Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.26


__ADS_3

Sorra mengerdik, tak peduli pada Arlene yang masih berdiri di hadapannya. Dean yang tengah menggendong Alleyah pun menarik Arlene untuk segera duduk.


"Tidak usah hiraukan dia Arlene, dia hanya iri padamu." tukasnya mendelik ke arah kakak perempuannya.


"Kau tidak usah banyak bicara, semua ini gara-gara kau yang membawa penyakit dengan menikahi manusia ini!" sentak Sorra pada sang adiknya dengan menunjuk ke arah Arlene.


"Ayolah Sorra. Kau ini kenapa selalu mengurusi masalah hidupku, harusnya kau segera mencari pasangan agar tidak mengganggu kehidupan orang lain!"


Debora mendengus kesal, dia menyentuh lengan Sorra untuk menghentikan perdebatannya karena Miranda tengah berjalan masuk kedalam ruang makan. Miranda datang, dia langsung duduk di tempat biasa tanpa mengatakan apa-apa, wajahnya dingin dan juga datar seperti biasanya.


Alleyah yang tiba tiba merengut bersembunyi diceruk leher Dean saat melihat Miranda duduk, mungkin anak balita itu masih mengingat kejadian semalam atau entahlah. Mengingat apa yang dilakukan Miranda pada putrinya, Arlene sedikit berdehem dan bersiap siap dengan ucapan yang akan dia katakan padanya.


"Nenek ... Terima kasih, atas apa yang sudah Nenek lakukan pada Putriku semalam, demamnya langsung turun da---"


"Tuang buburnya!" titah Miranda dingin, mengacuhkan ucapan terima kasih dari Arlene.


Debora dan Sorra tersenyum dalam diam, mulai mengangkat sendok sendok mereka dengan saling melirik senang.


Mereka sarapan dalam keadaan sunyi, wajah wajahnya terlihat sudah datar dan menyuap dengan serius. Sedikitpun tidak ada yang membahas kejadian semalam atau hanya sekedar bertanya keadaan Alleyah saat ini.


"Jangan kira karena aku melakukannya, lantas aku mengijinkan pernikahan kalian. Keputusanku tetap sama, jadi tidak perlu mengatakan terima kasih!"


Tegas dan lugas seperti biasanya dan bahkan terkesan tidak peduli semua yang dikatakan Arlene. Arlene terdiam, dia sebenarnya tidak juga peduli, hanya saja Dean menyikutnya pelan. Entah apa yang ingin disampaikan oleh Dean.


Sorra dan ibu nya bersorak dalam hati, terlihat bibirnya lebih melengkung dari sebelumnya. Mereka senang dengan keputusan sang pemilik kekayaan yang tidak goyah sedikitpun. Tatapan merendahkan dan mengintimidasi dari keduanya yang menyorot tajam.

__ADS_1


"Keputusan Nenek yang tidak masuk akal itu juga tidak akan merubah keputusanku, aku tidak bisa menikah dengan orang yang tidak aku cintai, terlebih saat ini aku sudah memiliki mereka." terang Dean dengan memeluk Alleyah dan menggenggam tangan Arlene dengan erat.


Membuat Miranda kaget, sudah tentu. Bahkan ibu dan saudaraya sekalipun yang ikut kaget, Arlene menggigit bibir bagian bawahnya sedikit, menahan hatinya yang tiba tiba menghangat karena ucapan Dean yang menyentuh, seolah situasi ini benar benar terjadi padanya.


"Dean!" sentak Debora.


"Maaf bu, aku tetap pada keputusanku sendiri." Dean masih memeluk Alleyah yang masih betah dalam gendongannya.


Perdebatan mereka terhenti sejenak saat Zoya yang riang masuk ke dalam ruangan dan langsung menyapa semua orang yang tampak tegang itu.


"Maaf, aku terlambat lagi pagi ini," ujarnya yang langsung mengusel kedua pipi gembil Alleyah. "Lucunya..." desisnya kemudian.


