
Tinggi semampai dengan rambut panjang yang tergerai indah dengan bagian bawah sedikit Curly, dan hiasan jepitan rambut dari merek ternama tersemat di sisi kanan menambah daya tarik Alexa malam itu, disampingnya berdiri dengan gagah dan tampan dalam balut taksido kumplit.
Keduanya tampak serasi, berjalan masuk dengan tangan Alexa yang melingkari lengan Dean, di belakangnya ikut beberapa orang yang terus menatap keduanya. Orang orang juga sudah tampak hadir dan di undang dalam acara satu perusahaan yang cukup ternama.
Dean yang awalnya malas pergi mendadak antusias, dan dengan Dress yang kini membalut tubuh indah Alexa menambah kepercayaan dirinya, siapa yang tidak kenal Dean Mcdermott, kaya, pintar berbisnis, terkenal sangat setia dan tidak pernah main main seperti kebanyakan pria sukses lainnya, terlebih pria itu berdarah biru alias berasal dari keluarga konglomerat.
Mendiang ayahnya seseorang anggota parlemen yang berperan penting di dalam negeri, sang nenek apalagi, dia banyak mendanai kegiatan kegiatan sosial di negera itu.
"Sayang, kau gugup?" tanya Alexa yang terus tersenyum sepanjang melangkahkan kaki.
Dan deretan manusia manusia gila hormat yang terus menatap mereka berdua dengan kagum.
"Dean? Kau akhirnya datang juga?"
Dean menoleh ke arah suara, dan tersenyum kecut melihatnya."Ku fikir kau tidak akan hadir di sini! Aku sangat tersanjung saat tahu kau akan hadir di pesta perusahaanku."
"Tentu saja aku hadir Robin, kau sahabatku dan aku sudah pasti menyempatkan diri."
Robin terkekeh kecil. "Aku yakin ada yang lain. Apa karena wanita cantik disampingmu ini?" ujar Robin yang beraalih menatap Alexa, meraih tangannya lalu menciumnya lembut. "Apakabar Alexa?"
"Ah ... Robin , kau ini selalu saja membuatku salah tingkah, tapi terima kasih atas pujianmu ya. Kabar? Tentu saja aku baik, kau lihat sendiri bukan? Aku baik dan aku bahagia, dan aku kira pesta ini bukan milikmu."
Keduanya tertawa renyah, namun tidak dengan Dean. Pria itu hanya menatap Robin dengan seksama. Seolah olah berjaga jaga apa yang akan dia ucapkan.
"Sebenarnya pesta ini tidak akan tercapai jika bukan dari bantuan semua pihak, kau tahu kan, pertumbuhan bisnis di kota ini memang sulit, tapi untunglah aku bisa bertahan sampai sejauh ini, dan inilah hasil dari usahaku. Ku dengar juga perusahan yang kini di kelola olehmu juga tengah mulai ada kenaikan sekarang bukan Dean?" Robin kembali beralih menatap Dean yang hanya bisa tersenyum tipis. "Kau masih saja kaku seperti itu, tenanglah sedikit, bukankah kita harusnya bersenang senang di sini?" ujarnya lagi.
"Kau benar Robin, Dean juga sudah menyiapkan hadiah untukmu, benarkan sayang, selamat ya atas kesuksesanmu." timpal ALexa yang sedikit gemas karena Dean lebih banyak diam.
Dean memang tidak pandai melihat peluang, tapi aku melihatnya ... Semua orang disini memiliki peluang besar untukku. Batin Alexa.
"Wah terima kasih sekali, kenapa kau harus repot repot Dean?"
"Bukan masalah besar Robin, seperti apa yang dikatakan Kekasihku , bukankah kita teman?"
__ADS_1
Robin mengangkat ujung bibirnya sedikit ke atas, kata kekasih yang terucap dari mulut Dean membuatnya sedukit geli
"Sayang, aku harus ke toilet." ujar ALexa yang langsung melangkah begitu Dean mengangguk.
Robin tertawa kecil, "Kau pandai berakting Dean, kau cukup banyak diam disaat kau bersama Alexa, dan bagaimana kabar istrimu. Aku dengar kau kehilangannya karena kau di campakkan? Atau sebaliknya, kau mencampakkannya saat ini?"
"Tutup mulutmu Robin! Kau tidak tahu apa apa!"
"Benarkah? Kau benar aku memang tidak tahu apa apa Tapi Kenapa aku juga harus menutup mulutku Dean? Kau tidak punya hak membuatku diam." ujar Robin menohok.
Dean tentu saja tersulut emosi, dia menatap Robin dengan tajam.
"Persetan denganmu!" Ujar Dean dengan emosi
Ucapan Robin mengingatkannya pada Arlene, gadis itu belum dapat dia temukan itu sampai saat ini. Baginya Robin terlalu banyak bicara dan dia selalu ikut campur urusannya.
