Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab. 37


__ADS_3

Halo ... Hai...


Sebelumnya othor mau minta maaf atas kesalahan teknis di bab sebelumnya. Othor sampai panik dan langsung ganti tanpa revisi dan akhirnya tertypo typo. Tapi sekarang sudah kembali bagus dan mulus walaupun gak semulus jalan tol. Hihihi


sekali lagi maaf banget, buat kalian yang belum baca, boleh kembali dari bab sebelumnya yaa. Nuhuuuun....


.


.


"Dean? Dean Mdcdermot! Benarkah itu kau?"


Dean menoleh ke arah suara yang memanggil namanya dari belakang dan tersentak saat melihat siapa yang memanggil namanya.


"Astaga ini benar kau? Kapan kau pulang kemari. Kenapa tidak mengabariku kalau kau kembali."


"Robin?"


"Of course! Ini aku, kau baik?"


"Ya aku baik. kau sendiri?"


Keduanya berjabat tangan satu sama lain,


"Ya beginilah nasib pria yang melajang!"


Pria yang tingginya hampir sama dengan Dean itu menoleh kepada Arlene yang menggendong Alleyah.


"Ini istrimu?"


Dean menoleh dengan cepat. "Ah ... Maaf Robin, aku masih ada urusan lain, aku harus pergi, aku tidak bisa mengobrol lama lama denganmu!"


Dengan cepat pula Robin menahan tangannya. "Hey ... Kenapa buru buru!"


"Dean ... Aku duluan!" gumam Arlene yang membuat Dean sedikit lega. Membiarkannya masuk kedalam mobil lebih dulu adalah jalan terbaik.


Bukan tanpa alasan Arlene pergi lebih dulu, Dean terlihat tidak nyaman dengan kehadirannya, terlebih bertemu dengan temannya. Dan Arlene cukup tahu diri dengan lebih dulu masuk ke arah mobil begitu juga dengan maid yang membawa roda milik Alleyah yang juga menyusulnya masuk.

__ADS_1


"Dean, itu benar-benar istrimu. Bagaimana dengan Alexa ... bukankah kalian berencana menikah?" tanya Robin.


"Dia bukan istriku Robin! Dia hanyalah saudara jauh ku yang sedang berlibur."


"Benarkah. Cantik sekali, apa dia wanita single. Sepertinya aku tertarik padanya." Ujar Robin dengan terus menatap kearah Arlene yang sudah berada di dalam mobil.


"Hentikan kau ini ada-ada saja, bukannya kau sudah memiliki tunangan Robin?"


"Ah aku lupa ... aku dan tunanganku baru saja putus dan saat ini aku sedang mencari penggantinya, sepertinya saudara mu cocok untukku!" Robin menaik turunkan kedua alisnya.


Dean berdecak dengan memukul dadanya pelan. "Sudahlah aku pergi saja!"


Dean pun melangkah masuk ke dalam mobil, kali ini dia menyetir sendiri mobilnya. Begitu juga Robin yang berdiri dengan mengangguk kan kepalanya sedikit ke arah Arlene saat wanita itu menatapnya sekilas. Lalu masuk ke dalam ballroom setelah memastikan mobil yang Dean melaju meninggalkan hotel.


Kasak kusuk terdengar pada saat Robin masuk ke dalam, beberapa orang terlihat masih berkumpul dab mengelilingi dua wanita yang terlihat berantakan.


"Ada apa diluar?" tanya nya saat masuk ke dalam ruangan managemen hotel. "Di luar ribut sekali!"


"Ya tuhan bos ... Baru saja terjadi keributan di sini."


"Keributan? Keributan apa?"


Robin mengernyitkan dahi. "Dean. Dean Mcdemott."


"Betul Bos!"


"Maksudmu Dean berulah di sini?"


"Bukan Bos ... bukan dia, tapi istrinya yang mendaoat masalah dengan teman temannya. Ku dengar mereka---"


"Tunggu ....! Istrinya?"


Manager hotel itu mengangguk, yang dia maksudkan adalah Arlene.


"Pesta yang di reservasi 2 hari yang lalu itu atas nama Arlene ... dalam keterangan kita di ini pesta ini dibuat olehnya, tapi menurut kabar yang aku terima teman-teman yang telah mengerjainya. Aku pikir mereka ada masalah yang entahlah. Dan istrinya ternyata adalah istri dari putra tengah keluarga Mcdermott." terangnya dengan panjang lebar.


