Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.67


__ADS_3

"Benar begitu? Kau fikir tidak akan cocok jika dress itu dipakai orang lain?"


Dean mengangguk, mengelus pipi Alexa dengan lembut. "Tentu saja ...!"


"Kalau begitu lakukan sesuatu ... kau bisa kan melakukan sesuatu agar dress itu aku yang miliki? Suruh mereka memberikannya padaku dibandingkan orang lain. Hm?" ucap Alexa yang menajamkan tatapannnya pada kekasihnya itu.


Dean terperangah, jelas dia bisa saja melakukannya dengan mudah, tapi tidaklah etis jika dia melakukan hal seperti itu hanya karena Dress yang sudah jadi milik orang lain.


"Bukankah kau bilang kau mencintaiku kan? Kau bilang aka melakukan semua yang aku inginkan bukan? Aku ingin dress itu ... Dengan cara apapun Dean!" tukasnya lagi, kali ini dia melingkarkan tangan pada lengan kekasihnya itu, "Dan buktikan jika semua ucapannmu bukanlah isapan jempol belaka."


Dean menatapnya datar, dia tidak mungkin membuat ALexa kecewa dan marah padanya, tapi melakukan hal seperti itu. Jelas dia juga tidak bisa melakukannya dengan mudah.


"Dean? Tunggu apalagi, aku tahu kau bisa melakukannya, sekalipun dress itu milik orang lain, atau perdana menteri sekalipun bukan? Kau bisa melakukannya kan. Karena kau mencintai aku kan ... Iya kan ... Hm?"


Dean masih enggan menjawabnya, baginya sikap Alexa sangat keterlaluan, egois dan tidak perduli orang lain dan hanya memikirkan diri sendiri.


Melihat Dean yang hanya diam saja, Alexa memicingkan kedua mata ke arahnya. "Kalau kau tidak bisa melakukannya, untuk apa aku ikut bersamamu pada Pesta itu, aku juga akan kembali hari ini ke luar negeri dan aku akan memikirkan soal hubungan kita ini!" ancamnya.


Tenteu saja Dean terperangah mendengarnya, hanya demi Dress, Alexa mampu melakukan hal itu, bahkan memikirkan hubungan mereka berdua.


"Apa maksud perkataanmu?"


"Ya ... Kau saja tidak mau melakukan apa yang aku inginkan, bagaimana dengan nanti jika kita menikah, aku berfikir kita lebih balik menun____"


"Oke Alexa ... Aku akan melakukannya, kau tunggu di sini!"


Dean melangkah dengan cepat ke arah kasir dan meminta mereka memanggil seseorang yang berwenang di sana.


"Panggilkan manager kalian, aku ingin bicara,"


Alexa tentu saja senang, dia mengulas senyuman saat seseorang menghampiri Dean dan mengaku sebagai manager di sana.


"Aku akan bayar berapapun agar kau melepas dress itu untuk calon istriku!" ujarnya tanpa basa basi lagi.


"Maaf tuan, tapi dess itu..."

__ADS_1


"Berapapun. Katakan pada yang memilikinya, aku akan mengganti dua kali lipat atau berapapun yang dia inginkan untuk menukarnya." tegas Dean, dia tidak main main, terlebih dia tidak ingin kehilangan Alexa hanya karena masalah kecil seperti ini.


"Maaf tuan, tapi aku tidak mungkin melakukannya,"


"Berikan nomor kontaknya, biar aku yang bicara. Cepatlah."


Disaat uang sudah bicara, semua dapat dikendalikan dengan mudah, walaupun harus menurunkan harga dirinya dan integritas tempatnya bekerja."Baiklah ... Tunggu sebentar!" ujar Manager yang pada akhirnya tidak mampu menolak kuasa dari Dean.


Alexa tentu saja senang, dia langsung memeluk Dean dengan erat.


"Terima kasih sayang, aku tahu kau bisa melakukannya."


"Asalkan kau senang sayang." ujar Dean dengan mengelus pipi Alexa.


"Ya ... Aku senang sekali sayang, aku bahagia dan aku tahu kau sayang padaku kan?" desisnya dengan berjinjit dan menarik tengkuk Dean.


Manager berdehem kecil, membuat Alexa yang ingin ******* bibir Dean tidak jadi melukannya, dia leboh tertarik pada no kontak yang akan diberikan manager toko.