"Aku juga tahu kau masih mencarinya Dean dan sampai saat ini kau masih belum menemukannya bukan? Lalu bagaimana dengan Alexa kalau kau menemukannya?"
Dean mendengus, "Itu bukan urusanmu!"
Pria berusia 27 tahun itu hanya bisa mengikuti langkahnya dengan kesal.
Sejak kejadian terakhir kali dimana Robin selalu curiga pada hubungannya dengan Arlene dan pria itu terus mengusiknya, bahkan mendekati Sorra kakaknya hanya untuk mendapatkan informasi.
Hentakan high hill terdengar dari pintu masuk, di iringi sorot laampu yang sengaja menyorot ke arahnya, juga orang orang yang terlihat menoleh juga kearahnya, dimana seorang wanita melangkah dengan penuh percaya diri, wajahnya yang cantik dengan riasan yang tidak berlebihan serta rambut panjang hitam legam yang terombang ambing ke kiri dan ke kanan mengikuti langkah kakinya yang terlihat anggun.
Dean terperangah saat melihatnya, wajah itu, senyum itu, dua iris coklat itu membuat tubuhnya bergetar hebat. Orang yang tiba tiba menghilang tanpa jejak dan wanita yang membuatnya sulit memilih.
"Arlene?" gumamnya dengan terus memastikan jika wanita yang dia lihat itu benar benar Arlene.
Robin tersenyum ke arahnya, dia berjalan menyambutnya dengan terus menatapnya tanpa jemu.
"Akhirnya kau datang juga!" Baron meraih tangannya dan mengecupnya, sebuah tindakan yang memiliki artian jika pria itu menghormati sang wanita.
__ADS_1
"Hm ... Aku memutuskan berubah fikiran setelah sesuatu mengganggu fikiran ku sejak siang!" tukasnya dengan terus tersenyum.
"Ahh ... Aku tahu hal itu ... Bagaimana perasaan mu?"
"Aku?" Jelas saja aku ingin tertawa, juga marah ... Tapi juga sangat kasian!"
"Kau memang tidak banyak berubah Leyka!" ujarnya dengan menarik pergelangan tanganny. "Ayo bersenang senang denganku, jangan fikirkan lagi hal itu." tukas Robin yang menarik tangannya dan mengajaknya duduk dimeja bersamanya.
Dengan langkah besar dan panjang, Dean menghampirinya dengan cepat. Dia langsung mencekal lengan sang wanita yang baru saja hendak mendatarkan bokongnya di kursi.
"Arlene ... ini benar benar kau?" sentknya antara kaget dan tidak percaya. "Setelah menghilang tanpa jejak kau ada di sini sekarang? Ini benar benar kau?"
Leyka mengulas senyuman. "Maaf ... Tapi aku tidak mengenalmu!"
Dean terhenyak mendengarnya,bagaimana mungkin dia salah orang, jelas jelas wanita yang ada di depannya kini adalah Arlene.
"Dean ... Jangan mencari keributan di pestaku!! Timpal Robin yang kembali bangkit dari duduknya, "Dua bukan orang yang kau cari!"
Dean menatap tajam ke arah pria bertubuh tegap dengan tinggi hampir sama dengannya itu, "Aku sudah menduganya, kau terlibat dalam hilangnya Arlene ... kau menyembunyikannya dengan sengaja sampai polisi pun tidak bisa menemukannya." Bentak Dean dengan kesal.
"Maaf tapi aku tidak mengenalmu tuan!"
"Jangan berbohong Arlene ... karena aku mengenalmu. Aku tahu itu kau walaupun kau merubah penampilanmu, mewarnai rambutmu, bahkan jika kau mengganti semua penampilan ini." ungkap Dean demgan inintonasi yang tegas.
"Cih ... Mana mungkin! Kenapa kau mengira Leyka itu Arlene! Kau hanya mencari ribut saja ... Apa kau sangat tergila gila padanya dan baru sadar saat dia menghilang?" Cicit Robin menambah emosi.
"Haruskah aku membuktikannya Robin, jika ini benar ... Aku tidak akan melepaskanmu karena kau telah menyembunyikannya, tapi jika aku salah, aku akan pergi."
Wanita berambut hitam yang masih berada di disampingnya tertawanya bahkan sama persis walaupun Dean jangan jarang melihatnya tertawa seperti itu dulu.
"Maaf Tuan. Tapi aku merasa dilecehkan olehmu!"
Kini suaranya mulai berubah serius bahkan terkesan sangat tegas, lalu perlahan melepaskan cekalan tangan Dean.
__ADS_1
"Siapa anda sampai berhak membuktikan sesuatu berdasarkan apa yang anda tahu kalau aku ini orang yang anda kenal?"