"Benarkah. jadi dia itu istrinya Dean, tapi dia baru saja mengatakan jika dia adalah sepupunya."

__ADS_1


Manager hotel hanya mengerikan bahunya saja.


"Itu menurut info yang aku dapat."


Manager hotel pun menceritakan apapun yang dia tahu mengenai hal ini, juga orang-orang yang masih ribut diluar yang masih terdengar.


Sesekali Robin terlihat menyembulkan kepala hanya untuk melihatnya namun tidak memiliki niat untuk menghampiri mereka semua untuk menghentikan keributan di hotel miliknya.


Ada sesuatu di antara Dean dan wanita itu, keterangan menurut Dean dan Manager jelas berbeda. Sebenarnya siapa dia. Sebenarnya ini bukan urusanku tapi semakin aku ingin tahu, wanita itu sangat menarik dan aku tertarik. Dean, ternyata kau diam-diam barulah juga. Batin Robin yang langsung masuk ke dalam ruangannya.


Sementara itu hanya suara Alleyah saja yang terdengar di dalam mobil kini. Dean terdiam dengan kedua tangan melingkari stir kemudi, begitu juga Arlene yang duduk di sampingnya.


"Dean. Apakah tidak apa-apa temanmu tadi? Temanmu baru saja melihatku. Apakah dia bertanya macam-macam?" tanya Arlene dengan wajah khawatir, padahal dia juga tidak tahu alasan Dean tidak ingin mereka tahu.


"Tidak usah khawatir itu akan jadi urusanku!"


"Baiklah kalau begitu!"


Dean mengangguk. "Lain kali periksa lah kemana kamu pergi, apa itu hotel, mall atau apapun itu. Aku tidak ingin kejadian ini terulang kembali." cicit nya dengan mencengkeram ke kemudi mobil dengan kuat. "Bagaimanapun juga hotel itu milik Robin, aku mengenalnya. Dan kedepannya pasti terjadi sesuatu!"


Dean bukan hanya takut jika Robin tahu hal yang sebenarnya, terlebih dengan ucapannya yang mengatakan tertarik pada Arlene. Entah kenapa Dean tidak suka saat robin mengatakan hal itu.


"Aku mengerti, setelah ini sepertinya aku tidak akan keluar dari mansion, dan menyebabkan masalah. Terima kasih karena kamu datang tepat waktu dan aku bisa memberi pelajaran kepada mereka yang telah meremehkan ku." ungkap Arlene.


"Lagi pula kau ini ada-ada saja, bagaimana kau bisa berteman dengan mereka!"


"Mereka hanya teman satu kampus ku dulu, aku tidak terlalu dekat dengan mereka. Tapi, entahlah ketika aku berbelanja dengan Zoya tempo hari, aku bertemu mereka lagi dan mengiyakan saat mereka ingin mengajakku berpesta dan ternyata mereka hanya menjebakku!" keluh Arlene yang kesal jika ingat hal itu.


"Untung aku datang tepat waktu!"


"Kau benar ... maaf. Nanti akan mengganti uangmu!" Dean menggelengkan kepalanya. "Sudahlah tidak perlu hiraukan itu lagipula uangmu tidak akan cukup untuk mengganti uang yang aku keluarkan tadi itu! Anggap saja itu bayaranmu karena kerjamu bagus dan aktingmu juga bagus. Tapi yang---"


Tiba tiba Dean terdiam, begitu juga Arlene yang terdiam dengan menggigit bibir dalamnya.


Biaya pesta mewah itu tidaklah sedikit, tentu saja uangku tidak mungkin cukup membayarnya. Aku akan menghabiskan waktu seumur hidupku hanya untuk mencicil uang itu. Aaah ... Kau bodoh sekali Arlene. Batinnya merutuk.


Dean baru sadar, mereka sedang tidak berdua saja, ada maid yang mendengarkan pembicaraan mereka dibelakang. Walau dia hanya diam saja, tapi Dean ykin dia mendengar semuanya, tapi jelas Arlene tidak sadar hal itu.

__ADS_1


"Maksudku apa aku boleh mencicilnya saja! Aku juga akan mencari pekerjaan setelah kontrak ini selesai?"


__ADS_2