"Ini nomor kontak yang dapat anda hubungi tuan Dean. Tapi aku berharap anda tidak melakukannya karena kami takut beliau akan marah pada kami."


"Kau tenang saja!" ujarnya dengan langsung menyambar secarik kertas yang diberikan manager lalu berbalik arah. "Kau tunggu disini sayang," ujarnya beralih pada alexa.


Gadis berambut panjang itu mengangguk, yang penting dress bisa selera dia miliki tidak peduli caranya bagaimana.


Dean melangkah ke arah sofa, dengan jarak yang tidaklah terlalu jauh, dan dia juga langsung menghubungi nomor yang diberikan manager. Bunyi dering dari ujung telepon sudah terdengar, namun tidak pula diangkatnya. Sampai beberapa kali dia menghubunginya namun tidak juga diangkatnya. Dean sudah resah, menoleh pada Alexa yang terlihat bahagia.


Dia tidak boleh gagal, tidak boleh membiarkan Alexa kecewa dan tidak boleh membuat hubungan mereka berakhir begitu saja.


Pria itu lantas berdecak, saat sambungan telepon kembali terputus secara otomatis. Dia lantas menghubungi seseorang yang bisa melakukannya.


"Rayi .. Kau tolong urus ini, aku tidak mau tahu bagaimana caranya kau hubungi nomor ini dan minta dia jual kembali dress yang di inginkan Alexa. Belilah berapapun harga yang dia nya." ujarnya yang langsung menutup panggilan telepon tanpa menunggu jawaban dari Rayi.


Setelahnya dia kembali melangkahkan kakinya ke arah Alexa, dan merengkuh pundaknya.


"Bagaimana ... Mana Dress nya?"

__ADS_1


"Dress itu akan menjadi milikmu, ayo pergi dan mereka akan mengantarkannya untukmu." tukas Dean.


"Benarkah?"


Tentu saja sayang, ayo kita kembali saja oke?" ujar Dean yang terus melangkah membawa Alexa keluar dari toko tersebut.


"Kita tidak menunggu saja di sini?"


"Tidak ... Beri mereka sedikit waktu, hm?"


Akhirnya Alexa pun mengangguk, dia mengikuti langkah Dean dengan terus tersenyum karena tahu Dean mampu melakujan apapun untuknya, berpaa besar cinta Dean untuknya dan bagaimana Dean tidak berkutik padanya.


"Baiklah sayang ... Aku akan menunggu dengan sabar!"


Sementara dilain tempat, Rayi tengah berdecak mendengar permintaan Dean. Menyuruh seseorang untuk menjual barang limited edision yang baru saja dia beli.


"Ada ada saja ... Bagaimana bisa seseorang memiliki hasraat ingin memiliki barang orang lain. Dan kau Dean sangat bodoh!" ujar Rayi dengan melihat nomor kontak yang diberikan Dean melalui pesan singkatnya.


Dan setelah melalui serangkaian siasat akhirnya Rayi bisa mendapatkan dress yang di inginkan oleh Alexa.


Dan dress itu kini di kirimkan langsung pada Dean.


Ting


Bunyi notifikasi pada layar pipih milik Dean pun membuatnya tersenyum, tidak salah karena Rayi mampu dia andalkan dalam segela hal. Dan Alexa yang berada di sampingnya pun ikut tersenyum.


"Kita pergi sekarang?"


Alexa mengangguk, "Aku akan siap siap tampil cantik malam ini dan lebih pantas berada di sampingmu sayang, terima kasih." ujar gadis tinggi semampai dengan menyandarkan kepala pada bahu Dean.


Butuh waktu satu jam untuk mereka bersiap siap hingga akhirnya mereka tiba di ballroom yang di gunakan acara perusahaan milik rekanan bisnisnya. Ballroom hotel yang di sulap sedemikian rupa, bunga bunga serta balon balon tertata rapi dan terlibat mewah dengan ornamen warna yang senada.


Hampir semua orang datang secara bersamaan, begitu juga keduany yang masuk setelah melalui serangkaian pemeriksan.


"Sayang ..., aku cantik bukan dengan dress terbatas ini?"

__ADS_1


"Tentu ssja sayang, malam ini sepertinya hanya kau ssja yang berpenampilan paling cantik!"


__ADS_2