Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.60


__ADS_3

Hampir satu minggu lamanya keberadaan Arlene tidak juga diketahui, Dean bahkan sudah mncarinya kemana mana namun tidak juga menemukannya, polisi udah memeriksa Baron yang pada saat kejadian dan menjadi tersangka utama dalam kasus mengganggu kenyamanan dan ketertiban di apartemen itu juga kasus kekerasan dan penganiayaan yang menyebabkan seseorang terluka akibatnya. Yaitu supir keluarga Mdcermott, ia juga yang mrenimbulkan kerugian material.


Sedangkan untuk kasus hilangnya Arlene, dia sama sekali tidak terbukti terlibat sedikitpun, bahkan dia tidak tahu siapa dan kapan Arlene keluar dari unitnya itu, supir yang di tugaskan oleh Dean menjaga Arlene saat itu pun sudah ditemukan di sebuah rumah sakit, dia mendapatkan perawatan atas lukanya yang cukup serius yang dideritanya, namun dia tidak ingat bahkan tidak tahu siapa yang membawanya ke rumah sakit saat itu, penjamin yang terdaftarpun tidak ada, semua upaya yang dilakukan Dean nyatanya mengalami jalan buntu, Arlene tidak di ketahui rimbanya.


Hingga tiba hari dimana keberangkatan Dean ke utara sudah tidak dapat di undur undur lagi, Miranda mendesaknya dan juga menagih janjinya agar dia segera menepati atau miranda akan mencabut semuanya.


"Nek ... Nenek tidak bisa melakukan hal ini, bagaimana aku harus mengatakannya pada keluarga Selena." tukas Sorra yang juga mendesak sang nenek untuk tetap melanjutkan pertunangan Dean dan juga selena ynag merupakan sahabatnya itu.


"Biar aku yang bicara nanti, dan kau tidak perlu khawatir lagi, Nenek tahu apa yang harus nenek lakukan Sorra."


"Tapi Bu ... Sorra benar, bagaimana dengan kabar yang beedar tentang rencana pernikahan mereka, kita akan malu jika semua ini batal karena nenek yang menginginkannya, bukankah nenek juga setuju pada awalnya dulu." timpal Debora.


Langkah Miranda terhenti saat mendengar ucapan menantunya itu, dia berbalik dan menatap Debora dengan tajam, "Kalau kau sudah tidak sanggup lagi, silahkan pergi dari mansion ini, putraku sudah meninggal dan kau d sini hanya sebagai ibu dari cucu cucuku, jadi jangan banyak tingkah Debora. Kau fikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan di luar sana, kalau kau sudah menemukan pria lain pengganti suamimu ayo pergi dan berbahagialah, untuk apa kau masih menahan dirimuuntuk tetep di sini?" ujarnya menohok dan membungkam Debora seketika.


"Nenek! Mana mungkin ibu melakukan hal itu, ibu sangat setia pada ayah dan tidak mungkin berani macam macam pada Nenek!" sela Sorra yang memang tidak mengetahui apa saja yang di lakukan ibunya diluar mansion.

__ADS_1


"Kalau kau tidak percaya nenek, tanyakan saja sendiri Sorra, jika itu benar ... biarkan ibumu mencari kebahagiaannya sendiri, jangan menghalanginya seolah nenek ini selalu kejam terhadap kalian dan mengurungnya untuk tetep berada di mansion ini hanya karena wasiat ayahmu." ujarnya lagi lagi menohok. "Aku membebaskan kalian berdua untuk berbahagia, dia bleh pergi, sama halnya dengan Dean yang nenek beri kesempatan atas pilihan yang dia pilih itu. Itu juga berlaku untukmu. Kau mengerti Sorra?" ujarnya dengan suara yang sedikit menyentak seperti biasanya.


Sorra hanya bisa terdiam dengan perkataan sang nenek, dia menatal sang ibu tanpa berkedip seolah sedang menunggu jawaban apa yang di ucapkan nebeknya benar atau tidak, sampai Miranda berlalu dan meninggalkan keduanya.


