
Arlene melangkah pergi dengan menahan marah, walau seharusnya dia memang tidak perlu marah karena dia bukan benar benar istri Dean, dia hanya berperan sebagai seorang istri saja. Namun hatinya terluka saat mereka mengobrak abrik harga dirinya, jelas dia tidak akan terima.
Dan kali ini ucapannya membuat semua wanita di mansion itu tertohok dan kaget bukan main, dia juga sebenarnya tidak bermaksud berkata kata kasar seperti itu dan pergi begitu saja.
"Mereka kurang ajar sekali! Aku benar benar muak! Pantas saja Zoya yang masih remaja pun memilih tinggal di asrama ketimbang tinggal di rumah besar berpenghuni manusia manusia picik." gumamnya dengan terus melangkah masuk ke mansion utama, memilih pergi ke kamar dan bermain dengan Arlene, ataupun tidur sekalian.
"Arlene? Kau mau kemana?"
Arlene menoleh ke arah suara, wanita anggun dengan rambut lurus sebahu datang dari pintu utama.
"Ini satu lagi nenek lampir! Munafik, sok menyapa padahal dia juga sama saja dengan yang lain." gumamnya tanpa suara.
"Apa?" ketusnya.
"Apa acaranya sudah dimulai?" Tanyanya lagi dengan tersenyum.
"Aku tidak tahu!"
"Ah ... iya, kau kan tidak berkepentingan dirumah ini!" Selena mencondongkan sedikit kepala ke arahnya, "Biar aku kasih tahu, mereka tetap akan menikahkan Dean denganku, itu artinya kau akan di depak dari mansion ini! Kau sama sekali tidak dianggap Arlene. Kasian sekali kau!" Ujarnya kembali menegakkan kepalanya kembali, mengulas senyuman lalu melangkahkan kakinya lagi.
Arlene menoleh ke arah belakang, melihat Selena yang berjalan dengan meliuk liuk bak seorang model. "Apa maksudnya? Dean akan tetap menikahinya! Lalu untuk apa dia membayarku untuk jadi istrinya jika hal itu tetap terjadi! Atau jangan jangan Dean juga belum tahu hal ini?"
Arlene mengedik tidak peduli, dia memilih kembali melangkahkan kaki menuju kamarnya, namun baru saja melangkah beberapa langkah, dia dikejutkan oleh Dean yang berlari dan menarik tangannya hingga tubuhnya memutar menjadi berhadapan.
"Apa yang kau lakukan?" sentaknya dengan menepiskan tangan Dean yang mencekal pergelangan tangannya.
"Kenapa kau pergi begitu saja?"
"Memangnya kenapa? Keluargamu sudah keterlaluan Dean, dan aku tidak terima!"
"Ayolah Arlene, kau jangan egois. Kau lupa aku membayarmu dengan sangat mahal!"
"Ya itu terus yang kau bahas! Aku tahu itu Dean, tapi bukan berarti aku tidak sakit hati dengan ucapan mereka yang bicara seenaknya mengenai aku! Mereka bahkan tidak mengenalku!"
"Kau seharusnya tidak usah melawan mereka! Kau sama saja menentang mereka Arlene,"
"Lalu aku harus diam saja saat semua orang disini menghinaku Dean?"
Dean menghela nafas, permainan yang dia rencanakan tentu saja tidak semudah bayangannya, nyatanya semua keluarganya menentang pernikahan diam diamnya, bahkan mereka tetap pada rencana awal mereka yaitu ingin Dean menikah dengan Selena.
"Harusnya kau terima saja perjodohanmu itu dan hentikan permainan bodoh ini!" Sentak Arlene kesal, dia kembali mengayunkan kedua kakinya.
__ADS_1
Dean kembali menyusulnya, dan masih berharap Arlene membantunya,
"Aku akan membayarmu dua kali lipat dari harga yang kemarin Arlene, tapi aku mohon padamu, bantu aku! Kita selesaikan semua ini."
"Sampai kapan? Hah ... sampai kapan?"
Dean terdiam, sesungguhnya dia pun belum tahu pasti sampai kapan.
"Jawab Dean sampai kapan aku akan menjadi ist---"
Dean menarik pergelangan tangannya dan membawanya masuk ke dalam toilet khusus tamu yang berada di bibir pintu perbatasan paviliun karena mendengar beberapa derap kaki mendekat.
"Apa yang kau lakukan Dean!" ujarnya saat melihat Dean menutup pintu toilet dan menguncinya.