Alleyah meronta ronta saat melihat Zoya, kedua tanganya menggapai gapai ke arahnya dan minta digendongnya, Zoya yang sudah duduk kini kembali mengangkat bokongnya lagi dan hendak menggendong Alleyah.


"Biarkan dia Zoya ... Makanlah sarapanmu, ada ibunya di sini, biarkan dia yang mengurusnya." sentak Miranda dengan suara keras, mulutnya tajam setajam tatapannya pada gadis berusia 18 tahun itu. Membuatnya terdiam lesu dan kembali duduk.


Dean sudah muak pada perlakuan keluarganya yang terus memaksakan kehendak mereka padanya. Arlene ikut bangkit dan sedikit membungkuk sedikit ke arah Miranda sebelum pergi menyusul Dean yang melangkah lebih cepat darinya.


Mereka berjalan kembali ke kamar, dengan Dean yang masih belum bicara apa apa, pria itu hanya diam sampai mereka masuk ke dalam kamar.


"Berikan Alleyah padaku, kau pasti pegal." ujar Arlene dengan mengambil putrinya dari pangkuan Dean.


Keduanya masih terdiam tanpa kata, hanya saling melirik saat suara celotehn Alleyah terdengar diantrra kesunyian keduanya.


"Dean ... apa aku bisa bicara berdua saja dengan nenekmu?" tukas Arlene tiba tiba.

__ADS_1


"Untuk apa?" lirihnya, "Tidak akan bisa mengubah keputusannya Arlene, mungkin aku akan memilih pergi saja dari mansion ini jika mereka terus memaksa." lirihnya lagi.


"Kita belum mencobanya, siapa tahu akan berubah jika kita bicara baik baik dengannya, mungkin nenekmu saja tidak tahu alasan apa yang membuatmu tidak bisa menerima keputusan mereka yang akan menikahkanmu dengn Selena." terang Arlene.


Dean terdiam, kemudian meraup wajahnya dengan kasar lalu bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam kamar mandi tanpa mengatakan apa apa.


Wanita berusia 24 tahun itu menghela nafas, ingin sekali dia membantunya dengan bicara pada Miranda tanpa melibatkan Debora dan juga Sorra yang jelas jelas paling menginginkan pernikahan Dean dan juga Selena terlaksana. Walaupun dia sendiri tidak tahu apa yang bisa dia katakn pada Miranda akan membuaatnya berubah fikiran, terlebih dia sendiri tidak tahu apa yang jadi alasan utama Dean menolak pernikahannya.


Tak lama Dean keluar dari kamar mand dengan wwajah yang tampak lebih segar, namun tidak menutupi keadaan yang sebenarnya, kalau saat ini fikirannya jelas saja kacau, pria berlesung pipi itu langsung merebahkan dirinya di atas ranjang tanpa peduli lagi pada rencana Arlene.


Arlene keluar dari kamar setelah memastikan putrinya tertidur, begitu juga dengan yang sepertinya juga sudah tidur. Arlene berjalan sendirian menuju taman yang berada di samping paviliun belakang, menghirup udara segar dimalam hari yang dapat menenangkan.


Langkah Arlene terhenti saat melihat Miranda yang tengah duduk di kursi, menatap ke arah taman tanpa kedip.


Lamat lamat Arlene memberanikan diri untuk menghampirinya, dia tidak mungkin kembali berbalik arah karena asisten pribadi Miranda sudah lebih dulu melihat ke arahnya.


"Nenek ...?"


Miranda terdiam, walau Arlene yakin jika dia mendengar sapaan memanggilnya. Pandangannya tetap lurus ke depan, entah apa yang dia lihat saat itu.


"Pergilah, aku tidak ingin bicara apapun denganmu!"


.


.

__ADS_1


Apa kisah mereka ini gak seru? Sepi amat di sini wey ....


__ADS_2