
Tidak ada jawaban dari Dean, pria itu juga tidak merasa wajib menjelaskan apa apa pada wanita yang dia bayar untuk berperan jadi Istrinya.
"Dean...?" Arlene benar benar di uji olehnya.
"Sudahlah ... aku membayarmu bukan untuk bertanya! Tapi untuk membantuku menentang mereka. Kau pahami itu Arlene! Dan terus lah bersikap seperti tadi, aku suka melihatnya! Bagaimana pun juga aku tidak ingin menikahi Selena." ujar Dean sambil berlalu dengan kedua tangan yang dia sembunyikan di dalam saku.
"Heh ... kau gila! Apa aku terus terusan harus terlihat marah dan tidak terima jika suamiku dijodohkan dengan orang lain?" teriak Arlene, namun Dean hanya mengerdik tanpa menoleh sedikitpun. Dia terus berjalan keluar dari paviliun dan meninggalkan Arlene.
"Kurang ajar! Lama lama dia membuatku muak. Aku harus marah marah seperti orang gila sementara dia saja tidak bernyali. Hanya diam seperti patung saat nenek Miranda bicara." gerutunya dengan menendang kaki kaki meja makan.
"Kak Arlene!"
Tak lama dia dikagetkan oleh suara Zoya yang menggelegar dari arah belakang dengan memanggil namanya. Arlene menoleh, dia sangat takut jika Zoya mendengar gerutuannya.
"Zoya. Kau disini?"
"Hm ... Apa yang terjadi kak? Ku lihat semua orang keluar dengan dahi yang mengkerut! Mereka marah marah. Apalagi Sorra." ujarnya dengan bergidig.
"Ya baru saja terjadi keributan." jawab Arlene dengan mendudukkan dirinya di sofa. Menatap kolam ikan yang terletak di depannya. Ikan koi berukuran tidak jauh besarnya dari Alleyah berenang kesana kemari.
"Pasti Selena! Semenjak dia datang. Rumah ini selalu ribut ribut terus. Semakin membuat aku tidak betah tinggal di sini."
__ADS_1
Arlene menoleh, "Nenek mu tetap akan menikahkan kakak mu Dean dengannya, dan memaksanya meninggalkan aku dan juga Alleyah, Zoya!"
"Astaga! Benar begitu?"
Arlene mengangguk dengan memasang wajah sedih, kembali berperan sebagai istri yang tidak rela, "Dan kakak mu sepertinya tidak bisa menolak perjodohan itu!" cicitnya lagi.
"Yang sabar yaa kak ... aku akan terus mendukung kakak ipar." Zoya mengelus bahu Arlene dengan lembut.
Hanya kau Zoya yang mendukung sandiwara ini, kekuatanmu tidak cukup kuat melawan mereka semua. Ya tuhan ... Ternyata ini tidak mudah. Batin Arlene.
"Kira kira kenapa keluargamu bersikeras menjodohkan Dean dengan Selena, dan tetap tidak menyetujui pernikahan kami?" tanya Arlene. Dia memang penasaran karena Miranda bersikeras mengenai rencana pernikahan Dean dan Selena.
"Aku juga tidak tahu kak! Tapi .... Mungkin kare---"
"Pergilah Zoya ... jangan membuat ibumu marah." gumam Arlene. Dia tidak habis fikir bahkan Zoya yang tidak terlibat apapun dalam urusan orang dewasa itu dilarang dekat dekat dengannya.
"Ibu apa apan sih!"
Arlene mengelus bahunya lembut, "Pergilah ... jangan menunggu ibumu semakin marah."
"Maaf kak ... Zoya pergi dulu ya!"
__ADS_1
Arlene mengangguk, lalu melambaikan tangannya pada Zoya yang keluar dari ruangan itu. Mengikuti gerak tubuhnya yang terus berjalan menghampiri sang ibu.
"Zoya ... berkali kali Ibu peringatkan jangan dekat dekat dengannya, kau ingin membuat nenekmu semakin marah? Dia sudah marah pada kakakmu Dean, kau jangan ikut ikutan membuat ulah hanya karena dia."
Ucapan Debora saat anak bungsunya itu tiba jelas terdengar oleh Arlene, atau mungkin saja Debora memang sengaja mengatakannya dengan keras agar terdengar, yang pasti Arlene hanya menatapnya dengan santai.
"Kenapa sih Bu? Padahal kakak ipar itu baik, bahkan lebih baik dari pada Selena." Zoya menghentakkan kaki lalu melangkah meninggalkan ibunya.
"Astaga ... Zoya! Pelankan suaramu! Kau ingin orang lain mendengar perkataanmu itu?"
Zoya terus melangkah, dibelakangnya menyusul Debora, mereka masuk ke mansion dengan menggerutu.
"Memangnya kenapa! Biarkan saja kalau ada yang mendengarnya. Memang itu kenyataannya kok." timbal Zoya dengan mengerdikkan bahunya, berbeda dengan Debora yang mendengus lalu menarik lengan putrinya itu agar melangkah lebih lambat.
Sementara Miranda yang kini hanya berdiam di kamar tanpa ingin keluar lagi. Dia memang kecewa karena Dean. Rasanya baru sekarang cucu laki lakinya itu melawan padanya, bahkan tidak memperdulikan ucapannya, dan melihat dengan jelas bagaimana sikap Arlene.
"Nyonya ..., kau membutuhkan sesuatu?" tanya asisten pribadinya yang ikut bingung karena sejak tadi Nyonya besar di mansion itu hanya diam saja.
Miranda terdiam, setelahnya dia bangkit dan menghadap ke arah depan. Tatapannya dingin dengan bibir terkatup rapat, menggenggam erat tongkat yang selama ini membantunya berjalan.
"Pergilah ... Periksa berkas berkas pernikahan mereka!"
__ADS_1
.
.Waduh gawat yaa ... Mana Dean sama Arlene masih ribut soal pembayaran, lupa apa ya mereka kalau nenak Mira itu misterius banget. Gawaaat ... Othor kabuurrrrrr ahh...