"Ibu membuat semua semakin kacau debgan bertindak sesuka hati di luar sana, apa bu fikir nenek akan diam saja dan tidak mengawasi kita? Aylah bu, pintar sedikit saja, ibu itu di awasi ketat, dan jika itu benar, tamatlah riwayat kita," desis Sorra yang menatap ke arah ibunya dengan kesal.


"Lalu apa yang kau lakukan, kau juga melakukan hal sesuka hatimu Sorra, kau fikir nenek tidak tahu? Itu sebabnya nenek bicara seerti itu pada kita berdua, bukan hanya pada ibu saja!" Kilah Debora membela diri, dia ingin disalahkan sendirian, dia ikut menyenggol tabiat Sorra yang sama dengannya.


Alih alih meredam kemarahan Miranda, kedua wanita itu malah saling menyalahkan atas apa yang mereka lakuan di luar mansion sementara Zoya yang berdiri di samping Dean hanya bisa menghela nafas. Gadis itu berwajah murung saat tahu kakak laki lakinya akan terbang hari kini ke utara, sementara pencarian Arlene belum membuahkan hasil.


"Kak ... Kakak akan segera pulang jika ada sesuatu yang terjadi kan? Aku tidak tahu harus berbuat apa kak."


"Iya kabari aku saja oke," ujarny dengan mengacak pucuk rambut Zoya dengan wajah yang sulit dia artikan, fikirannya terus berpusat pada Arlene dan juga Alleyah.


Jika harus memilih, tentu saja Dean akan mencari Arlene terlebih dahulu, dan bertanggung jawab atas semua kekacauan ini, andai saja malam itu dia tidak pergi atau segera menemuinya setelah bicara dengan Zoya mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi, Arlene tidak akan pergi seperti ini dalam ketakutan pastinya dan entah apa yang terjadi sekarang ini.

__ADS_1


Mobil yang akan mengantar Dean ke landasan utama sudah siap, dia tidak perlu membeli tiket pesawat atau bahkan melakukan pengecekan setiap bepergian, karena keluarganya memiliki jet khusus pribadi yang siap terbang kapan saja mereka mau, namun baru kali ini Dean memakainya karena itu pun terpaksa.


Dean selalu senang berpergian tanpa memakai jet miliknya karena semuu kendali berada di tangan sang penguasa harta yaitu Miranda neneknya.


"Semua sudah siap, Tuan." ujar supir yang akan mengantarkan Dean.


Dean mengangguk, disampingnya Zoya memeluknya dengan kedua mata yag berkaca kaca, "Aku ingin ikut saja kak, aku tidak tahu jika di mansion ini tidak ada kakak, atau aku kembali saja ke asrama!" ujar Zoya.


"Tidak apa apa, bantu aku mencari Arlene, bukankah kaunjuga ingin melakukan hal itu, kalau kau kembali ke asrama sekarang, kau tidak bisa melakukan apa apa untuk mencari keberadaan Arlene, bersabarlah setidaknya sampai Arlene ditemukan ya?" bisik Dean.


Tentu saja Zoya mengangguk, dia ingin menolong kakaknya dan juga menolong Arlene yang malang sampai akhirnya Dean berpamitan pada ibu dan kakak perempuannya yang terlihat lebih khawatir dibandingkan sebelumnyabdan kekhawatiran mereka berdua jelas saja karena memikirkan Dean yang akan pergi, tapi khawatir tentang masa depannya masing masing.


"Sebuah mobil berwarna merah menyala tiba dan berhenti begitu saja, sesaat kemudin pintu mobil terbuka dan seseorang berlari dengan cepat menghampiri Dean.


"Dean kau tidak bisa melakukan hal ini padaku, kedua keluarga kita sudah sepakat untuk kita menikah. Tapi kenapa tiba tiba kau membatalkannya,"

__ADS_1


"Selena .. Dengar, aku memang tidak berniat bertunangan denganmu apalagi sampai menikah denganmu, kau tahu itu SLena jadi terimalah, karena nenek pun sudah setuju,"


__ADS_2