Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.52


__ADS_3

Sempat terdiam untuk berfikir, akhirnya bujukan Dean berhasil juga. Arlene mau mengikutinya lebih dulu agar aman dari gangguan Baron. Mereka pergi masuk ke dalam mobil dan langsung melaju pergi. Baron tentu saja melihatnya dari kejauhan, dia harus tahu Arlene sudah benar-benar menikah atau hanya pura pura menikah saja.


"Kau lihat Arlene bahkan suamimu itu mengikuti kita!"


"Sorry Dean, mantan suami!"


"Ya mantan suamimu maksudku. Bagaimana jadinya kalau tadi kau tidak ikut denganku?" tukas Dean yang mengambil Alleyah dari pangkuan ibunya.


"Ya ... Maafkan aku Dean, kali ini memang aku salah! Terima kasih."


Dean mengangguk, "Tidak masalah, asal kau dan Alleyah aman jadi kali ini kau harus ikut denganku!" Tukasnya lagi.


Terima kasih Baron, berkatmu Arlene akhirnya mau ikut denganku. Dan tidak lagi bersikeras menolak bantuan dariku. Batin Dean.


Dean menolehkan kepalanya ke arah belakang, mereka memang di ikuti oleh mobil hitam sejak tadi, dan diperkirakan dialah Baron.


"Dia masih mengikuti kita?" tanya Arlene.


"Ya ... Kita pergi ke apartemen yang telah aku siapkan untukmu, setelah Baron pergi terserah kamu tinggal ataupun kembali pergi." ujar Dean lagi.


Dan supir pun melajukan mobilnya mengarah ke apartemen yang dituju sejak pagi dan Baron masih mengikutinya dari belakang. Tak lama kemudian mobil pun berhenti tepat di depan apartemen, mereka tidak langsung keluar. Dean mencekal lengan Arlene dengan lembut.


"Untuk kali ini kau harus mengikuti arahanku, kita akan berakting layaknya pasangan suami istri,"


Arlene mengernyit, "Lalu?"


"Kita harus lebih mesra dari pada sebelumnya, terlihat bahagia satu sama lain. Agar Baron yakin kalau kau sudah bahagia."


"Oh ... Lalu?"


"Ayo latihan!" ajak Dean dengan menggeser tubuhnya menghadap ke arah Arlene.


"Tidak perlu drama lagi, toh Baron juga tidak akan peduli."


"Kau salah Arlene, Baron masih ada di belakang dan terus menunggu kita." Dean menunjuk kearah belakang, beruntung kaca film mobilnya berwarna gelap hingga tidak terlihat apa apa dari luar.


"Benarkah?"


"Kau lihat saja di belakang, ada mobil hitam itu. Dia itu Baron." terang Dean meyakinkan.

__ADS_1


Arlene menolehkan kepalanya ke arah belakang, dia memang melihat beberapa mobil berwarna hitam yang berada di belakangnya.


"Mobil yang mana. Perasaan bukan yang itu deh?"


"Kau lihat itu, yang di sebelah samping kiri?"


Allene mengangguk, dia pun fokus melihat ke arahnya dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Mobil hitam itu memang ikut berhenti saat mereka menghentikan mobilnya.


"Kita tidak bisa memastikan yang berada di dalam itu Baron atau bukan. Atau pun dia entah pindah mobil atau entah ke mana yang pasti dia pasti masih ada di sekitar kita." lagi lagi Dean meyakinkan Arlene agad mengikuti perkataannya.


"Kalau begitu. Apa yang harus kita lakukan?"


" Ya seperti kata aku tadi, kita harus berakting supaya lebih terlihat meyakinkan Baron kalau kita itu memang suami istri."


Arlene mendengus pelan, "Ya baiklah tapi kau jangan berlebihan, ingat, ini hanya akting dan aku masih marah padamu. Tentu saja kau bisa memanfaatkanku kapanpun kau mau."


" Ya seperti kau yang memanfaatkanku kan. Sekarang keadaan berbalik,"


Dean tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, "Ya tidak masalah, dan aku tidak apa-apa, justru aku senang bisa membalas jasa-jasamu yang telah lalu." Dean terkekeh.


