Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.11


__ADS_3

Papapaa.....


Terdengar suara tawa yang membuat Arlene mencelos lalu menoleh.


"Alleyah ...!! Sayang, ibu mencarimu!" ujarnya dengan berlari.


"Maaf kakak ipar, aku mengambil Alleyah saat aku mendengar tangisan nya tapi kalian berdua terlalu nyenyak tidur."


"Zoya!! Astaga ...!" Dean meraup wajahnya dengan kasar.


Zoya terkekeh dengan memperlihatkan gigi putihnya yang berderet rapi, "Maaf kak ...!"


Arlene mengambil Alleyah dari pangkuan Zoya, lalu memeluknya erat, Alleyah tampak ceria dengan terus menggerak gerakan kedua tangannya ke udara dan menunjuk Zoya.


"Nanti kita main lagi ya!!" Ucap Zoya tertawa, sementara Alleyah mengangguk anggukkan kepalanya.


"Lain kali kau tidak boleh melakukan hal seperti ini lagi Zoya, kau membuat semua orang jadi gila mencari anak ini, dan ibunya hampir pingsan karenamu!" tegas Dean.


Zoya mengernyit saat Dean mengatakan hal itu. Anak ini, bukannya anaknya dia juga, tapi Zoya tidak mau ambil pusing, dia langsung mengikuti Arlene.


"Maafkan aku kakak ipar!"


"Tidak apa apa Zoya, aku hanya panik karena Alleyah menghilang."


Miranda yang sejak tadi berdiri hanya mendengus lalu kembali masuk kedalam kamarnya di temani asisten yang selalu siap membantunya, tanpa kata tanpa bicara dengan tatapan tajam bak elangm


"Ayo kita kembali ... ini masih terlalu pagi!" ujar Dean melangkah menuju kamarnya lebih dulu, sementara Arlene terus memeluk sang buah hati.


"Kakak ipar sekali lagi aku minta maaf!! Aku tidak bermaksud membuat kakak ipar sedih," Zoya mengikuti langkah keduanya menuju kamar meraka. "Kakak ipar gak marah kan sama aku?"


Arlene mengangguk, "Tidak apa apa Zoya! Alleyah baik baik saja aku sudah sangat senang."


"Kak Dean pasti sangat marah padaku!"


Tidak mungkin Zoya, atas dasar apa dia marah besar. Yang hilang bukan anak kandungnya, melainkan anak dari wanita yang dia bayar untuk menjadi istrinya. batin Arlene menjawab pertanyaan Zoya.


"Aku tidak tahu kalian sudah punya anak, dan kebiasaan ku kalau pagi pagi pasti ke kamar kak Dean, aku kaget saat lihat Alleyah nangis dan kalian masih tidur, jadi aku bawa saja." Terangnya lagi lebih rinci.

__ADS_1


"Tidak apa apa Zoya, kau pasti kaget karena kakakmu sudah punya anak kan? Tapi jangan lakukan itu lagi karena aku bisa mati."


Zoya mengangguk, gadis berusia 18 tahun itu terus mengikuti Arlene yang berjalan masuk kedalam kamarnya. Dia pun ikut serta dan ingin memastikan jika kakaknya tidak lagi marah, sementara pria yang tengah dicari sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi.


Arlene membaringkan tubuh mungil Alleyah di atas kasur, dia membuat sebotol susu sementara Zoya duduk disofa.


Tak lama Dean keluar dari kamar mandi, cukup sebentar karena dia hanya mencuci wajahnya saja.


"Kak Dean ... kak Dean tidak benar benar marah padaku kan?" Zoya menarik tangannya dan membawanya duduk, menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan.


"Tidak!!"


"Tapi kak Dean terlihat kesal begitu."


Bagaimana aku tidak kesal, di pagi buta harus terjadi keributan dirumah ini gara gara anak kecil itu, sampai aku lupa kalau anak itu bagian dari mulusnya rencanaku. Ya tuhan. Batin Dean.


"Tidak Zoya, tapi seharusnya kau tidak membawa putriku sembarangan seperti tadi." Akhirnya Dean kembali sadar jika dia hampir saja keceplosan.


Zoya mengangguk, dia kembali menghampiri Arlene yang tengah duduk ditepi ranjang dengan sebotol susu hangat yang sudah siap untuk Alleyah.


