
Alexa tentu saja terperangah mendengarnya, dia langsung mengurai pelukannya dan mundur satu langkah ke belakang.
"Sayang, kau tahu aku sedang tour Eropa tahun ini, dan aku hanya minta izin tiga hari untuk bisa kemari dan kau tahu itu pun sangat sulit, bukankah kita sudah sepakat sayang? Kita akan menikah setelah aku selesai tour. Tolonglah." tukasnya dengan menatap nanar kearahnya.
"Tapi....!"
"Bukan kah kau juga belum mendapat restu sepenuhnya dari nenekmu itu. Kau bilang dia ingin kau menyelesaikan tugasmu dulu di sini bukan?"
"Ya ... aku tahu itu. Tapi aku juga tidak ingin kita terus seperti ini," jawabDean dengan menatapnya nanar.
Aku tidak ingin terus seperti ini Alexa, aku mencintaimu tapi yang aku fikirkan hanya Arlene, dan ini sangat menyiksa. Aku ingin berhenti dengan segera, dan menikah denganmu mungkin menjadi jalan satu satu agar aku tidak memikirkan Arlene lagi. Batin Dean.
"Bersabarlah sayang, hanya tinggal berapa bulan lagi dan aku juga tidak bisa mengajukan cuti jika masa kontrak ku belum habis." terangnya dengan mengusap pipi Dean.
Dean hanya bisa menghela nafas panjang, lagi lagi dia selalu tidak bisa menolak perkataan yang di ucapkan oleh kekasihny itu.
"Kau tinggal dimana sekarang?" tanyanya kemudian,
"Aku di hotel dekat sini, bersama satu temanku yang juga datang kemari untuk urusan bisnis. Kenapa, kau ingin mengajakku tinggal di apartemenmu?" ALexa terkekeh.
"Bukan begitu, maksudku tidak ... kita tidak bisa tinggal bersama karena kita belum menikah." Dean membalikkan tubuhnya dan kembali duduk di kursi kekuasaannya, tak lama Alexa mengikutinya dengan duduk di pangkuannya.
"Ayolah sayang, bukankah kau bilang kau merindukan aku?" ujarnya dengan melingkarkan kedua tangan pada lehernya
"Tolong jangan seperti ini Alexa, aku sedang bekerja dan bagaimana kalau nanti ada yang melihat kita." Dean melepaskan tangan Alexa yang kini mengusap tengkuknya dengan lembut.
Gadis cantik berambut panjang itu mengulas senyuman, "Kau masih malu malu saja Dean, kita sudah tambah dewasa sekarang kenapa tidak mau bersenang senang sedikit saja. Jangan kaku seperti ini terus dong."
__ADS_1
Dean mendooong bokong Alexa hingga dia kembali berdiri, "Alexa ... Aku tahu kau sekarang seorang model terkenal di kancah internasional, tapi tolong jaga sikapmu, apa kau juga seperti ini pada pria lain di luar sana?"
"Hati hati bicara Dean sayang, kau sedang menuduhku ... Aku tidak pernah melakukan hal ini dengan pria mana pun saat aku bekerja, jangan jangan kau yang seperti itu." ujarnya menohok.
Dean tentu saja terdiam mendengarnya. Bagaimana tidak, dia pernah tidur satu ranjang bersama Arlene, dia juga pernah menciumnya dan menikmatinya, dia pernah bersikap agresiff pada nya, dia juga pernah...
Aaah ... Sial, kenapa aku terus mengingat Arlene ... ! Batinnya yang ikut kesal sampai dia merkatkan giginya sendiri.
"TIdak ... Aku tidak penah melakukannya!"Jawabya dengan tegas, walau dia tahu jika itu adalah kebohongan besar.
Alexa tersenyum, kembali mendekatinya namun kali ini dia tidak nekat duduk di pangkuannya, dia hanya berdiri saja di samping meja.
"Aku selalu percaya padamu Sayang, begitu juga denganmu yang harus percaya padaku ya!"
Dean mengangguk, meraih tangannya dengan rasa bersalah yang dia rasakan sendiri kemudian mengecupnya dengan lembut.
"Maaf aku tidak bisa, nanti malam aku juga ada acara!"
"Benarkah? Apa itu..."
"Perusahaan xx mengundangku ke acara perusahaannya dan itu akan snagat membosankan, bagaimana kalau kau yang ikut denganku saja. Hm?"
"Hmmm ... " Alexa tampak berfikir dengan memegang dagunya yang lancip, sementara satu tangannya yang lain tengah merekat dengan jemari Dean.
Meraka berdua memang terlihat sangat menggemaskan, juga saling mencintai.
"Sepertinya acaramu lebih menarik, baiklah ... Aku memutuskan pergi bersamamu saja dibanding berpesta dengan teman temanku."
__ADS_1
"Good girl ." ujar Dean dengan kembali mencium tangannya.
"Tapi aku tidak punya pakaian yang pantas, bagaimana ini?"
"Kau ingin pergi ke suatu tempat untuk membelinya?" Dean mengeluarkan kartu hitam miliknya dari dompet.
Melihat benda sakti tanpa batas itu tentu saja Alexa girang bukan main. Dia mengambinya dari tangan Dean yang mendekapnya di dada.
"Tentu saja sayang, kau memang paling mengerti, bagaimana kalau kita pergi sekarang saja?" Alexa terkekeh manja.
"Tentu sayang ... Anything for you!"
Keduanya akhirnya keluar dari ruangan milik Dean, pria itu pun sedikit lupa tentang Arlene ynag sejak tadi mengganggu fikirannya. Melihat Alexa membuatnya senang dan lupa segalanya.
Keduanya berjalan ke arah lift dan berpapasan dengan Rayi yang tengah berjalan ke arah sebaliknya, pria itu pun mengernyitkan dahi saat melihat wanita cantik yang berjalan dengannya. Juga raut wajah Dean yang sudah berubah dibandingkan sebelumnya.
"Rayi. Siapkan semuanya untuk nanti malam,"
"Nanti malam?" kedua mata Rayi tidak lepas dari menatap ke arah Alexa.
"Ya ... Nanti malam, jangan bilang kau lupa kita ada undangan!"
Rayi mengerjap, "Ah ... undangan itu, ku fikir kau tidak ingin datang, baiklah akan aku siapkan semuanya." Rayi mengulas senyuman ke arah Dean, seolah sedang menunggu jawaban siapakah wanita yang bersamanya kini. walaupun dari caranya berdiri dan berjalan saja dia sudah bisa menduga jika cara itu hanya dilakukan oleh seorang model saja. Dan sudah pasti dugaan benar.
Dean faham jika Rayi sedang bertanya tanya sendiri, dia pun mengulas senyuman.
"Jangan heran seperti itu Rayi, dugaanmu benar. Dia calon istriku yang aku ceritakan padamu!"
__ADS_1