Sementara Arlene hanya berdecih saja. Tak lama kemudian mereka keluar dan membukakan pintu untuk Arlene, Dean langsung mengambil Alleyah dari pangkuannya. "Sini sayang sama Papa, kita akan pulang."


"Jangan macam macam Arlene, kau ingin Baron melihat kita?"


Muah!


Dean mengecup sedikit pucuk kepala Arlene, "Jangan lakukan itu lagi, tenanglah ini demi keselamatanmu dan juga Alleyah. Baron masih ada di belakang, dia pastu akan tahu, tapi kalau tidak suka dan biarkan dia tahu kalau kita hanya berpura-pura. Baron akan terus datang dan mengganggumu apalagi dia berniat mengambil Alleyah."


Arlene ingin menoleh namun Dean mencegahnya dengan cepat. "Sudah jangan dilihat, nanti dia akan bertambah curiga, kita pura-pura tidak tahu saja kalau dia mengikuti kita." lagi lagi Dean memperdaya polosan sekaligus ketidak tahuan membuat Arlene hanya bisa diam saja saat Dean menciumnya dan merengkuhnya di depan umum.


"Dean, sepertinya ada yang salah. Kenapa kau harus berbuat seperti ini sampai ke dalam. Apa Baron juga akan mengikuti kita sampai dalam kamar?" tanya Arlene.


Dean berpura pura menengok ke arah belakang, "Aku memang tidak melihatnya, tapi aku yakin dia masih ada di belakang. Dia pasti sedang mengawasi kita dari satu tempat.


"Benarkah?"


"Ya ... aku masih melihat mobilnya, tapi dia sepertinya tersembunyi." ujar Dean yang masih terus merengkuh bahu Dean.


Keduanya masuk ke dalam lift, dan Arlene langsung menepiskan tangan Dean dengan kasar saat pintu lift tertutup.

__ADS_1


"Kau ini hanya mencari keuntungan saja kan!"


"Tidak untuk apa aku melakukannya. Kenapa aku harus mengambil keuntungan darimu."


"Dean aku tidak bodoh ya!"


"Astaga ... Kau hanya perlu Nikmati saja pelukanku toh ada manfaatnya dengan begitu Baron menyangka kita memang benar-benar suami istri. Kalau perlu kita berciuman di depannya,"


"Jangan gila kau!"


Ting


Pintu lift terbuka, mereka keluar dan terus berjalan melewati lorong menuju ke arah apartemen Dean. "Kau lihat, dia pasti saat ini sedang berada di dalam lift dan menuju ke sini."


"Iya terus? Kau ingin menciumku di depan pintu unitmu agar dia melihatnya langsung." ucap Arlene kesal.


Namun tidak dengan Dean, dia justru terkekeh mendengarnya. "Ide yang sangat bagus. Bagaimana kalau kita tunggu dia di sini!"


Arlene menendang kakinya dengan keras. "Ih ... Kau ini, jangan macam macam ya, aku masih marah padamu!"


Ting


Suara pintu lift terbuka, dengan cepat Dean mendorong tubuh Arlene dan menghimpitnya di tembok, tentu saja jarak keduanya terhalang oleh Alleyah yang masih berada dalam gendongannya.


"Dean ... Hmmmmppphh!"


Dean dengan cepat menyambar bibir Arlene, melumattnya dengan lembut, gerakan tiba tiba yang membuat Arlene tersentak kaget namun mampu membuat jantungnya bertalu talu dengan hebat.


Baron yang baru saja keluar dari lift dengan jelas melihat keduanya yang tengah bertukar saliva, Arlene bahkan mencengkram kemeja Dean, sekuat tenaga dia mengendalikan diri namun tubuh dan otaknya tidak bisa berjalan dengan sinkron.


Jelas terlihat dari ujung mata jika Baron masih berdiri dengan rahang kuat dan juga kesal melihatnya. Ditambah Alleyah yang bertepuk tangan melihat ibu dan sosok pria yang dia anggap ayahnya berciuman cukup lama.


"Yeeee .... Papaa ... paaa ... Maaa ...maaa yee!"


.


.


Upnya thor meuni lama syekali... Maafkan yaaa, Asli othor sedang mengriweh ini. Sabar sabar yaa

__ADS_1


__ADS_2