
"Pergilah sejauh mungkin, jangan pernah menemui Dean lagi, terlebih jangan pernah menyuruh Dean menyentuh putrimu itu!"
"Kau tenang saja Nyonya Miranda yang terhormat, itu hal yang paling tidak mungkin aku lakukan. Terlebih sudah tidak ada lagi kerja sama diantara kami apapun bentuknya, dari pada anda hanya bisa menyuruhku menjauh, kenapa tidak anda suruh Dean yang melakukannya, jangan sampai Dean menyesal."
Kata-kata yang meluncur begitu saja dari Arlene benar benar membuat Miranda menelan saliva, wanita paruh baya itu tahu bagaimana perasaan Dean, juga pandangannya terhadap sosok Arlene.
Tidak ada alasan Arlene tinggal lebih lama, lupakan tentang perasaannya pada Dean dan ucapan Dean padanya. Huh ... Hanya menambah beban di hidupku saja, lagi pula. Aku sudah berharap terlalu tinggi, batin Arlene.
Kedua tangan Miranda semakin erat memegangi tongkat miliknya, juga melihatnya dengan tatapan tajam saking kesalnya. Tapi tidak ada alasan bagi Miranda untuk membencinya. Dia hanya melihat sosok yang kuat dan pantang menyerah. Yang tidak membiarkan siapa pun menyakitinya terlebih selama ini tidak ada yang menerimanya dengan baik, terlepas dia hanya wanita yang dibayar untuk berpura pura saja.
Dean segera membawa Arlene menuju ke arah mobil, dan masuk kedalamnya. Namun Arlene sepertinya belum puas. Dia menoleh ke arah belakang dan menatap Miranda kembali.
Bertepatan dengan itu, satu mobil sport masuk kedalam halaman, dan hal yang tidak mereka duga sebelumnya.
Mobil berhenti tepat di depan mobil yang akan mengantarkan Arlene, dari dalam sana keluar Zoya yang baru saja pulang jogging.
"Kakak ipar. Mau kemana?" tanyanya dengan heran saat melihat koper dan tas miliknya.
"Zoya!" Arlene menatapnya nanar.
Hanya Zoya yang bersikap baik padanya selama ini, hanya Zoya pula lah yang mau berteman dan mengajaknya bicara.
"Kakak Ipar mau kemana? Kak ... Kak Dean mau bawa kakak ipar kemana?" tanyanya terus menerus.
"Maaf Zoya, aku memang harus pergi. Terima kasih karena kamu baik dan menerimaku." ujar Arlene yang sebenarnya juga sedih.
"Kau pulang dengan siapa?" tanya Sorra yang baru saja keluar untuk melihat drama perpisahan dari adik bungsunya yang terlihat sedih.
Sesosok pria keluar dari dalam mobil dan melambaikan tangan pada Sorra.
"Hah ... Robin? Jadi kau diantar Robin pulang?"
__ADS_1
Walau sedih Zoya tetap mengangguk, sementara Robin menghampiri semua orang yang tengah berkumpul.
Dean mendengus melihatnya, untuk apa Robin datang disaat yang tidak tepat, hanya akan membuatnya ketahuan dan dalam masalah besar. Mengingat Sorra dan Ibunya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya berfikir keputusan Dean meninggalkan Arlene demi Selena saja.
"Dean? How are you?" tanya Robin dengan menatap Arlene. "Kalian berniat pergi dari sini?" tanya lagi setelah melihat barang barang Alrene.
Dean tidak ingin memjawabnya, dia hanya diam dengan menatap ke arah Robin yang terus menatap Arlene.
"Bukan urusanmu!"
"Hey kenapa kau ini. Robin hanya bertanya saja, lagi pula dia tidak akan mencampuri urusanmu apalagi tentang dia." pungkas Sorra yang ikut menyambar pembicaraan mereka dan mendelik ke arah Arlene.
Dean kembali mendengus, lalu membuka pintu mobil dengan kasar. "Masuklah Arlene. "
Robin mengulas senyuman, ini semakin menarik. Hubungan Arlene dan Dean semakin mencurigakan menurutnya. Terlebih keterangan dari Sorra dan Zoya sangat berbeda, terlebih pengakuan Dean sendiri yang tidak ingin mengakui Arlene ssbagai Istrinya.
Kau tahu kak ... Kakak Ipar itu tidak mendapat restu dari semua keluarga, hanya aku saja yang tidak masalah dengan hal itu! Zoya.