"Dengar Arlene, aku tidak mau semua rencanaku gagal gara gara ada yang mendengar kau bicara! Dan belum saatnya aku mengatakan sampai kapan batas waktu untuk permainan ini, yang pasti aku tidak inginĀ menikahi Selena."
Arlene menghela nafas, dia menyandarkan punggungnya pada dinding toilet dengan kedua tangan yang mendekap didepan dada.
"Please Arlene!"
Arlene menatap dalam kedua manik hitam milik Dean, begitu meneduhkan, dan membuatnya tidak tega, dan tentu saja mendengar harga fantastis.
"Dua kali lipat lebih besar!" gumam Dean meyakinkan.
"Please!" Kedua tangan Dean menangkup tangannya.
"Ok ... tapi aku tidak bisa diam saja kalau mereka benar benar mengusik harga diriku Dean, aku bisa mati berdiri hanya diam dan menerima, dan kau tidak mungkin menjamin keselamatanku. Yang kau bisa hanya memberiku uang, tapi aku tahu kalau itu adalah resikonya."
"Aku juga tahu Arlene, semua orang di mansion ini menyakiti hatimu, uang yang aku berikan juga tidaklah kecil. Kau bisa menggunakannya dan bersenang senang bukan?" Dean terkekeh.
"Kau ini!"
"Ingat Arlene ... Kau juga menikmatinya bukan?"
Arlene terdiam, dia memang menikmati semua fasilitas terbaik dari mansion juga Dean.
"Kita selesaikan sandiwara ini sampai waktunya. Hm?"
"Oke Dean!" Cicit Arlene.
"thanks Arlene." sahutnya dengan menarik tubuh Arlene ke dalam pelukannya, tak lama pria itu mengurai pelukannya karena salah tingkah, "Maaf. Aku tidak bermaksud!"
__ADS_1
Arlene merapikan rambutnya seraya mengangguk, namun tiba tiba pintu toilet terbuka, keduanya sontak melihat ke arah pintu yang kini terbuka.
"Astaga ... kalian sedang apa disini?"
"Zoya!?"
"Kak Dean?" Panggilnya dengan mengulum senyuman, melihat rambut Arlene berantakan. "Apa kalian terlalu bosan melakukannya di kamar Sampai harus melakukannya di toilet khusus tamu ini?"
Arlene membulatkan kedua maniknya, dia lantas menatap Dean yang juga terlihat kikuk saat Zoya memergokinya.
Zoya berdecak, "Kalian memang ya! Sudah ada kamar masih saja cari tempat lain."
Arlene keluar lebih dulu, menyusul Zoya yang masih terkikik kikik, sementara Dean menggaruk tengkuknya yang tidak gatal menyusul paling terakhir.
"Lagi pula kakak ipar mau saja diajak kak Dean bermain di toilet!
"Zoya! Kami hanya...!"
"Tidak apa apa kakak ipar, aku tidak akan membocorkan rahasia ini pada siapa pun!" ujarnya dengan merekatkan bibirnya lantas terkekeh.
Keduanya kembali ke paviliun belakang dimana semua orang berkumpul, Dean yang berjalan paling belakang, diam diam memperhatikan punggung Arlene, bayangannya kembali pada punggung putih milik Arlene yang tidak sengaja dia lihat saat di pertemuan pertamanya dulu.
"Dean ... mereka sudah menunggumu dari tadi! Kenapa lama sekali."
Selena berjalan kearah mereka, mengabaikan Arlene yang bahkan berjalan lebih dulu bersama Zoya, bahkan dia melewatinya begitu saja.
"Ayo ... kau tidak ingin membuat mereka lebih lama menunggu kita bukan?" Ucapnya lagi dengan melingkarkan tangan di lengan Dean.
"Maaf Selena! Aku akan pergi kesana dengan Arlene, kau duluan saja!" Dean menepis tangan wanita berambut sebahu itu dari lengannya.
"Tapi Dean...?"
Dean melangkah lebih cepat, dia menggenggam tangan Arlene lalu berjalan, "Ayo sayang!"
Zoya menoleh ke arah belakang, dimana Selena menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal.
"Kasihan!" Ujar Zoya lalu kembali mengayunkan kedua kakinya menyusul kakak dan kakak iparnya yang telah lebih dulu.
Selena mengepalkan tangan, "Iihhhhkkk ... ini semua gara gara si Arlene jalangg itu! Lihat saja, aku akan membuatmu menyesal!"
.
__ADS_1
.
Seru gak seru gak ... Si Arlene ngapain ngambek segala yaa ... Selow aja padahal wkwkw