
Arlene mengerdikkan kedua bahunya. "Tidak ada."
Maaf Dean, aku tidak mungkin mengatakan semuanya padamu. Semua ini memang kesalahanku tapi aku juga ingin kau merasakannya. Entah kenapa aku ingin membalas perbuatanmu dan juga keluargamu. Tapi setelah melihatmu sekarang apa aku bisa setega itu melakukan semuanya padamu. Batin Arlene.
Dean terus menatapnya dengan menunggu jawaban yang akan dia dengar dari mulut wanita berusia 25 tahun itu. Namun Arlene tidak ingin menjawabnya.
"Aku tahu kenapa kau tidak bisa menjawab pertanyaanku ini Arlene, kau tidak tega dengan ku kan?sebenarnya kau ingin membuatku sangat menyesal tapi kau tidak bisa bukan." Dean menggenggam tangannya. "Apa itu cinta Arlene? Aku bisa melihatnya di matamu, apa karena kau menerima bantuan Robin selama ini? Apa dia ada hubungannya dengan ini?"
Lagi lagi Dean menebak nebak dan tebakannya tepat sekali. Arlene terdiam membisu, entah apa yang harus dia katakan.
"Aku mengenal Robin sejak dulu, bahkan sejak kami masih sama sama kuliah di luar negeri. Dia tidak pernah puas dengan pencapaiannya dan selalu iri dengan kesuksesan orang lain, terlebih padaku, dia juga telah mempermainkan Sorra karenaku, itu sebabya aku selalu marah padanya apalagi saat tahu kau bersamanya sekarang."
"Dean! Jangan memfitnah orang lain, Robin itu baik dan dia lah yang menolongku malam itu, kau tahu jika tidak ada dia entah bagaimana nasibku sekarang. Mungkin Alleyah juga tidak ada di sini sekarang, Robin jugalah yang banyak membantu hidupku, dia bahkan percaya aku bisa bekerja di kantornya dan memimpin sebuah tender besar. Kau tahu itu tidak benar jangan bicara hal buruk tentangnya karena aku tahu seperti apa dia." ujar Arlene dengan bangkit dan berjalan ke arah pintu masuk dimana Alleyah tengah asik bermain bola.
"Alleyah .. Kita pulang sayang!"
"Tunggu Arlene. Aku belum selesai bicara."
"Sudah tidak ada lagi yang harus kita bicarakan Dean, aku harus pergi. Terima kasih untuk semuanya, tapi setelah ini aku mohon padamu tidak perlu lagi kau temui putriku. kau bukan ayahnya dan kau tidak akan pernah jadi ayahnya. Aku akan menikah dengan Robin dan dialah yang akan jadi ayah sambung Alleyah."
Dean mencekal lengannya dengan keras, hingga tubuh Arlene berputar ke arahnya.
"AKu tidak akan membiarkan hal itu terjadi, aku akan tunjukkan seperti apa Robin sebenarnya."
Arlene membawa Alleyah keuar dari tempat pemainan itu, dia juga mengambil tas dan perlengkapan lainnya yang tersimpan di atas meja. Dan Dean langsung menyusulnya dengan berusaha menghentikan langkahnya.
"Tunggu aku Arlene ... Biarkan aku selesaikan pembicaraanku, kau tidak bisa seperti ini tanpa tahu dengan jelas."
Arlene trtap melangkah akan kakinya, dia tidak menggubris ucapan Dean dan lagi lagi hanya Alleyah yang tidak mengerti dengan apa yaang terjadi dari kedua orang dewasa itu. Sampai Arlene tiba di depan mobilnya. Dia langsung masuk ke dalam mobil dan segera melaju.
"Mama .. jangan marah lagi! Bicarakan rahasia kalian berdua seperti kemarin." celetuk Alleyah.
Arlene tersentak kaget, dia menoleh sekilas ke arah sang putri. "Apa yang kau tahu tentang kemarin. Mama dan Papa DEan tIdak ada rahasia."
__ADS_1
"Jangan bohong, aku tahu rahasia orang dewasa yang selalu bicara diam diam di dalam kamar dan tidak membiarkan aku masuk, kamar juga di kunci dari dalam." Celetuknya lagi membuat sang ibu terperangah.
"Alleyah kau tahu dari mana jika kami bicara rahasia?'
"Kata papa orang dewasa selalu melakukan hal seperti itu tanpa ingin melibatkan keluarganya termasuk anaknya sendiri. Dan itu adalah hal biasa." terangnya.
Lagi lagi Dean yang menjelaskan hal seperti itu pada anak yang dapat dengan mudah menyerap semua informasi dengan mudah.
"So please jangan marah lagi sama papa."
Arlene terdiam lalu memeluk putrinya dengan erat.
