja Robin, tidak usah khawatir."
"Aku tahu ini tidak mudah Ley, tapi ini yang terbaik untukmu, kau ingat kan?"
Leyka berjalan ke arah toilet, dan kesempatan itu di pakai Dean untuk mengikutinya dan bicara padanya secara langsung tanpa ada gangguan dari siapapun...dia ingin memastikannya sendiri jika Leyka adalah Arlene.
Setelah memastikan Leyka masuk ke dalam bilik toilet, Dean mengikutinya dengan masuk ke dalam toilet khusus wanita tersebut dan mengunci pintunya.
Pria itu menunggu Leyka sampai selesai dan keluar dari bilik toilet.
Leyka tentu saja tersentak saat melihat Dean yang kini berdiri disamping wastafel, namun dia dapat menyembunyikan rasa kaget nya dengan baik.
"Kau tidak bisa sembarangan masuk ke dalam toilet wanita, dasar tidak tahu sopan santun!" Tukasnya dengan melangkah ke arah wastefel.
"Aku hanya ingin bicara padamu Arlene!"
"Tidak gentleman! Kau mengajak seorang wanita bicara di dalam toilet? Lucu sekali ...!"
__ADS_1
Leyka berdiri di depan wastafel, dia juga membenahi rambutnya yang bahkan tidak terlihat berantakan. Tidak peduli kehadiran Dean yang mulai mengganggunya.
Setelah membenahi rambut, dia mengulurkan dua tangannya pada kucuran air di wastafel. "Beginikah sikap seorang pria terhormat, benar benar tidak tahu tata krama!" desisnya lagi.
"Itu tidak penting!" Dean mencekal lengannya, hingga tubuh Leyka menjadi menghadap ke arahnya
"Itu tidak penting sekarang, aku hanya ingin memastikan jika dugaanku benar, kau Arlene bukan?"
"Sudah aku katakan kalau aku itu Leyka, bukan Arlene. Atau siapapun itu ... Leyka ... My name is Leyka!" ujarnya menepiskan tangan Dean dari lengannya.
Leyka melanjutkan membasuh kedua tangannya memakai sabun tangan dengan wangi stobery, dengan Dean yang menatap pantulan dirinya dari cermin besar yang berada sepanjang wastafel.
"Malam itu aku datang ke apartemen dan mendapati Baron, aku juga menemukan tetesan darah di sepanjang kamar dan juga di depan pintu, kau tahu bagaimana perasaan ku saat melihatnya? Apa kau tahu rasanya khawatir dan takut terjadi sesuatu denganmu dan juga Alleyah. Dan selama 6 bulan ini aku terus mencarimu kemana mana dan tidak pernah ada sedikitpun petunjuk tentang keberadaanmu Arlene."
Leyka terdiam dengan kepala tertunduk, menatap setiap gerakan tangannya di dalam kucuran air.
"Selama 6 bulan ini aku tidak bisa tidur dengan nyenyak, bahkan aku kehilangan konsentrasi dan fikiranku dalam bekerja karena memikirkan keberadaanmu, aku khawtir Arlene, aku __"
Leyka menghadapkan diri ke arahnya, dengan mengambil beberapa tisu untuk mengeringkan kedua tangannya.
"Cerita yang sangat menyentuh tuan Dean ... tapi maaf aku tidak tertarik untuk membuat drama atau bahkan jika ini di film kan sekalipun. Maaf ya ... aku sudah membuatmu kecewa .. Tapi aku benar benar bukan orang yang kau maksud!" Ujarnya dengan melangkahkan dua kaki nya ke arah pintu.
"Namun dengan gerakan cepat, Dean kembali mencekal lengannya hingga Leyka tidak dapat menghindar dan terhuyung ke arahnya
Grep!
Tangan Dean dengan siaga menangkap tubuh Arlene, membuat detak jantungnya bergemuruh saat itu juga. Entah Leyka sadar atau tidak, kini mereka saling menatap satu sama lain.
Sepersekian detik saja posisi mereka berada di posisi tidak aman, jantung keduanya sama sama bertalu talu tidak karuan. Sampai Leyka mendorong kedua bahunya hingga Dean terhuyung ke belakang.
"Aku sangat yakin jika kau itu Arlene!"
__ADS_1
"Jika memang aku Arlene ... Memangnya kau mau apa? Kau akan minta maaf padaku dan memberiku harapan palsu lagi?"