Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.33


__ADS_3

Suasana di meja makan pagi itu sangat hening, bahkan lebih Hening daripada biasanya. Semua orang terdiam, sibuk dengan garpu dan pisau ditangan mereka, entah apa yang difikiran semua orang saat ini.


Dean yang lebih pendiam dari sebelumnya dia tidak lagi menyela ucapan-ucapan yang tidak mengenakkan dari Sorra ataupun dari ibunya Debora, dia hanya diam dengan sesekali melirik ke arah Miranda yang terlihat lebih menakutkan daripada sebelumnya.


Arlene menatap satu persatu wajah orang-orang di mention itu menyeramkan dengan raut wajah yang tidak terlihat ramah, membandingkan dengan orang orang yang tinggal di desa dulu yang hidup dengan keramahan walaupun mereka serba pas-pasan dibandingkan hidup di mansion mewah dengan fasilitas yang lengkap namun tidak ada kebahagiaan di dalamnya.


Hanya Zoya yang terlihat ceria, sesekali dia menggoda Alleyah yang tengah duduk di kursi khusus, atau bertanya padanya tentang pendapatnya. Hingga sarapan berakhir dengan begitu saja dan berganti menjadi minum teh bersama namun juga tidak ada yang berubah, suasanaminum secangkir teh bersama-sama itu tidak seperti biasanya.


Seperti ada yang aneh dengan mereka Dean juga diam saja, biasanya dia banyak bicara dan mengundang emosi kakak dan ibunya, tapi kali ini tidak, sepertinya ada yang terjadi setelah Dean dan neneknya bicara tadi pagi pagi. Tapi apa yang mereka bicarakan sampai membuat satu keluarga ini seperti mayat hidup. Batin Arlene.


Acara minum teh pun berakhir dengan sangat datar semua orang masuk dan tenggelam pada aktivitasnya masing-masing. tidak ada lagi sindiran mauoun umpatan dari Sorra terhadapnya, begitu juga Ibunya yang naya melengos begitu saja saat mereka berpapasan.


Dean memang tengah mengambil cuti dari pekerjaannya beberapa hari ini, dia tidak juga pergi kemana mana. Dan Arlene masih berusaha mengajaknya agar mau pergi menemaninya.


"Dean. Ayolah antar aku sebentar saja."


"Sudah aku katakan tadi pagi Arlene, aku tidak bisa ... aku tidak mau dan aku tidak mau. Apakah kau tidak mengerti juga? Aku tidak mau karena pasti akan bertemu orang banyak. Mereka mungkin tidak akan mengenalimu, tapi mereka akan mengenali Arlene." ujarnya kesal.


"Kenapa kau sekesal ini?" cicit Arlene.


"Karena kau terus memaksa dan tidak paham juga Arlene." tukasnya lagi membuat Arlene terdiam. Maafkan aku Arlene, aku benar-benar tidak mengerti dengan semua yang terjadi dan apa yang akan terjadi ke depan jika aku terus bersamamu. Aku mungkin akan melupakan Alexa, wanita yang aku cinta dan aku sudah berjanji menikahinya. Batin Dean.


"Kalau begitu aku akan pergi sendiri saja!"


"Terserah kau saja ... aku tidak akan melarangmu. Tapi ingat jangan membuat masalah yang membuat semuanya tambah berantakan, oke." tangan Dean terulur mengelus rambutnya dengan lembut,


Kedua tatapan mata juga kembali beradu,


"Maafkan aku Arlene."


Arlene mengangguk kecewa, tidak tahu kenapa dia berharap Dean mau ikut. Tapi entahlah, mungkin Arlene terlalu berharap lebih.

__ADS_1


Wanita berusia 24 tahun itu kini bersiap-siap, memakai dress yang belum lama ini dia beli, tidak lupa memoles wajahnya secantik mungkin. Dia juga mempersiapkan Alleyah yang akan dia bawa.


Seorang maid tampak mengetuk pintu saat dia baru saja keluar dari kamar mandi.


"Tuan mobil sudah siap tuan Dean." serunya dari luar kamar.


"Ya baiklah!" Dean yang tengah terbaring di sofa pun bangkit.


"Dean ... Kau akan pergi?"


"Mobil itu untukmu, kau juga akan ditemani seorang maid yang akan membantumu mengurusi Alleyah,"


Arlene membalikka tubuhnya, "Kau tidak perlu melakukan hal itu, aku bisa sendiri."