"Apa mama tahu aku sedih? Aku melihat uncle Robin mengantarkan seorang teman ke sini." tunjuknya pada saat mobil yang di lajukan sang ibu melewati sebuah hotel berbintang lima. "Rambutnya panjang dan bajunya seksi, aku tidak melihat wajahnya dengan jells tapi dia memakai tas yang mirip dengan punya mu." celoteh Alleyah membuat Arlene terperngarah.
"Benarkah? Mungkin kau salah lihat."
"Aku sudah tahu Mama tidak akan percaya! Tapi aku melihat Lion di belakang, Lion yang aku tempelkan." ujarnya dengan membuat Ibunya percaya. "Dan Papa juga bilang semua orang sering mengantarkan seorang teman, tapi aku tidak pernah melihatmu di antarkan oleh temanmu. Apa Mama benar benar tidak punya teman? Sus kalau ajak aku jalan jalan sore dan bertemu seseorang yang memakai baju yang sama dengan sus, dia juga bilang itu temannyaa. Tapi dia tidak pernah mengantarkaan sus pulang. Apa hanya teman laki laki yang harus mengantarkan temannya yang wanita?" tanyanya dengan polos.
Arlene masih terdiam mencoba mencerna ucapan sang putri yang kerap sulit di mengerti maksudnya. "Maksudmu teman laki laki yang hanya mengantarkan, jadi sama halnya dengan uncle Robin yang mengantarkan teman perempuannya sementara teman perempuan jarang mengantarkan temannya seperti sus?"
"Mungkin uncle Robin memang mengantarkan temannya pulang, sampai dia terlambat ke kantor dan meninggalkan meeting penting. Membuat orang menunggu saja" cicit Arlene yang terus melajukaan mobil seraya terus berfikir.
Arlene kau tidak tahu seperti apa Robin, dia itu brengsekk. aku tidak akan membiarkan kau menikah dengannya.
ucapan Dean kini terus terngiang ngiang di telinganya, membuatnya sedikit ragu dann juga penasaran siapa yng diantarkan oleh Robin, Apa Sorra ada di kota ini? Apa mungkin dia. Tapi kalau Sorra Dean pasti tahu soal itu dan tidak akan membiarkan Sorra pergi dengannya, lagi pula kenapa sepagi itu ke hotel, pasti wanita itu tinggal sementara di hotel. Batinnya bicara.
Maaf Arlene ... Aku terlambat bangun karena kelelahan semalam. Kini ucapan Robin yang terus berputar di benaknya.
Arlene pun menghela nafas dengan mempercepat laju kendaraannya. Sampai tak berselang lama mereka tiba di rumah. Rumah asri yang di tinggali selama berada di kota ini.
"Cuci tangan dan kakimu, jangan lupa ganti pakaianmu sayang." ujar Arlene yang mematikan mobil
"Kakak ipar?"
__ADS_1
Arlene tersentak kaget saat mendengar seseorang yang memanggilnya seperti itu, seorang gadis berlari ke arahnya dengan gembira, wajahnya terlihat berseri dengan bibir yang melengkung sempurna
Arlene membuka pintu mobil dan menoleh ke arah belakang.
Bruk!
Baru saja menoleh sebentar, tubuhnya sudah di tabrak dengan keras. Tanpa dia sangka gadis itu sudah berada tepat di belakangnya dan langsung berhambur memeluknya.
"Astaga ... Zoya?"
"Aku merindukanmu kak. Kenapa kau jahat sekali, kau hilang di telan bumi dan aku baru tahu kau tinggal juga di kota ini, jahat! aku bahkan tidak bisa kembali ke asrama karena mu."
Arlene masih terdiam dengan kedua mata yang mengerjap ngerjap menatap adik dari Dean itu, satu satunyaa orang yang memperlakukannya dengan baik saat tinggal di mansion.
Dan Zoya terlihat antusias saat melihat gadis kecilyang berjalan ke samping ibunya dengan terus menatapnya datar.
Grep
"Astaga ... Siapa ini? Apa kau bayi bapau ku. Kau sudah tinggi dan besar, kau juga cantik. Hm?" ujar Zoya yang langsung menggendong Alleyah.
"Turunkan aku, aku sudah besar dan aku tidak mau di gendong!!"
"Hah ... Lihat itu! kakak ipar kau dengar, bayi ini sekarang sudah bisa bicara?"
Arlene yang merasa yakin jika Dean yang menyuruh Zoya datang, dia pun hanya mengulas senyuaman padanya.
"Ya ... Aku sudah besar karena diberi makan jadi turunkan aku!"
"Baiklah ... Bayi yang sudah besar, apa kabar hm? Kau ingat aku tidak?" tukas Zoya yang berjongjok agar tinggi tubuhnya sejajar dengan tinggi tubuh Alleyah.
Alleyah terdiam, dia merasa lupa lupa ingat.
"Unty Zo ... Ingat?"
__ADS_1
"Zoya. Sedang apa di sini? Apa Dean yang menyuruhmu untuk datang kemari dan menemuiku agar aku luluh padanya?"