Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.16


__ADS_3

"Kau terlalu percaya diri! Aku tidak salah tingkah!"


Grep!


Arlene terhuyung ke depan saat tangan Dean menariknya.


Bruk!


Jarak mereka kembali dekat, bahkan tubuh Arlene menabrak tubuhnya.


"Kau tidak hati hati Arlene!"


"Kau. Kau yang menarikku tadi!" hardiknya dengan kembali mendorong bahu pria berusia 27 tahun itu.


Namun Dean dengan cepat mengunci pergerakannya dengan melingkarkan tangan di pinggangnya dan membuat Arlene menelan salivanya, lagi lagi posisi Dean membuat jantungnya tidak aman, dengan jarak mereka yang terlalu dekat bahkan nafas Dean berhembus tepat di wajah Arlene, membuatnya kembali harus menundukan wajahnya kebawah, namun justru dada bidangnya lah yang dia lihat sekarang.


Perlahan lahan Dean menyentuh dagu yang tertunduk itu dengan lembut, membuatnya kembali menatap wajah tampannya. Kedua manik mereka saling bertemu, semakin pasti dengan Dean yang mendekatkan wajahnya seolah hendak mencium Arlene.


Dadanya bergemuruh hebat, Dean memang memiliki pesona luar biasa, wajah tampannya menunjang kesempurnaan hidupnya, terlebih dia juga kaya raya. Sesuatu yang tiba tiba bangkit setelah terkubur sekian lama, perasaan yang telah sedikit tertaut hingga tanpa sadar Dean semakin memajukan wajahnya begitu juga Arlene yang perlahan memejamkan matanya.


Pria yang berdiri didepannya mengulum senyuman, menatap cantiknya wajah Arlene, kedua manik indahnya terpejam dengan bulu bulu lentik yang indah, bibirnya yang ranum berwarna peach yang dipastikan akan manis semanis aroma stobery yang menyeruak. Seolah menanti pergerakan Dean untuk mencicipinya.


Tapi sedetik kemudian Dean tertawa, menutupi degup jantung yang berirama yang kini sulit dia mengerti. Walau rasanya ingin sekali mengecup bibir Arlene.


"Kau sedang apa Arlene. Menunggu aku menciummu ya?" ujarnya dengan terus tertawa.


Arlene mengerjapkan matanya, lalu mendorong dada Dean lagi dengan keras hingga pria itu terhempas tepat ke belakang dan terjungkal ke atas ranjang.


"Kau jahat sekali Dean!" desisnya tanpa terdengar Dean.


"Wooh ... Apa kau berharap aku benar benar akan menciummu Arlene?" Dean menggelengkan kepalanya, "Maaf tapi jujur saja, kau bukan tipe ku."

__ADS_1


Dean kembali naik ke atas ranjang, membuat Arlene yang tertohok dengan ucapannya yang sangat buruk itu mendengus kasar, lalu menatapnya dengan kedua mata menajam.


Sadarlah Arlene, kau siapa dan pria menyebalkan ini siapa?


Arlene meremas dasi berwarna hitam dengan corak keemasan yang baru saja dia ambil dari paper bag, dia menyesal  membuang buang waktu memilih dasi untuknya tadi, dia lantas melemparkannya begitu saja ke lantai.


"Awas kalau kau sampai jatuh cinta padaku Dean!"


"Maaf ... Itu tidak mungkin Arlene."


"Lihat saja, aku akan membuatmu menyesal Dean." gumamnya pelan.


Setelah memastikan Alleyah tidur dengan nyaman didalam boks bayi, dia lantas masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri sekaligus membersihkan fikirannya, mengisi bathtube dengan air dan juga aroma terapi lalu masuk kedalamnya.


"Bodoh sekali kalau kau berharap Dean menciummu Arlene, terlalu murahan!" gumamnya dengan menatap langit langit kamar mandi. Hampir setengah jam dia berada di dalam, setelah merasa rileks, dia keluar dan mendapati kamar telah kosong.


Pria menyebalkan itu tidak ada di kamar dan Arlene tidak ingin peduli, dia mengerdik lalu duduk di meja rias, merias wajahnya sedemikian rupa dan tentu saja mencoba pakaian yang baru saja dia beli.


"Perpect Arlene, kau luar biasa." gumamnya memuji dirinya sendiri di dalam pantulan cermin. "Kali ini kau terlihat sama dengan mereka, tidak ada lagi Arlene yang kumal dan dekil, kau harus menunjukannya pada mereka."


Tak lama Dean masuk kedalam kamar dengan tergesa gesa dan membuat Arlene kaget. Dan tiba tiba Dean terpaku ditempatnya saat melihat Arlene, terpana melihat wanita yang dia bayar dengan mahal dalam balutan pakaian dan berpenampilan luar biasa. Bahkan Dean bersusah payah menelan saliva saat melihat bahu putih yang terpangpang nyata.


Arlene tersenyum sangat canyik ke arahnya, lalu mengibaskan sedikit rambutnya ke belakang.


"Jangan sampai kau menelan ucapanmu sendiri Dean,"


"Tidak! A--aku tidak ...!"


"Benarkah? Bagaimana kalau ternyata sebaliknya." Arlene melangkah dua langkah ke arahnya, dengan sangat cantik dan elegan.


"Aku tidak tertarik padamu Arlene."

__ADS_1


"Aku juga! Anggap saja tadi aku hanya terbawa suasana!" Langkah Arlene semakin dekat.


Bahu putihnya, wajahnya, rambutnya, bahkan semua yang ada di dalam diri Arlene membuatnya tidak berkedip.


Huuhhh!


Arlene meniup wajah Dean lalu membalikkan tubuhnya, "Kedua matamu tidak bisa berbohong."


Dean mengerjap, pesona Arlene membuanya lupa kalau tujuannya kembali masuk ke kamar yaitu untuk mengajaknya.


"Arlene! Kau harus ikut aku!"


"Kemana?"


"Ikut saja! Ayo ...!"


"Tidak mau sebelum kau mengatakan kemana akan membawaku Dean!" sentak Arlene, dia masih kesal akan sikap Dean yang mempermainkannya tadi.


"Dengar Arlene, aku membayarmu mahal bukan untuk bertanya, kau hanya perlu mengikuti apa yang aku katakan!"


Arlene membalikkan tubuhnya kembali ke arah Dean. "Ok kalau begitu! Bagaimana kalau kita  batalkan saja perjanjiannya, aku akan bicara pada mereka kalau aku ini bukan istrimu, aku hanya kau bayar untuk mengaku jadi istrimu! Dan aku akan mengembalikan semua uangmu." ancam Arlene dengan kedua tangan melipat di depan dadanya. walaupun dia takut juga jika Dean menyetujuinya, maka dia harus mengembalikan uang yang bahkan tinggal sisa sedikit.


Dean terdiam, menatap wajah Arlene yang menatapnya tajam dengan dagu terangkat sangat angkuh, sejurus kemudian dia berdecak kesal.


"Oke oke ... kau menang Arlene! Kau ikut bersamaku ke luar, di paviliun belakang ada paman dan bibiku. Mereka ingin bertemu dengan istriku, yaitu kamu! Dan jangan pernah membocorkan rahasia kita sekalipun pada Zoya. Kau mengerti."


"Tidak!"


Arlene tersenyum penuh kemenangan, hatinya merasa  lega karena ancamannya berhasil, kalau tidak, ah tidak tahu bagaimana nasibnya kini. Bahkan dia sendiri dalam bahaya, dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu.


"Ayo Arlene aku sudah mengatakannya padamu!"

__ADS_1


__ADS_2