Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.80


__ADS_3

"Sebenarnya apa yang kau inginkan Dean?"


Suhu tubuh Dean yang tinggi membuatnya menggigil, dia juga berkeringat hebat.


Arlene membuka kancing kemejanya serta melepaskan sepatunya, menelentangkan tubuhnya dengan kedua kaki yang sedikit di tekuk karena tidak muat berada di atas sofa.


Arlene mengambil air hangat dan mulai mengkompresnya, melakukan hal yang sama layaknya Alleyah ketika demam.


"Kau ini kenapa Dean?" lirihnya saat menempelkan alat kompres pada dahinya.


Semalaman Arlene terjaga bahkan tidak dapat tidur karena terus mengompres Dean dengan demam yang semakin tinggi. Beruntung Alleyah tidak rewel malam itu, hingga Arlene bisa fokus pada pria yang tiba tiba datang dalam keadaan mabuk. Entah apa yang di fikirkan pria itu hingga datang ke rumah Arlene.


Dean menerjapkan kedua matanya tepat saat Arlene menguap, lalu melirik jam yang menempel di dinding.


Pria berlesung pipi itu meraih tangannya dan membuat Arlene tersentak kaget.


"Apa yang ku lakukan." cicitnya dengan berusaha melepaskan gengaman tangannya.


"Diamlah sebentar, hanya sebentar Arlene." gumam Dean yang meletakkan tangan yang dia genggam di atas dadanya, hingga detak jantungnya terasa langsung oleh Arlene.


"Kau tahu kenapa hati ku berdebar debar seperti ini Arlene?" ujarnya lagi dengan kedua mata terpejam. "Apa kau merasakannya?"


"Mungkin karena obat yang kau minum itu sangat keras, kau kan sedang pengaruh minuman, mungkin itu alasannya, jadi jangan mengada ngada yang bukan bukan." tegas Arlene yang kembali berusaha melepaskan tangannya sendiri.


Namun Dean mengenggamnyaa dengan kuat, hingga akhinya Arlene pun melemah, dia tidak lagi berusaha melepaskan genggaman tangannya setelah beradu pandang dengan Dean.


"Aku rasa kau juga merasakan hal yang sama denganku bukan, tapi aku selalu berusaha menghindar bahkan mengecewakanmu Arlene. Aku tahu aku salah, aku berusaha menekan perasaanku padamu karena aku fikir yang aku cintai adalah Alexa."


"Sudahlah Dean, kita tidak perlu membahas masalah ini lagi, aku tidak memilki perasaan apa apa padamu, aku juga tidak menyimpan harapan besar kepadamu karena aku tahu diri." terang Arlene seraya menarik tangannya dengan perlahan.


Dean melepaskannya dengan wajah kecewa dan tidak bisa digambarkan lagi tentang bagaimana hatinya saat ini. Tapi tatapan Dean tidak lepas padanya, sangat dalam dan juga teduh, seolah mencari kebenaran yang tersembunyi dalam mata. Seperti pepatah yang mengatakan jika mata tidak pernah bisa berbohong.


"Aku tidak tahu apa yang aku lakukan saat ini Arlene, tapi aku tersiksa dengan perasaan ku sendiri. Bisakah kau membantuku untuk memantapkan hatiku sendiri?" lirihny lagi.

__ADS_1


Arlene menatapnya dengan nanar, lalu dia menghela nafas yang terasa sesak.


"Dengar Dean. jarak di antara kita terlalu jauh, benteng pemisah kita terlalu tinggi dan badai akan semakin besar jika kita bersama. Asal kau tahu seberapa lama aku menunggu kau bicara Dean, aku ingin tahu apa yang aku rasakan ini bukanlah sesuatu yang semu, tapi lagi lagi kau hanya datang dengan membawa harapan palsu, kau tidak bisa konsisten atas keputusanmu sendiri. Sampai saat ini kau tidak berubah Dean. Kau sangat membingungkan."


"Aku minta maaf ... Aku terlalu pengecut untuk mengakuinya, aku ...!"


"Karena kau tidak mengenal dirimu sediri Dean, dan aku sudah tidak mau lagi terlibat denagn perasaan yang kau saja tidak tahu apa itu."


Arlene bangkit dan membaikkan tubuhnya namun Dean mencekal tangannya hingga langkahnya terhenti.


"Beri aku kesempatan Arlene, beri aku waktu untuk menyelesaikan semuanya dan aku akan datang padau."


"Maaf Dean, aku tidak bisa."


"Kenapa? Bukankah kau merasakan hal yang sama dengan ku, bukankah kau masih berdebar debar saat bersamaku Arlene. Jangan bohong karena aku tahu."