Robin masih ingat betul ucapan kedua kakak beradik saat dia tanya pendapatnya tentang Arlene, hingga dia semakin tertarik untuk mengetahui apa yang terjadi sebenarnya pada hubungan Dean yang seperti dia ketahui memiliki pacar saat di luar negeri dan mengatakan pada semua orang akan menikahi pacarnya itu.
Melihat gelagat yang aneh dari Robin yang tiba tiba datang ke mansion membuat Dean waspada. Semua harus tetap berjalan pada rencananya, apalagi jangan samppai Alexa tahu soal ini. Bisa berbahaya, fikir Dean.
"Ayo Arlene ..." ujarnya lagi yang mengajak Arlene untuk pergi dengan cepat
Arlene menepis tangan Dean yag merengkuh bahunya dan dia melangkah masuk ke dalam mobil tanpa peduli siapapun lagi, dia juga mendekap Alleyah yang terus berteriak memanggil Dean.
"Aku pergi dulu!" ujarnya pada semua orang, hanya Zoya yang mengangguk lirih dan melambaikan tangan ke arah Arlene, sementara Sorra tampak biasa saja,
Namun Robin dengan cepat mencekal lengannya, "Aku tahu apa yang terjadi Dean, aku tahu hubunganmu dengan wanita yang kau sebut sepupumu itu bukanlah sembarang sepupu, apa dia istrimu yang tidak direstui Dean ... Wah aku tidak menyangka langkahmu ternyata sudah jauh, bahkan kau sudah memiliki putri yang sangat cantik, dan sementara kau berselingkuh di belakang istrimu dengan Alexa yang selalu kau banggakan itu?"
Dean terhenyak, "Jangan asal bicara Robin, kau tidak tahu apa apa dan berhenti mengurusi urusanku, urus saja urusanmu sendiri,"
__ADS_1
Dean menepiskan tangan Robin, setelahnya dia kembali melangkah kearah mobil dan masuk ke dalamnya.
"Kurang ajar dia! " dengusnya dengan menatap ke arahnya dengan tajam.
Sementara Robin melambaikan tangan kearahnya dan tersenyum sangat manis pada Arlene.
"Jangan hiraukan dia! Dasar tukang ikut campur!"
Arlene bahkan tidak peduli pada siapapun kecuali Zoya, setelah Dean berbicara seperti itu barulah dia menatap ke arah Robin.
"Memangnya kenapa dengannya! Kenapa aku harus mendengarkanmu bicara Dean?" ucap Arlene menohok.
"Dengar Arlene, kau tidak tahu kalau Robin sepertinya menyukaimu dan dia kemari karena ingin tahu lebih jauh hubungan kita!" Terang Dean.
Mobil pun kini melaju, Dean yang duduk di sebelahnya terua menatap ke arah Robin yang semakin menjauh.
"Memangnya kenapa kalau dia menyukaiku? Jika dia kemari dengan sengaja itu bagus, berarti dia memang sudah memiliki niat, setidaknya dia tahu bagaimana cara menarik perhatianku. Kenapa kau harus marah, siapapun boleh menyukaiku. Selagi aku tidak jadi milik seseorang kan?"
Lagi lagi ucapan Arlene menohoknya, dia sampai tidak bisa bicara apa apa lagi. Dan benar yang dikatakan Arlene karena dia bukan miliknya juga.
"Tapi Arlene ...!"
"Sudahlah Dean, sudah cukup. Kita sudah tidak ada hubungan dalam kontrak apapun kau ingat? Jadi tidak usah banyak bicara hal yang jadi pilihanmu. Kita profesional saja,"
Dean hanya menghela nafas saja.
Papapapa ... Papapa!
Suara Alleyah membuatnya menoleh lagi dan menatap wajah Alleyah yang menggemaskan. Namun Arlene dengan cepat memeluknya erat sampai Alleyah membenamkan wajah ke dadanya.
"Arlene tidak bisa kah biarkan Alleyah aku gendong sebentar?"
__ADS_1
"Tidak bisa! Jangan membuat mental Alleyah terganggu karena berfikir ayahnya tidak menginginkannya. Kau tahu itu Dean! Alleyah tidak tahu apa apa selain hanya akan berfikir kau lah ayahnya, lalu apa yang akan kau lakukan jika suatu hari nanti dia bertanya tentangmu?"