"Apa kau akan pergi naik taksi dan repot mengurus Alleyah disaat teman temanmu mengobrol? Itu jelas tidak mungkin terjadi kalau mengaku orang kaya pada mereka. Terima saja ya." Dean kembali duduk, menemani Alleyah yang terduduk di kursi khusus balita.


Arlene tidak dapat lagi bicara, dia hanya menatap Dean yang aneh, sifatnya benar benar berubah seenaknya sendiri.


"Ya baiklah Dean aku mengerti, aku tidak akan pernah menyebutkan kalau aku berpura-pura menjadi istrimu dan tinggal di mension mewah ini tapi menyeramkan ini!" sahut Arlene kesal, mengambil Alleyah dan keluar dari kamar.


Dia menuruni tangga bersama Alleyah yang terus tertawa, mungkin anak balita itu juga merasa senang keluar dari Mansion yang sangat menyeramkan itu. Sebuah mobil mewah berwarna hitam sudah menunggu di depan pintu, beserta wanita paruh baya yang tersenyum ke arahnya.


"Nyonya Arlene sudah siap pergi." ujar maid pada supir yang sudah berada di balik kemudi.


Arlene terperangah melihat mobil mewah yang disiapkan oleh Dean beserta sopir yang akan mengantarkannya kemanapun dia pergi, uang juga sudah masuk ke dalam rekeningnya. Untuk hal itu dia bisa puas dengan semua fasilitas yang dia dapatkan dari Dean.


Sampai akhirnya keduanya masuk ke dalam mobil dan menuju tempat yang dijanjikan oleh Imelda dan juga Sandra.


Sebuah hotel berbintang 5 yang sangat mewah, lagi lagi Arlene terperangah, sekian tahun tinggal di Australia tapi tidak tahu dengan tempat tempat mewah semacam ini.


Suasana dari luar sudah cukup ramai, orang orang berpakaian formal dan penampilan terbaik sudah terlihat kala itu, hal yang Arlene tidak tahu jika semua teman-teman satu almamaternya ketika kuliah berada di sana sekarang.

__ADS_1


Semua orang berdecak kagum ketika melihat Arlene keluar dari mobil dengan dress pendek berwarna merah marun membalut tubuhnya yang tinggi semampai, di sampingnya maid yang sengaja disuruh Dean untuk menjaga Alleyah mendorong kereta bayi dimana Alleyah tertidur.


Kedatangan Arlene membuat Imelda dan Sandra mengulum senyumana penuh kemenangan. Mereka berdua mennghampiri dan menyambutnya dengan hangat.


Lagi-lagi Arlene harus terperanagah dengan mewahnya pesta orang-orang kaya, bukan hanya makanan khas Autralia saja yang berjejer rapi, minuman beraneka ragam warna yang hanya didapati di hotel-hotel berbintang 5 atau rumah orang-orang kaya.


Astaga pesta ini mewah sekali


"Hai Arlene, kau sudah datang rupanya." Sapa Imelda hangat. dengan kedua mata yang melirik ke kiri dan ke kanan.


"Kemana suamimu. Kau bilang kau akan mengajaknya?" tambah Sandra.


"Ah iya ... Maaf suamiku sibuk, dia harus pergi bekerja. Ini kan bukan hari libur." jawabnya berbohong, tentu saja Dean tidak pergi bakhan dia saja sedang cuti.


"Ah kau bisa saja ... kau pasti mengada ngada. Kalau suamimu orang kaya dan pemilik perusaahaan dia pasti datang ke mari. Iya kan Sandra?"


Sandra mengangguk, "Apa ini anakmu?"


"Yaa tentu saja!" Arlene tidak pedululi dengan apa yang dikatakan kedua temannya yang mengundangnya datang itu.


"Tapi dia tidak mirip denganmu. Apa dia mirip dengan ayahnya?" tanya Sandra lagi.


"Ya begitulah. Aku pikir banyak orang yang bicara seperti itu. Dia sangat mirip dengan ayahnya."


Sandra dan Imelda mengangguk-anggukkan kepalanya "Kalau begitu ayo bergabung dengan yang lain, semua orang menantikanmu dari tadi Arlene."


"Benarkah?" Arlene mengikuti langkah dkeduanya ke arah kerumunan orang orang yang tertawa.


"Ya tentu saja, mereka senang karena kau mengadakan pesta ini." Imelda terkekeh. "Ini kejutan untukmu, aku membuat pesta ini atas namamu. Kau pasti senang mendengarnya." tambahnya lagi.


Sontak Arlene kaget dan mendengar keduanya bicara "Apa kalian gila? Atas namaku?"

__ADS_1


__ADS_2