"Aku tetap tidak bisa Dean .. Pergilah, sepertinya demammu sudah turun sekarang" ujarnya dengan melangkahkan kaki.


"Arlene ... Aku mencintaimu!"


Dean bangkit dari sofa, berjalan ke arahnya dan memeluknya dari belakang, kedua tangannya melingkari bahu Arlene dan dia menelengkupkan kepalanya pada bahunya.


"Kau dengar aku kan? Aku mencintaimu Arlene ... Dan aku akan melepaskan Alexa, aku tidak akan lagi berubah fikiran dengan semua keputuasmu. Aku ....!"


"Dean?" lirihnya pelan. Ingin sekali dia berbalik dan membalas pelukan hangat Dean, mengatakan hal yang sama dengannya kalau dia juga mencintainya dengan tulus, tapi semua terlambat, karena Arlene sudah menerima Robin.


"Maaf Dean, aku tidak bisa."ujarnya dengan melepaskan kedua tangan Dean lalu melangkah masuk ke dalam kamar.


Dean menatap pintu kamar yang berwarna coklat mahoni yang kini tertutup. Entah bagaimana kini rasanya. Dada yang terasa lega namun rasa kecewa kian membahana juga menyertainya.


"Kenapa Arlene! Apa karena Robin?" lirihnya lagi tanpa ingin beranjak dari tempatnya berdiri.


Sementara Arlene berdiri di belakang pintu dengan menahan tangis, kedua tangannya membekap mulutnya sendiri. Rasanya begitu sakit mendengar kenyataan nya yang pada akhirnya takdir tidak juga memihak pada mereka.

__ADS_1


"Sejak dulu aku hanya berpura pura menjadi istrimu Dean. Sampai hari ini, tidak akan pernah bisa benar benar menjadi istrimu." lirihnya tanpa suara.


Dean menghempaskan tubuhnya lagi di sofa. Apa yang dilakuannya saat ini belum seberapa dibandingkan kekecewaan Arlene atasndirinya selama ini. Berkali kali menyuruhnya percaya dan yakin namun juga berkali kali dia mengecewakan.


"Arlene ... Aku tidak akan berhenti, aku sudah memutuskan dan tidak akan pernah berubah lagi. Aku akan memperjuangkan cintaku ini. Aku tidak peduli jika seluruh keluargaku tidak menerimamu. Aku juga tidak peduli pada semua yang menghalangiku Arlene." gumamnya lagi.


Jelas Arlene mendengarnya, dia menggelengkan kepalanya namun tidak berani juga untuk keluar dari kamar, rasanya begitu menyakitkan tapi semua sudah terlambat.


Sampai langit gelap kini mulai terang, dan denting jam terus berputar. Dean tidak sedikitpun berajak dari tempatnya. Dia tetap duduk di sofa selama berjam jaam. Entah apa yang dia tunggu namun dia tidak ingin sedikitpun pergi.


Sampai pintu kamar terbuka dan Alleyah yang berjalan keluar dengan wajah bantalnya. Gadis kecil itu berjalan dengan tatapan heran pada Dean yang kini menoleh, menatapnya lalu tersenyum.


"Pagi sayang. How are you today?" ujarnya dengan wajah yang pucat.


"Are you sick?" tanya Alleyah dengan mengosok matanya yang masih terasa lengket, dengan rambut ikal berwarna pirang yang juga masih berantakan namun terlihat menggemaskan.


"No ... I'm oke!"


Alleyah mengangguk lirih. "Apa kau mau susu? Susu bagus untuk kesehatan tulang dan gigi. Kau mau? Itu juga bisa membuat tubuh tinggi ke atas."


"Kau bisa membuat susu sendiri?"


"Yaa .. Tentu saja tiga sendok susu dengan segelas air. Jangan panas ya. Cukup hangat saja. Putar putar sebanyak 30 kali." celotehnya dengan menggerakkan tangan berputar putar. "Kita bisa langsung meminumnya. Do you try?"


"Yes please?" ujar Dean dengan tersenyum. Alleyah yang kini berusia tiga tahun itu sudah pandai bercerita, dan menggemaskan.


Gadis itu mengangguk, berlari masuk ke dalam dapur, dia naik ke atas kursi meja makan untuk mengambil gelas miliknya yang berbentuk binatang.


"This is lion!" ujarnya dengan nunjukan botol susu miliknya pada Dean yang masih betah duduk. Sampai pria itu bangkit dan menghampirinya.


"Nice lion Alleyah." gumam Dean yang kini berdiri sejajar dengan kursi di sampingnya.


Alleyah menoleh ke arahnya , dengan menatap lekat Dean seolah dia tengah mengingat ngingat memory di otaknya.

__ADS_1


"Are you my daddy?"


__ADS_2