"Kakak ipar ... sebagai penebusan dosaku, bagaimana kalau hari ini kita keluar. Aku akan mengajak kakak ipar jalan jalan, kita berbelanja. Bagaimana?"


"Ya ... ya, mau ya!!" ujarnya dengan tatapan nanar, kedua matanya menampilkan permohonan yang membuat Arlene tidak tega.


"Hm ... baiklah! Tapi aku harus tanya suamiku lebih dulu." Tukasnya dengan menatap Dean lagi, seolah dia memang benar benar seorang istri yang harus meminta ijin suaminya lebih dulu.


"Kak Dean. Boleh ya?" Rengek Zoya pada Kakaknya.


Dean terkesiap, dia sebenarnya juga tidak terlalu peduli asalkan rencananya tetap berjalan. Namun akhirnya dia hanya mengangguk pelan. Arlene mengulas senyum hanya karena sebuah anggukan saja. "Aku akan siap siap dulu."


"Yeees ... tentu saja kakak ipar! Aku juga akan bersiap siap, setelah sarapan pagi kita pergi." Ujar Zoya berlalu beranjak keluar.


Arlene menatap ke arah Dean lagi, namun Dean seolah tidak peduli apapun yang akan dia lakukan nanti.


"Untuk masalah itu, aku tidak peduli! Kau bebas melakukan hal apapun asalkan bisa menjaga nama baik keluarga McDermott, apalagi kau pergi bersama Zoya, jangan macam macam, aku tidak ingin ketahuan!"


Arlene mengangguk, tentu saja. Dia akan menikmati semua kehidupan barunya, termasuk pergi berbelanja adalah hal sangat jarang dia lakukan selama ini.

__ADS_1


Arlene menyambar handuk lalu masuk kedalam kamar mandi.


"Sekali kau kabur dariku! Seumur hidup aku akan mengejar dan mencarimu Arlene, jadi jangan coba coba licik!" Seru Dean saat melihat wanita yang tampak senang itu menutup pintu kamar mandi.


"Aku tidak akan kabur!" sahut Arlene berteriak, "Untuk apa aku kabur kalau di tempat ini aku aman bersembunyi." cicitnya kemudian.


Sementara Dean mengernyitkan dahi, melihatnya yang tampak senang walau hanya pergi berbelanja.


"Sesenang itukah?? Seperti orang yang tidak pernah pergi shoping."


Zoya keluar dari kamarnya, lantas dia bergegas mengayunkan langkah serta wajah gembira, rambut sebahu miliknya bergerak ke kiri dan ke kanan, dia kembali menuju ke kamar Dean.


Dia membuka pintu  kamar tidak terkunci itu begitu saja, mengagetkan Dean yang tengah bermain ponsel.


"Kenapa kau tidak mengetuk pintu!"


Zoya terkekeh, "Hanya dilakukan dibelakang nenek kan!! Mana kakak ipar?"


Dean hanya menunjuk pintu kamar mandi dengan menggunakan dagunya, dimana Arlene berada di dalam sana tengah bersiap siap.


Mulut gadis itu berbentuk huruf O seraya menatap pintu kamar mandi, lalu dia berjalan ke tepi ranjang di mana Alleyah tertidur.


"Kak ... kak Dean ikut tidak?"


"Untuk apa? Aku malas mengantar para wanita pergi shoping, akan sangat melelahkan." ujarnya dengan kedua manik yang terus memelototi ponsel.


Zoya memainkan tangan Alleyah yang tertidur pulas, dia memperhatikan wajah anak kecil itu. "Kenapa wajah Alleyah tidak sepertimu?"


Kali ini ucapan Zoya membuatnya harus menoleh, dia meletakkan ponsel di atas meja dan mendekati adik bungsunya.


"Jelas ... karena dia mirip ibunya!"


Zoya tampak mengernyit, dengan terus menatap wajah anak balita berusia dua tahun itu dengan seksama, "Tapi tidak juga mirip ibunya!"


"Sudahlah ... kenapa kau justru membahas hal kecil itu!" Dean menarik adiknya lalu menyuruhnya keluar.


"Aku akan menyuruh Arlene ke kamarmu jika dia sudah selesai!"

__ADS_1


"Tapi kak ... Aku benar kan, Alleyah tidak mirip denganmu juga dengan kakak ipar. Dia ....!"


"Dia putriku Zoya, kau tidak lihat hidung dan bibirnya mirip denganku!"


__ADS_2